
Abimanyu sudah menyangka ini neraka, tapi tak pernah ia sangka akan sepanas ini. Sebelum menikahi Sakura, memang Abimanyu jarang mendatanginya kecuali sesekali. Abimanyu lebih banyak bermain dengan perempuan lain, terutama Olivia.
Tapi Abimanyu selalu datang pada Sakura untuk memuaskan 'dahaga'nya akan Juwita.
Sekarang itu tidak terasa lagi. Sementara perempuan itu tidur lepas aktivitas sek-sual yang menurut Abimanyu sangat tidak memuaskan juga membosankan, Abimanyu beranjak pergi. Merokok di lapangan tempatnya sering bermain voli dulu dan mengeluarkan ponselnya.
"Abimanyu, lo ngerti orang normal tidur pas tengah malem enggak?" Begitu ucap Olivia saat dia menjawab video call Abimanyu. "Besides lo ngapain nelfon gue, hah? Urus bini lo."
"Can you come, please? I really need you." [Bisa ke sini? Gue butuh.]
"What?!"
"C'mon, Olivia."
Satu setengah jam kemudian Abimanyu meninggalkan rumah, pergi menemui Olivia yang menghentikan mobilnya di dekat warung sate depan kompleks.
Abimanyu masuk ke mobilnya, tak basa-basi mencium Olivia untuk melampiaskan rasa bosan dan muaknya.
"Oh, are you kidding me?" Olivia mengeluh tapi tak mendorong Abimanyu menciumi tubuhnya. "Serius, Abimanyu, ngapain lo nikah kalo lo masih kayak gini?!"
"Kapan gue bilang mau nikah buat berubah?" Abimanyu mencium bibir Olivia seolah tak ada hari esok baginya. Ia bahkan tak mencium Sakura seperti ini.
Olivia mendorong Abimanyu saat tangan pria itu menyusup di antara kakinya.
"Stop it, dude. Seriously you gotta stop it."
__ADS_1
Abimanyu mengerutkan kening. "Stop for what? Lo juga suka."
"Stop ngelampiasin ke orang-orang seakan-akan mereka yang harus tanggung jawab soal whatever masalah lo, Bi."
Olivia mengerutkan kening jenuh. "Look, Abimanyu. Ini bukan soal gue suka mau gue jadi selingkuhan lo atau apa pun. Ini soal lo kayak orang bego, tau enggak."
Abimanyu menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi, tertawa mendengar ucapan Olivia. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan rokok agar setidaknya bisa dihibur oleh sesuatu yang tidak banyak bicara.
"Yah, that is exactly what I mean. Tiap kali lo marah, lo ngeluarin rokok, terus ngisep seakan-akan masalah lo kelar."
"Terus lo mau nyuruh gue tobat karena gue udah nikah? Gitu?"
"Fvck it, Abimanyu. Ambil yang lo mau." Olivia mengacak rambutnya frustrasi. "Kalo lo suka sama cewek yang enggak suka sama lo, ya lo perjuangin dia sekalian! Abisin waktu lo ngemonyet ngejar dia daripada ngelampiasin ke orang-orang yang enggak ada hubungannya!"
"Terus ngapain lo masih di sini, manggil gue? Ngapain juga lo nikah kemarin? Itu namanya ngelampiasin."
"Juwita."
"Hah?"
Asap mengepul dari mulut Abimanyu saat ia maju, meniupkan asap itu ke bibir Olivia. "Gue suka Juwita, nyokap tiri gue. Yes, kejar dia kayak monyet, gitu?"
Ekspresi Olivia mau tak mau menjadi kosong.
"Kenapa? Mau ngubah ceramah lo jadi 'masih banyak cewek lain buat move on'. Basi, anjing."
__ADS_1
Olivia menipiskan bibir. Menyambar rokok Abimanyu untuk ganti mengisapnya dan melakukan hal sama persis seperti Abimanyu, melampiaskan.
"Nyokap lo bukannya udah sama lo dari lo SMA? Anaknya tiga, sodara lo."
"Funny, huh?" Abimanyu tertawa dengan kesan yang justru menyiratkan luka. "Gue mesti gimana buat dapeti dia? Menurut lo gimana, Liv?"
"...." Olivia mau tak mau memang ingin bilang dari semua perempuan, kenapa harus Juwita?
Tapi Olivia tidak mengatakannya sebab Abimanyu pasti akan semakin mengumpat.
"This is crazy," gumam Olivia setelah sekian lama diam.
"Crazy?" Abimanyu mendengkus. "Orang yang enggak ngerasain punya mulut enteng ngebacot."
Pantas saja dia selalu memasang wajah marah. Dia kesal pada situasinya sendiri dan bertahun-tahun tak tahu harus melakukan apa.
"Terus nyokap tiri lo tau lo suka sama dia?"
Abimanyu tidak menjawab, tapi malah menatap Olivia intens. Tangannya terulur pada wajah Olivia, menarik dagunya hingga napas mereka beradu.
"You know what?" bisik Abimanyu. "Kalo ada tawaran gue boleh milikin dia semenit sebelum gue mati, gue rela mati jutaan kali."
Olivia tidak punya alasan lagi menolak ciuman Abimanyu, juga hal lainnya.
*
__ADS_1