Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Rembulan Di Kegelapan


__ADS_3

Dalam sebuah keluarga, peran antara kedua orang tua kadang sama namun kadang berbeda. Perbedaan paling mencolok antara ayah dan ibu adalah cara mereka mengajari anak-anak mereka.


Ibu cenderung mengajarkan sesuatu pada anaknya lewat perasaan. Entah nasehat baik atau cerita menyentuh, atau kesabaran mengulang-ulang sebuah kalimat agar anaknya mengerti. Sementara ayah mengajari anaknya tanpa banyak bicara.


"Kamu beneran tidur sama pacarmu di kosan?" tanya Adji ketika duduk dengan Abimanyu, tanpa diganggu siapa pun.


"Hm." Abimanyu hanya bergumam mengakuinya.


"Kamu tau Papa bukan pendukung s3x bebas kan? Even jaman udah beda, Papa enggak peduli. My people my rule."


"Hm."


"So, kamu setuju nikah sama pacarmu?"


"Hm."


"Oke." Adji bukannya tidak menyadari ada sebuah kejanggalan. Anak di depannya jelas-jelas tidak terlihat minta izin menikah namun lebih terlihat seperti melakukannya dengan emosi kacau.


Tapi hidup Abimanyu adalah hidup Abimanyu. Entah dia melakukan kesalahan karena emosi, mengambil keputusan tanpa berpikir, atau apa pun itu, Adji akan membiarkannya. Adji adalah tipe ayah yang tidak keberatan melihat anaknya masuk penjara jika memang dia melakukan kesalahan yang membuatnya pantas masuk penjara.


Adji juga tidak akan bertanya bagaimana kuliahnya. Abimanyu punya otak sendiri memikirkan bagaimana masa depannya jadi terserah dia ingin bagaimana.

__ADS_1


Adji khawatir, tentu saja, tapi sekali lagi hidup Abimanyu adalah hidup Abimanyu. Dia yang harus mengkhawatirkan dirinya sendiri.


Dan Juwita tahu Adji pasti akan melakukan itu. Suaminya adalah pria yang keras jika sudah berurusan dengan kemandirian anaknya.


"Mas, kita enggak nyariin calon yang lebih baik buat Abi, mungkin?" tanya Juwita malam hari setelah itu. Karena tidak ada pembicaraan sama sekali sejak tadi. "Maksud aku, aku ngerasa pacarnya enggak sebaik itu."


"Itu tanggung jawab dia sendiri, Juwita." Adji menjawab dengan mata terfokus pada televisi. "Kalau dia milih pasangan hidup yang buruk, dia sendiri yang bakal ngerasain akibatnya."


"Tapi kita kan orang tuanya, Mas. Maksud aku, kita enggak—"


"Saya enggak mau ikut campur sama pilihan dia," ucap Adji tegas. Dan jika dia sudah menyebut dirinya saya, itu berarti Adji enggan bernegosiasi. "Dia udah besar. Dia bukan anak-anak."


Juwita mengatup mulutnya, patuh untuk diam saja.


"Ngebiarin dia sendiri bukan berarti enggak sayang sama dia," bisik Adji lembut. "Kita orang tua enggak perlu terlalu ngumbar-ngumbar cara kita sayang ke anak-anak. Kecuali dia masih kecil dan belum bisa jalan atau makan sendiri. Oke?"


Juwita mengangguk, memejamkan mata di pelukan suaminya.


Berbagai emosi berkecamuk di benak Juwita. Ia mendongak, menatap wajah Adji untuk sadar bahwa ia sangat, sangat mencintai pria ini.


Juwita mencintai Adji sejak ... mungkin sejak beberapa hari setelah pernikahan dadakan mereka. Juwita tak pernah berpikir bahwa Adji terlalu tua baginya atau Adji membuatnya merasakan pernikahan membosankan karena perbedaan umur mereka.

__ADS_1


"Kamu ngeliat apa?" Adji yang sadar akan tatapan Juwita pun menunduk. "Kamu lagi godain Mas? Hm? Mau main sebelum bocah-bocah naik, nyelip di kasur lagi?"


Juwita tertawa kecil dan dengan senang hati menerimanya. Dalam setiap sentuhan dan pelukan Adji, Juwita menyadari bahwa ia benar-benar ingin Abimanyu berhenti dengan perasaannya.


Juwita ingin Abimanyu sadar bahwa Juwita bahagia bersama papanya, menjadi pengganti mamanya.


Maka saat Adji tertidur pulas menikmati segalanya, Juwita beranjak dari kamar untuk menemui Abimanyu.


"Ini kesempatan terakhir kamu." Juwita selalu berusaha tidak mengatakan ini. "Bi, kalo kamu enggak ngapus semuanya, aku mungkin enggak bakal dateng lagi ke hidup kamu."


Abimanyu tersenyum kecut. "Udah gue bilang biarin gue yang pergi."


"Nah, kenapa harus aku yang kamu tinggalin?" Juwita menggeleng. "Aku yang bakal ninggalin kamu. Kami yang bakal ninggalin kamu. Aku enggak bilang bakal ngasih Mas Adji, Banyu, Cetta, Lila, Nia sama Yunia ke kamu."


Juwita terus menggeleng. Ia tak bermaksud memanjakan Abimanyu lagi sekarang. Jika ada yang harus pergi, itu Juwita dan semua keluarganya.


"Juga, aku mau bilang sesuatu." Juwita tersenyum kecut. "Aku enggak suka kamu ngeliat aku kayak gitu. Terus terang, aku benci."


Juwita berbalik pergi, meninggalkan Abimanyu yang menatapnya seolah Juwita adalah rembulan di kegelapan malam.


*

__ADS_1


dear pembaca, aku pernah bilang ketika karya ini dilanjutkan ke season dua, kemungkinan besar cerita ini akan 'berubah'. pada season 2 ini juwita udah bukan anak gadis baru dan sudah sepenuhnya jadi bagian dari keluarga adji. so memang akan ada banyak perubahan mengikuti perkembangan karakter.


__ADS_2