
Juwita sudah capek waktu pulang. Kepalanya juga pusing. Yang ia prioritaskan cuma memastikan Abimanyu masuk kamar, Ibu, Mama, Papa atau Ayah tidak ada yang sadar jika Abimanyu habis mabuk.
Pokoonya ini harus jadi rahasia karena Juwita sudah capek mengurus masalah yang disebabkan oleh Ajeng. Jangan sampai rencana dia berhasil.
Setelah itu Juwita izin naik, ingin istirahat saja.
Ketika masuk ke kamar, Juwita terkejut melihat Adji duduk di sofa kamar, terlihat memikirkan sesuatu.
"Mas."
Adji tak sadar Juwita datang.
Pelan Juwita mendekatinya, menyentuh bahu Adji agar dia sadar Juwita memanggilnya.
Langsung, Adji menoleh kaget. Mengerjap pelan, sebelum ekspresinya jadi keruh.
"Udah pulang?" tanyanya pelan.
Juwita mengangguk, mengusap punggung Adji sekilas. "Aku sakit kepala jadi tidur dulu, yah. Mas turun makan."
Bukan mengangguk, Adji hanya melihat punggung Juwita menghilang di kamar mandi, lalu tak lama keluar dengan baju tidur, naik ke kasur untuk berbaring.
Saking capeknya, Juwita langsung tidur dalam kurun waktu lima menit kemudian.
Adji mendekat, menyentuh wajah Juwita diam-diam.
Belum ada yang memberitahu Adji soal siapa Bima. Namanya saja Adji belum tahu. Semua orang secara alami berpikir Adji tahu, sementara Adji malah sibuk bertanya-tanya siapa orang kurang ajar yang memeluk istrinya tadi siang.
Dan Juwita juga tidak menolak.
Bertanya juga Adji malas. Kenalan apalagi. Adji sumpek melihat wajah pria yang seenak jidat menyentuh istrinya.
__ADS_1
Adji pada akhirnya memilih ikut tidur di sebelah Juwita, memeluk perempuan itu buat meyakinkan diri bahwa dia milik Adji untuk selamanya.
*
Juwita tidak bisa bangun pagi-pagi untuk olahraga, tapi ia tetap bangun pagi untuk memastikan keadaan.
Yang membuat Juwita lega, Abimanyu bangun pagi buat olahraga. Membuat Juwita lega karena anak itu segera mengalihkan diri ke kegiatan positif lagi, tidak terlalu lama mengurung diri.
Selain Abimanyu, Bima bangun pagi juga. Angkat beban menggunakan dumble koleksi Abimanyu.
"Istri lo ke mana, Mas?"
"Nih, gue kantongin."
Juwita menendang kakinya pelan tapi Bima malah tergelak. "Ya di rumahlah, Wi. Enggak dibolehin ikut ke Jakarta sama mertua gue."
"Kenapa?"
Juwita mencibir, walaupun langsung teralihkan oleh suara panggilan Cetta.
Pokoknya kalau anak itu baru bangun, dia bakal lari cuma buat manggil, "Kakak!"
Padahal tidak ada perlu.
Memang dasar kurang kerjaan.
Juwita menuntun anak itu buat mandi dan gosok gigi dulu, sekaligus membangunkan Banyu. Di sela-sela kegiatan, Adji tiba-tiba muncul.
"Sayang."
Dih, tumben.
__ADS_1
Ya tidak tumben-tumben amat sih, tapi kayaknya kalau Adji menggunakan kata sayang, itu sembilan puluh sembilan persen saat sedang di atas ranjang.
"Apa?"
"Kopi."
Juwita mau pergi membuat kopi, tapi Mama menyeletuk, "Ini Mama buat kopi juga, Dji, sekalian aja."
Diluar dugaan, Adji menarik lengan Juwita, mencium sekilas sisi wajahnya. "Kamu."
Ada apa dengan bapak-bapak ini pagi buta? Memang apa bedanya kopi buatan Mama dengan kopi buatan Juwita? Kurang gula, kah?
Tapi yah, terserah dialah.
Juwita melepaskan Cetta, pergi ke dapur cuma buat menuangkan air panas ke cangkir yang sudah disiapkan Mama.
Tentu saja, Mama berbisik pada Juwita.
"Ada apa nih dia begitu?"
Juwita yang tidak tahu balas berbisik, "Kurang obat kali, Ma."
Mama malah tertawa, mencubit pipi Juwita yang cengengesan. Ia lantas membawakan kopi ke depan Adji, bersamaan dengan Bima masuk dari pintu samping.
"Wiwi, bikinin susu dong. Bubuk protein lo ada, kan?"
"Ada." Juwita langsung mau beranjak. "Tapi susu cokelat kayaknya udah abis deh—"
Tangan Juwita ditahan oleh Adji.
Tentu Juwita langsung menoleh. "Apa?" tanyanya heran, karena Adji tiba-tiba saja memegang.
__ADS_1
*