
Adji duduk begitu saja, tidak merasa harus bicara meski tahu Banyu melihatnya berinteraksi dengan Juwita.
"Papa udah lupain Mama?" tanya anak yang sensitif itu.
Mata Adji menatap televisi, tapi pikirannya berada di tempat lain. "Enggak ada yang bakal gantiin Mama buat Papa."
"Terus itu apa?"
"Juwita sama Mamamu itu beda orang, Banyu."
"Yang namanya hati enggak bakal bisa dibagi, Pa. Kalo Papa suka sama dia, berarti Papa enggak suka lagi sama Mama!"
"Karena enggak ada hati yang mesti dibagi."
Adji menoleh.
"Papa punya Mamamu, hati Papa dibagi dua? Satu buat Papa, satu buat Mamamu? Punya kamu, punya Abimanyu, punya Cetta, hati Papa dibagi lima? Sekarang punya Juwita jadi enam? Enggak gitu konsepnya."
"Ya tapi—"
"Enggak ada yang bakal gantiin Mama buat Papa."
Adji merasa harus mengulangnya.
"And it doesn't mean there's no place to anyone anymore. Hati Papa cuma ada satu, dan itu cukup buat kalian semua. Jadi kalau kamu komplen karena enggak mau Mamamu dilupain, jangan khawatir. Papa jauh lebih sayang sama Mamamu daripada kamu. So here's the thing. Do you understand what I mean, Boy?"
__ADS_1
Ucapan penuh penekanan itu membungkam Banyu.
Dia beranjak pergi, meninggalkan Cetta bersama Adji di depan televisi.
Sebenarnya Adji tidak bermaksud menekan dia terlalu keras. Tapi kalau Adji dari dulu punya bakat bicara yang bagus, mungkin Adji akan jadi diplomat, bukannya pengusaha belakang layar.
...*...
Sudah Juwita duga bakal begini.
Keluarga Ayah malah mengkritik habis-habisan perilaku Adji menikahi anak gadis tapi tidak membuatkan pesta pernikahan.
"Ini kan pernikahan sekali seumur hidup, Kak! Kok bisa-bisanya malah enggak ada acara?"
Juwita yang mendengar ikut mendumel dalam hati.
Tentu saja Ayah dan Ibu tahu Juwita kesal.
Hubungan Ayah dan kelurganya juga tidak baik—bukan dalam arti bermusuhan, tapi bisa dibilang beda golongan.
Ayah menggeleng, isyarat agar Juwita sabar dan jangan sampai membalas.
"Terus gimana, Juwita? Anak-anaknya Melisa nyusahin kamu?"
Nyusahin banget! Juwita membalas dalam hati lagi. Saking nyusahinnya mau kusumbangin ke kamu, siapa tau kamunya kurang kerjaan karena ngurusin urusanku terus.
__ADS_1
"Baik kok, Tante." Tentu, itu jawahan di depan layar.
"Ah, yakin kamu? Tante denger-denger anaknya Melisa yang besar itu nakal banget. Pernah mukul gurunya sendiri waktu SMP. Terus itu, anaknya yang kedua itu, masa dia neriakin orang cuma karena bukunya dijatohin. Pada preman semua ngikutin Melisa."
Ah, ya, ya. Anakmu juga nanti ngikut kamu kalo congormu bac*t terus.
Juwita tersenyum, berharap ia terus waras.
Keluarga bagi Juwita adalah omong kosong. Yang benar-benar bisa ia sebut keluarga hanya orang tuanya. Hanya itu.
Sisanya cuma omong kosong, dan Juwita lelah dengan persoalan mereka yang tidak selesai-selesai.
Kenapa sih cerewet sekali?
Mau Juwita singgung soal adiknya dia yang hamil duluan, menikah cepat-cepat tapi di hari pernikahan malah suaminya ke luar negeri alias ditinggalin cuma sama buku nikah doang?
Atau bagaimana kalau keponakan dia yang katanya hobi jalan sama om-om di bar?
Kayak tidak punya aib.
Juwita bete luar biasa, tapi ia harus sabar karena suaminya dia tetap suadara Ayah.
"Kamu yang sabar, yah." Juwita malah dikatai begitu waktu mereka pulang.
Sampai rasanya Juwita mau menggigit tembok saking dongkolnya.
__ADS_1
*