Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
ekstra part juwita 2.


__ADS_3

Sebenarnya Juwita juga sangat ingin mengikuti saran Banyu agar tidak terlalu khawatir. Lagian benar, namanya juga anak bujang. Dia sudah bukan remaja yang kalau tidak pulang mesti dicari-cari.


Tapi mungkin Juwita memang orangnya baperan. Hari ini ia setidaknya berharap dihubungi oleh Abimanyu, ternyata anak itu malah tanpa kabar sama sekali.


"Dad, Mommy's crying again," adu Lila, anak pertama Juwita saat melihat ibunya menatap ponsel sambil tersedu-sedu sendiri.


Satu rumah sudah pada tahu kalau Juwita itu paling baperan kalau sudah urusan anak laki-lakinya, padahal anak kandung Juwita semua perempuan.


Yang pertama kali menoleh bukanlah Adji, melainkan Banyu. Anak kedua Adji itu langsung beranjak dari sofa, pergi mendatangi Juwita untuk memastikannya.


"Ck. Udah gue bilang enggak usah dipikirin," omel Banyu tapi masih mengusap-usap kepala ibu tirinya. "Abang tuh lagi sibuk, Juwi. Lo kan juga pernah kuliah. Masa lo nangis gara-gara Bang Abi sibuk skripsian?"


Juwita yang diomeli malah semakin tersedu-sedu. "Yaudah sih emang kenapa kalo aku kangen. Enggak usah peduliin. Suka-suka aku juga mau nangis. Aku enggak minta dipeduliin."


Banyu mendengkus. Kalau omongan sok cuek dan sok kuat itu sudah keluar dari mulut Juwita, maka berarti dia berada dalam tahap kebaperan level maximal.


Adji pun bergegas datang sambil menggendong anak bungsunya yang masih berusia dua tahun. Yunia namanya. Anak itu mendadak ikut menangis saat melihat ibunya tersedu-sedu.


"Ibu."


"Kamu dari kemarin kepikiran Abi terus." Adji mengusap pipi Juwita dengan punggung tangannya. "Yaudah kalo kangen mending kamu pergi. Ajak Banyu sama Cetta temenin kamu."

__ADS_1


Juwita tersenyum mencium tangan anak bungsunya. "Enggak pa-pa kamu sama anak-anak?"


Karena Juwita full time sebagai ibu, mereka tidak punya pengasuh kecuali dulu saat Yunia baru lahir. Makanya Juwita sering kesulitan untuk pergi karena kalau tidak ada dirinya, Adji bisa setres menjaga tiga anak perempuan yang ketiga-tiganya masih sekitaran lima tahun.


"Enggak pa-pa. Sesekali kamu jalan."


Maka bergegas Juwita bersiap, begitu pula Banyu yang sekalian memanggil Cetta. Kini ketiga anak Adji sudah besar, makanya Adji sering menyuruh mereka jadi bodyguard Juwita setiap kali perempuan itu keluar, terutama tanpa Adji.


Sementara Adji mulai mengajak anak-anak ke ruang bermain tertutup agar tidak melihat Juwita pergi, Banyu pun mengeluarkan mobil dari garasi.


Diam-diam Banyu melirik ponselnya. Berharap kalau si Sontoloyo Abimanyu itu membalas chat-nya karena kalau dia tidak ada di kosan, Juwita pasti bakal nangis darah.


*


Buat Juwita, Abimanyu itu lebih dari anak tiri. Dia adalah sahabat sekaligus orang yang paling sering bertengkar dengannya. Jika Juwita ada masalah dengan Adji, Juwita curhat pada Abimanyu dan jika Adji mau berdamai dengab Juwita, cara tercepat adalah memberitahu Abimanyu agar menyuruh Juwita memaafkannya.


"Juwita, pelan-pelan naik tangga." Banyu mengingatkan ibu tirinya yang serasa seperti adiknya.


Juwita tak mengindahkan Banyu, fokus pada rasa antusiasnya. Wanita itu berhenti di depan kamar Abimanyu, mengetuk pintu dengan punggung tangannya.


Bersamaan dengan Cetta dan Banyu sampai di ujung tangga, pintu kamar Abimanyu terbuka ... oleh seorang perempuan bertanktop dan celana super mini.

__ADS_1


"Ya? Cari siapa?" kata perempuan itu.


Juwita melirik nomor kamar untuk memastikan, menemukan itu benar nomor kamar anaknya. Kecuali Abimanyu pindah tanpa sepengetahuan Juwita.


"Abimanyu tinggal di sini kan?"


Perempuan itu mengerutkan kening. "Yap, he's my boyfriend and who are you?"


Di belakang sana, Banyu cuma bisa mengumpat lirih melihat Juwita tersenyum.


"Pembantunya," jawab Juwita menyodorkan rantang makanan. "Titipan dari Ibu-nya."


"Oh, oke."


Pintu tertutup setelah perempuan itu menerima rantang. Itu menandakan dia tidak kenal sama sekali siapa Juwita, bahkan siapa Banyu dan Cetta.


Juwita berbalik pergi. Tetap tersenyum menuruni tangga kembali.


"Juwita—"


Pintu kamar Abimanyu mendadak terbuka lagi, memunculkan sosok Abimanyu yang tampak pucat pasi. Banyu dan Cetta seketika memutuskan bahwa mereka akan pura-pura tidak hadir di tempat itu dulu.

__ADS_1


*


karena author memang lagi kepengen nulis cerita juwita dan para sontoloyo-nya lagi, baiklah, S2 Juwita akan author keluarin segera.


__ADS_2