
Banyu langsung menatap malas pada Adji dan Juwita begitu mereka turun, sekitar tiga puluh menit setelah Adji naik, katanya mau mandi lima menit.
Selalu saja mereka melakukannya seolah-olah mereka tak punya anak.
"Pa, ada waktu yang namanya tengah malem pas semua orang udah enggak bakal gedor-gedor pintu. Did you have to, really, do it, this time?" tekan Banyu, bahkan menekan baik-baik dengan kalimat yang sederhana.
Adji malah tertawa dan mengambil Yunia ke pelukannya. "It's called pleasure, boy."
Ingin rasanya Banyu berkata bahwa ia tak peduli pada pleasure-nya Adji karena yang nyata adalah dia bukan bujang. Tapi Banyu menahan diri sebab ia tak mungkin bicara soal itu di depan Juwita dan adik perempuannya.
"Ibu, gendong."
Juwita meraih Nia dalam pelukannya walau kemudian duduk di sofa sambil memangku anak itu.
Seperti yang sering terjadi, ruang keluarga ramai akan pembicaraan dan suara tawa anak-anak, disusupi suara televisi. Juwita sudah sedikit melupakan tentang ucapan Abimanyu tadi ... saat tiba-tiba anak itu datang, bergabung di sofa.
Walau tahun kemarin dia masih duduk di sana, semua orang kini menatap dia aneh karena itu tak wajar bagi Abimanyu bergabung.
"What?" tanya dia saat merasakan tatapan.
Abimanyu meraih Lila yang dengan senang hati memeluknya. "Now I can't enjoy family time because I'm gonna married and have my own family?" lanjutnya sarkas. [Aku enggak boleh family time juga karena udah mau nikah dan punya keluarga sendiri, gitu?]
Dia jelas bukan Abimanyu yang tahun lalu, dari nada dan sindiran di kalimatnya.
Juwita memutuskan tidak peduli lagi, bahkan untuk menganggap itu penyesalan. Apa yang dia ucapkan tadi jelas sudah meruntuhkan segalanya.
__ADS_1
Dia bukan cuma berhenti jadi anak tiri Juwita namun dia bahkan mau berhenti jadi anak Adji.
"Guys, mau karaokean gak?" Juwita berusaha mengalihkan perhatian. "Giliran Cetta yang nyanyi terakhir, kan?"
"Gak!" tolak Cetta mentah-mentah.
Tapi semua adiknya berseru didukung oleh Banyu yang langsung pergi menyalakan speaker, mengambil mic untuk Cetta bernyanyi.
Cetta sudah berada di usia di mana dia malu pada segala hal dan fokus pada mainannya. Anak itu terus saja menolak bernyanyi dengan berbagai alasan, sampai Juwita menyerah membujuknya.
"Lila aja deh, Lila. Nih, nyanyi gantiin Abang Cetta."
Lila mengambil mic itu segera, meminta lagu kesukaannya diputar agar dia bisa bernyanyi.
Juwita pikir, itu setidaknya akan mengalihkan mereka dari Abimanyu. Tapi sesaat setelah Lila bernyanyi, anak itu menyuruh abang favorit-nya menyanyi juga.
Oh, tidak. Jangan bilang ....
"I don't wanna lose you now, I'm looking right at the other half of me, the vacancy that set in my heart, is a space that now you hold."
Ekspresi Banyu dan Juwita secara bersamaan menjadi kaku. Mereka berdua tak percaya jika Abimanyu terang-terangan menggoda Juwita di depan Adji, walau itu hanya sekadar lirik lagu.
Tapi seolah tak melakukan apa-apa, Abimanyu menatap Lila dan bernyanyi bersama suara Lila dan Nia yang hafal liriknya.
"Show me how to fight for now and I'm tell you baby it was easy coming back here to you once I figured it out."
__ADS_1
Juwita mau beranjak. Namun baru sejengkal ia bergerak, Adji merangkul bahunya, menatap Juwita sambil ikut bernyanyi tanpa suara.
"It's like you're my mirror." Kening Adji menekan kening Juwita. "My mirror staring back at me."
Juwita tersenyum.
"Baby keep your eyes on me," bisik Adji sebelum mendaratkan kecupan di sudut bibir Juwita.
Nia yang melihat mereka seketika bertanya, "Kenapa Ibu sama Papa cium-cium terus?"
Lila menimpali adiknya dengan kalimat, "Itu namanya pacaran. Kayak aku sama Abang Abi."
"Aku juga punya pacar," balas Nia tak mau kalah.
"Ohya? Who?"
"It's me." Banyu mengajukan diri penuh percaya diri. "Isn't it, Baby Girl?"
"No, you're too old." Nia menolaknya mentah-mentah. "I don't like old people." [Enggak, Abang ketuaan. Aku enggak suka orang tua.]
"You say what?!"
"Pacar aku Abang Cetta." Nia melompat dari pangkuan Juwita, pindah ke pangkuan Cetta yang sedikitpun tidak peduli soal obrolan pacar itu.
Banyu cemberut. Seketika menatap Juwita dan seenaknya berkata, "Bikin satu lagi dong, buat jatah gue."
__ADS_1
Bantal sofa langsung melayang ke wajah Banyu dan rayuan Abimanyu terlupakan.
*