Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
93. Om Muda


__ADS_3

"Jangan nangis terus." Pria itu menghela air mata Juwita dengan tangannya, terus hati-hati memegang perban di kepala Juwita. "Nanti kepala lo sakit lagi, loh. Sedih gue loh, Wi."


Juwita pelan-pelan berhenti menangis, mengelap wajahnya ke lengan baju. Memang kepalanya jadi sakit gara-gara bergerak kasar tadi, maka Juwita tidak protes waktu pria itu mengangkatnya.


Mereka melewati Adji begitu saja, meskipun sebenarnya pria itu sadar kalau Adji tampak sangat tidak nyaman.


Pikiran Adji langsung blank. Ketika Ajeng yang mengusik keluarganya ada di depan mata, Adji justru berlalu, menyuruh orang membawa Ajeng saja dan lebih fokus melihat Juwita bersama pria itu.


Siapa? Mereka terlihat dekat. Sangat dekat malah.


Terlebih waktu di dalam mobil, orang itu bahkan berani mencium kening Juwita, terus berbisuk 'jangan menangis karena itu menyakitkan' seolah-olah dialah suami Juwita.


Kekhawatiran Adji mengenai Abimanyu perlahan hilang waktu Sandy menghubunginya, berkata kalau Abimanyu bersama dia, tengah latihan di stadion.


Fokus Adji hanya ada pada Juwita, pada bagaimana istrinya terlihat sangat manja dengan pria lain.


"Wi, mau es krim gak?" tanya pria itu mesra.


Adji merasa panas waktu Juwita mengangguk, dalam posisi dia menyembunyikan wajah ke leher pria itu.


Yang lebih panas, pria itu mengisyaratkan mobil Adji berbelok ke Mcd, memesan es krim lewat jalur drive thru.


Semua terlalu mendadak sampai Adji malah cuma bingung dan diam. Ia berusaha mencerna apa maksud interaksi itu, meskipun lambat laun malah semakin panas alih-alih mengerti.

__ADS_1


Pria itu menyuapi Juwita es krim, lalu makan dari sendok bekas Juwita, tertawa kecil menghibur wanita yang seharusnya sekarang ada di pelukan Adji.


"Kenapa? Kepala lo sakit?" Pria itu bertanya lagi, penuh perhatian memegangi kepala Juwita. "Lo bawa obat?"


"Enggak."


Adji nyaris melotot ketika pria itu berani menarik Juwita lebih dekat ke pelukannya, dan tangan dia jelas-jelas di pinggang istrinya.


Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan pada istri orang?!


"Coba tidur kayak gini. Lo kan paling suka tidur kalo dipeluk."


Ekspresi Adji sudah sangat dingin. Kini ia cuma melihat ke depan, diam sampai mereka tiba di rumah.


Adji bahkan tidak sadar kalau Banyu tidak ikut pulang bersamanya. Langsung turun dari mobil, masuk ke rumah untuk menenangkan diri.


"Juwita!"


Pintu mobil terbuka, mengusik kemesraan mereka.


Ketika Ayah melihat siapa yang sedang memeluk Juwita, beliau mengangkat alis terkejut.


"Bima."

__ADS_1


Pria itu, Bima, terkekeh sambil perlahan turun tanpa melepaskan Juwita dari pelukannya.


"Kamu kapan di Jakarta? Kenapa enggak bilang-bilang?"


"Ngasih surprise, dong. Apalagi aku denger ini anak nikah enggak bilang-bilang."


Juwita cemberut. "Gue bilang sama lo."


"Ngirim kata doang ya gue kira lo becanda, oneng. Coba aja gue enggak denger gosip, mana gue percaya." Bima mengusap jejak-jejak basah di wajah Juwita sekali lagi. "Lagian anak gadis gue ini masa nikah enggak pake pesta. Penistaan. Anak perawan kalo nikah mestinya peres tuh harta calon laki lo. Entar kalo udah nikah enggak bakal dikasih."


"Suka-suka gue, wleeeek."


Ibu ikut mendekat, menepuk punggung Bima. "Kamu kan harusnya bilang, Bim."


Yang diberi ucapan malah tertawa tanpa dosa, memeluk Juwita dan mencium puncak kepalanya berulang kali.


"Lo nikah kenapa berasa tawuran sih, Wi? Hampir-hampir gue paksa cere. Enggak, cere ajalah, cere. Pisah lo."


"Bima, enggak boleh gitu."


Mama dan Papa sempat butuh waktu mencerna situasi, tapi pelan-pelan mereka tersadar, ikut mendekati keluarga itu.


"Ini ... adek bungsumu, kan?" tanya Mama pada Ibu.

__ADS_1


Ibu langsung tersenyum, mengusap-usap lengan Bima. "Iya, ini om mudanya Juwita."


*


__ADS_2