
Banyu menunduk melihat bajunya, langsung tersinggung karena merasa sudah rapi.
"Tadi juga Cetta denger Tante Sarah bilang katanya Kakak cocoknya jadi pacar Abang."
"Nah, kan." Juwita mengepal tangannya kuat-kuat. "Itu gunanya kalian dateng tuh itu! Rasain tuh penderitaanku. Kalian yang begini aku loh yang kena. Aku!"
"Ya lo bales lah kalo enggak suka." Banyu mendengkus dongkol. "Anj*ng, taunya tadi gue bawa Mimi."
Cetta memeluk leher Juwita. "Tadi kalo bawa Pika yang perempuan teriak-teriak."
Juwita hampir bilang iya saking kesalnya.
Dan karena mereka berbagi kekesalan yang sama, entah sejak kapan malam jadi mengobrol bersama. Walau isinya cuma soal siapa yang mengejek dan apa isi ejekannya, lalu Juwita misuh-misuh.
Cetta adalah narasumber terbaik. Karena ternyata dia banyak dengar omongan orang dewasa untuk dilaporkan.
"Mama juga kalo dateng pulangnya pasti suka kesel," ucap Abimanyu. "Emang t*i keluarga Papa."
"Kalian kalo besar jangan begitu deh, serius."
"Apanya?"
"Jangan mau dinorak-norakin sama cewek." Juwita menjulurkan lidah seolah jijik. "Jangan mau sama cewek yang minta lamaran heboh begini. Masak indomie aja pasti gosong. Dibadut-badutin bikin acara padahal enggak untung. Perhitungan jadi manusia, anak-anakku. Perhitungan."
*
Adji kadang suka bingung dengan karakter Juwita. Padahal Adji tahu betul jika Banyu dan Abimanyu itu susah dibujuk, karena baru diajak bicara saja sudah bisa menciptakan perang nuklir.
__ADS_1
Tapi waktu Adji mau mengajak Juwita pamit berhubung acara sudah selesai, ia malah melihat Juwita dan anak-anaknya berbincang akrab.
Maksud Adji, kenapa baru di acara orang mereka duduk akrab? Di rumah perasaan saling mengejek.
Ketiganya kompak lagi langsung membuat wajah 'aku bebas' begitu mereka duduk di mobil, bersiap pulang.
"Emang ngeselin semua?" tanya Adji penasaran sebab Juwita juga nampaknya keki berat.
"Enggak semua. Sembilan koma sembilan persen aja."
Adji tergelak. "Ada loh temennya Melisa di sana. Saya liat tadi ngajak kamu ngomong juga."
"Yang sepupu kamu? Iya, itu baik. Lainnya enggak."
"Kalau saya sih enggak usah terlalu dipaksain kalau enggak suka. Enggak suka ya enggak suka aja." Adji berterus terang. "Ngumpul-ngumpul begitu sebenarnya bukan buat makin akrab. Tapi biar kedepan kalau ada apa-apa saling manfaatin."
"Papa, tadi Kakak dikatain jelek. Katanya cantikan Mama."
"Kalo itu fakta," celetuk Banyu dari belakang.
"Heh, kecebong!" Juwita melotot. "Matamu tuh yang rusak. Cantik begini dibilang jelek. Iya kan, Cetta?"
"Jelek."
Adji merasa keluarganya sudah baik-baik saja waktu mereka kompak tertawa, bahkan Abimanyu. Meskipun Juwita jadi misuh-misuh memindahkan Cetta ke belakang, keberadaan Juwita secara jelas menjadi warna baru dalam keluarga mereka.
"Aku tuh bukan enggak cantik! Cuma kurang pamer aja!"
__ADS_1
"Halah." Abimanyu mendengkus. "Jelek mah jelek aja."
"Aku insecure salah kalian semua pokoknya."
"Kalo insecure berarti sadar diri." Banyu malah memanasi.
"Banyu ah!"
Adji sampai bengong waktu Juwita turun dari mobil setiba di rumah, ngambek betulan dikatai jelek.
Cetta berlari turun menyusul Juwita sekalipun gadis itu berteriak, "Enggak usah panggil-panggil!"
Jujur saja, ini baru pertama kali Adji kembali dari kumpul keluarga yang penuh gosip, pulangnya Banyu dan Abimanyu tidak terlihat macam kain lecek.
"Papa, Kakak-nya marah, ngumpet di kamar!"
"Jail sih kamu."
"Papa yang larang Cetta bilang Kakak cantik."
"Loh, kapan?"
"Itu waktu sarapan."
Sebelum Adji bisa ingat, Cetta sudah berlari ke atas sambil teriak-teriak.
"Kakak, Papa yang suruh Cetta. Bukan salah Cetta."
__ADS_1
*