Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
117. Aku Sayang Kamu, Sontoloyo


__ADS_3

Abimanyu mungkin belum memikirkan itu, tapi demi Tuhan dia jadi bahan tertawaan semua orang.


Dia anak Melisa dan Juwita yakin Melisa tidak akan mau anaknya diolok-olok bahkan jika anak itu yang melakukan kebodohan.


Dia harus pulang. Kalau kepergian Juwita membuat dia pulang, maka Juwita dengan 'senang hati' pergi. Asal dia pulang.


Lagipula kalau di pikir lagi, memang karena Juwita semuanya begini.


Hal-hal konyol di hidup mereka semua, itu tanggung jawab Juwita sepenuhnya.


"Juwita—"


"Mas." Juwita menarik tangannya dari Adji. "Keluargamu enggak ngerasa aku pantes di sini. Menurut kamu mungkin, yaudah terserah mereka, toh kita yang jalanin. Tapi ujung-ujungnya yang kena anak-anak juga."


"...."


"Kamu jemput dia. Aku pulang ke Ibu."


Juwita beranjak, mendadak merasa sangat pening tapi terus memaksakan dirinya.


Belakangan Juwita sering merasa ingin pingsan. Mungkin karena tingkat stres di tubuhnya sudah terlalu tinggi.


"Aku tau cerai bakal susah buat kita. Aku ada utang sama kamu dan itu banyak banget. Banget."


Juwita mengambil berkas pernikahan dan kontrak mereka, meletakkan di depan Adji.


"Kalau kamu mau, tolong bikin kontrak baru buat cicilan uangmu. Aku bakal balikin biarpun harus ngutang seumur hidup. Kalau kamu enggak mau, aku usahain tahun ini uangmu balik."

__ADS_1


Ada banyak cara mencari uang. Meminjam uang dari bank sejak awal bulan pilihan Juwita, tapi kalau harus itu, Juwita akan lakukan asal semua ini berhenti.


Sekarang ia merasa segalanya lebih mudah daripada harus mendekam dalam masalah pelik ini.


Adji harus mengambil kembali ketenangan hidupnya dan Juwita harus mengembalikan keluarga Melisa pada tempatnya.


Mungkin ini wasiat Melisa. Tapi kalau ternyata keputusan itu salah, ya setidaknya Juwita sudah mencoba.


"Jemput Abi, yah?" Juwita menepuk tangan Adji terakhir kali, sebelum ia melangkah ke lemari, mengambil baju-bajunya.


Hanya baju-bajunya, bukan baju Melisa yang diberikan untuknya.


Tatapan Adji kosong melihat istrinya melangkah pergi dengan koper di tangan.


Bukan Adji tidak mau melakukan apa-apa. Tapi Adji cuma mau otaknya berpikir lebih waras sebelum bertindak. Juwita malah memikirkan sesuatu semacam ini.


Baiklah. Kalau dia merasa harus 'pulang' sebentar, Adji akan biarkan.


Tidak akan mungkin Adji biarkan itu lama.


Sementara itu, Juwita pelan-pelan turun. Mengangkat kopernya sampai ke lantai bawah, di mana Cetta dan Banyu duduk menonton sambil bermain.


Melihat koper di tangan Juwita, Banyu tersentak. Anak itu bahkan langsung berdiri dan melotot.


"Lo mau ke mana?" tanya Banyu agresif, terkesan sudah tahu jawabannya dan berharap jawaban itu salah.


Juwita hanya tersenyum pasrah. Mau menangis tapi kayaknya batin Juwita sudah terlalu capek.

__ADS_1


Tidak ia sangka bakal sesusah itu diterima di keluarga seseorang. Adji dan anak-anaknya terima, eh ternyata cabang keluarga tidak terima.


Pernikahan tidak sesederhana yang Juwita bayangkan.


Juwita menarik kopernya mendekat. Memeluk Banyu erat-erat. Biarpun cuma sebentar, dia adalah sahabat Juwita setelah Abimanyu.


"Aku sayang kamu, Bocah." Juwita bahkan tak menyangka berat rasanya meninggalkan mereka.


Tak bisa ia bayangkan kalau besok sudah tak perlu berteriak memanggil mereka makan, atau mengusili Cetta biar menangis, atau mengisengi Banyu dengan gurita—dan semua hal yang sudah Juwita anggap sangat menyenangkan dilakukan.


"Aku sayang banget sama kamu." Juwita mengusap-usap Banyu, tak rela melepaskannya. "Baik-baik di rumah, hm? Yang pinter belajarnya."


Banyu mematung. Meski dia yang paling pedas, sebenarnya dia yang paling gampang menangis.


"Lo mau ke mana?" tanya anak itu, dengan mata yang mulai bajir. "Lo mau ke mana, anjir?!"


Tangan Banyu balas mendekapnya, tapi begitu kuat seolah tak mau Juwita lepas.


"Enggak ada. Lo di sini, brengsekk. Lo mesti di rumah. Lo mau ke mana?" ucap dia sambil menangis. Terus memeluk Juwita dengan semua tenaganya.


"Aku udah enggak bisa."


"Enggak bisa apa?! Enggak ada! Enggak ada! Enggak ada!" Banyu gemetar. Dia bahkan melepaskan pelukan itu, merampas koper Juwita. "Mimpi lo pergi! Enggak ada!"


"Jangan jadi anak kecil." Juwita menahan Banyu yang nampaknya mau membuang koper itu. "Kamu pasti ngerti."


"Enggak!"

__ADS_1


"Pasti." Juwita menarik dia kembali ke pelukannya. Mencium sisi wajah Banyu yang kini merintih seperti perempuan. "Aku sayang kamu, Sontoloyo. Oke?"


*


__ADS_2