
"Abimanyu langsung dateng," kata suara pria dari sambungan telepon itu. "Kayaknya sih dia enggak liat gue. Tapi nyokapnya kayaknya susah, Ra, soalnya dia langsung nelfon orang buat jemput dia."
Sakura berdecak kesal. Walau kemudian dia berkata, "Percobaan pertama, okelah gagal."
"Terus gimana?"
"Pokoknya standby ngawasin dia. Enggak perlu lo apa-apain. Cukup liatin aja."
"Oke, jangan lupa transfer."
Sakura mematikan panggilan itu dan menopang dagu santai di kamar tidur Abimanyu.
Ya, orang yang mengikuti Juwita itu suruhan Sakura. Berkat informasi dari Talisa—mereka jadi cukup dekat setelah pernikahan karena Talisa menceritakan banyak keburukan keluarga ini, terutama Juwita, pada Sakura. Kata Talisa, dulu Juwita pernah diteror oleh orang sampai dia dipukuli di tempat umum. Kejadiannya bukan hanya sekali tapi dua kali. Karena menurut Sakura dia pasti trauma, ia mencoba menyuruh orang mengikutinya dan Juwita ternyata sangat panik.
"Mending Tante buruan pergi," Sakura tersenyum sinis, "soalnya masih banyak orang mau disuruh perkosa istri orang."
Untuk sekarang Sakura mau menerornya dulu. Tapi kalau ia rasa ia tidak cukup, Sakura tidak akan segan menyuduh seseorang memperkosa Juwita.
Kalau ia mengancam video pemerkosaan disebar, wanita sok suci dan sok menjaga keluarga itu pastinya juga akan pergi, kan?
Demi menjaga keluarganya.
*
Setelah menenangkan Juwita yang akhirnya tidur bersama anak-anaknya, Abimanyu memutuskan untuk keluar dari kediaman itu. Melajukan motornya ke lokasi Adji berada karena ia benar-benar merasa masalah ini harus selesai sekarang.
Abimanyu tidak mau Juwita mengalami hal mengerikan lagi.
Melihat anaknya datang, tentu saja Adji terkejut.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?"
Saat Adji menyadari anaknya menginginkan sesuatu yang sangat sulit untuk ia berikan, dan memang tidak mungkin ia berikan, diam-diam Adji merasa tali-tali ikatan mereka putus. Hanya tersisa darah di antara mereka dan sisanya adalah permusuhan.
Tapi sebagai orang tua, Adji juga tidak bisa berhenti menganggap anaknya sebagai anak.
"Papa punya selingkuhan lain?" tanya anak itu mendadak.
Hal yang membuat Adji mengerutkan kening tajam. "Kamu sekarang dateng ke sini buat ngomongin omong kosong?"
"Just answer me, Pa."
"You answer me, Son." Adji memasukkan tangan ke saku celananya. "Kamu sebenernya mau apa?"
Abimanyu memalingkan wajah. Dia menyadari ada kebencian yang terpercik di antara mereka saat dulu keduanya adalah sepasang anak dan ayah normal.
Tapi segera Abimanyu menepikan itu karena ia datang bukan untuk mengajak ribut.
Adji tersentak. "Apa?"
"Dia bilang dia nelfon Papa tapi enggak Papa jawab."
Adji langsung berbalik, meminta asistennya membawakan ponsel yang ternyata memang ditepikan. Dia membuka ponsel lipat itu, menemukan sejumlah panggilan dari istrinya yang tak terdengar karena mode silent.
"Doesn't matter." Abimanyu berdehem. "Intinya, siapa menurut Papa?"
Adji melirik Abimanyu lalu menatap ponselnya lagi.
Siapa?
__ADS_1
Adji tidak terpikir pada siapa pun. Ia memiliki banyak musuh selain teman di dunia kerja tapi orang yang cukup gila mengikuti istrinya, apa ada?
"Siapa di rumah sekarang?" balas Adji bertanya. Terutama siapa yang sekarang mendampingi Juwita dan anak-anak.
"Banyu."
Adji mengantongi ponselnya. "Ayo pulang."
Terlepas dari permusuhan, keamanan dari Juwita dan anak-anak jauh lebih penting. Jadi Adji rasa untuk sekarang mereka perlu menepikan masalah apa pun yang terjadi di antara mereka.
Dan untungnya Abimanyu setuju. Walau anak itu memilih berkata, "Aku mau ke tempat lain dulu."
"Ke mana?"
"Mahardika."
Adji tersentak mendengar nama mantan presiden mereka disebut.
Benar juga. Dulu Adji menyewa jasa mereka untuk berbagai hal.
Adji membuka dompetnya, lalu menyerahkan sebuah kartu khusus berwarna hitam pada Abimanyu.
"Pake ini."
Itu bukan black card untuk belanja, jelas. Tapi itu kartu identitas yang akan memudahkan Abimanyu mendapat akses.
Walau otak dia tidak waras pada ibu tirinya, setidaknya dia cukup waras memikirkan harus melindungi dengan cara apa.
*
__ADS_1
maaf yah author slow update. lagi banyak kerjaan dan up beberapa karya lain juga 🙏🙏