Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
119. Paling Akrab Ia Temui


__ADS_3

Ria sudah diperingati oleh suaminya buat tidak ikut campur urusan keluarga Adji, sekalipun anaknya Adji menumpang di rumahnya secara gratis.


Memang tidak seperti keluarga lain, keluarga Ria tidak mau terlalu ikut campur dan justru menyakiti perasaan Adji dan keluarganya.


Tapi waktu mendengar kabar Juwita meninggalkan rumah, mau tak mau Ria jadi terdorong ikut campur.


Wanita itu datang ke belakang Abimanyu, menepuk-nepuk punggungnya. "Pulang dulu, Nak. Kasian orang tuamu khawatir. Besok-besok main lagi ke sini."


Abimanyu cuma diam, tapi pelan-pelan dia beranjak, masuk ke kamar yang dia tempati buat mengambil semua barang-barangnya lagi.


"Aku minta maaf ngerepotin, Dek." Adji merasa harus mengatakan itu pada sepupunya tersebut.


"Iya, Mas. Enggak pa-pa. Kamu yang sabar, yah."


Ria mengusap lengan Adji prihatin.


"Aku tau enggak enak banget diomongin sama yang lain, apalagi sama Tante Sarah sama Tante Putri. Tapi yah, namanya keluarga, Mas. Ada jeleknya juga."


Adji mengangguk, memang sudah tahu itu.


Kalau Adji mau, sudah dari kapan tahun ia putus semua hubungan kekeluargaan itu dengan pindah ke negara yang mustahuk dipijak oleh mereka semua—keluarganya.

__ADS_1


Namun Adji diam, sabar, sebab keluarga ya keluarga.


Sekalipun mereka membicarakan Adji hal buruk, mengatakan hal menyakitkan tentang anak dan istrinya, Adji berusaha sabar sebab darah mereka masih berasal dari nenek yang sama. Apalagi Oma Putri, yang merawat Adji sejak dulu.


Utang budi tidak bisa Adji lupakan.


"Tapi, Mas, istrimu ...."


"Aku mau semua orang tenang dulu. Sisanya serahin sama Yang Di Atas."


Adji tidak harus memberitahu siapa-siapa soal apa yang mau ia lakukan. Intinya ya semua orang berhenti bermasalah dulu.


Dan jauh di hatinya Adji meyakini bahwa Juwita tidak datang setelah Melisa karena kebetulan semata.


Adji yakin Juwita wanita yang tangguh.


Makanya sekarang Adji biarkan dia pergi dulu, mengembalikan Abimanyu ke rumah seperti yang Juwita minta, karena sebenarnya dari awal sampai sekarang Juwita cuma mau satu.


Dia cuma mau hidup tanpa banyak beban tidak penting.


*

__ADS_1


Kalau anak perempuan yang sudah menikah pulang ke rumah orang tua bersama koper, mustahul ibunya bisa menyambut dengan senyuman lebar.


Semua orang pasti akan berpikir kalau pertengkaran Juwita dengan suaminya telah memuncak sampai tiba-tiba memutuskan pulang.


Tapi karena Juwita mau ibunya tidak banyak beban, ya Juwita yang senyun lebar. Memeluk Ibu seolah memang cuma mau liburan saja makanya ia pulang bawa koper.


"Nak, kamu kenapa? Kok bawa koper pulang? Suamimu—"


Ayah menghentikan Ibu bertanya, apalagi dengan mimik ketakutan itu.


Entah ada apa, Ayah lebih memilih tidak memperburuk. Merangkul Juwita yang sekarang masih berusaha sembunyi dengan senyum di wajahnya.


"Kamu pasti capek." Ayah mengusap-usap punggung Juwita. "Masuk kamar, Sayang. Istirahat."


Juwita malah mau menangis karena itu. Ia bergegas masuk ke kamarnya, langsung menjatuhkan diri ke kasur yang ia tiduri selama bertahun-tahun namun mendadak terasa asing.


Selama menikah, Juwita sangat rindu rumah. Rindu kamarnya, rindu warna temboknya, rindu pajangan di mejanya, rindu setiap sudut teritorinya, bahkan sampai pohon mangga di dekat jendela.


Tapi Juwita sedikitpun tidak pernah berdoa untuk pulang karena harus bercerai, berpisah dari keluarga baru yang ia sayangi.


Bagi Juwita sekarang, justru mereka-lah yang paling akrab ia temui setiap hari.

__ADS_1


*


__ADS_2