Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Curhatan Ibu Enam Anak


__ADS_3

Yunia baik-baik saja setelah tidur di pelukan Abimanyu semalam suntuk, tapi Juwita dilarikan ke rumah sakit karena asmanya kambuh. Tentu saja, itu menciptakan situasi yang kurang menyenangkan sebab seharusnya hari ini keluarga mereka menghabiskan waktu bersama keluarga Sakura.


Pikiran Juwita tak bisa berhenti memutarnya. Setelah melewati banyak hal bertahun-tahun, ia dibuat bertanya-tanya apa pernikahannya sungguhan keputusan yang benar atau justru salah.


Semua dilandasi oleh uang, memang benar.


"Juwita."


"Mas." Juwita tersenyum ketika Adji muncul setelah pergi ke ruang dokter. "Kamu pulang aja, yah. At least kamu mesti ada ketemu besan kamu."


Adji menggeleng. "Prioritas kita selalu keluarga, kan?"


Sebenarnya sekarang Juwita tak mau bersama Adji, melihatnya ataupun bicara padanya. Sebab Juwita takut jika ia hilang kendali lalu mengucapkan kalimat salah karena satu badannya entah menyimpan rasa apa ini; Juwita takut terbawa emosi lalu bertengkar.


"Mas, please." Juwita berusaha keras tersenyum. "Jangan bikin aku diomongin juga sama keluarga besan."


Setidaknya Adji gampang mengerti. Meski berat dan sangat tidak ingin, Adji menuruti perkataan Juwita untuk pulang.


Juwita hanya ingin sendiri. Sungguh, ia benar-benar mau sendirian sampai Juwita menolak untuk ditemani Ibu dan Ayah.


Tapi ada kunjungan tak terduga baginya.


"Wiwi." Bima membuka lengannya lalu datang memeluk Juwita setelah sekian lama.


"Aku kira Mas enggak dateng," ucap Juwita, berusaha menahan lagi walau ia mau mengusir. "Sama Mbak Yuli?"


"Enggak. Yuli lagi ngidam jadi yah aku ke sini sendiri." Bima meletakkan tasnya di lantai lalu kembali menatap Juwita. "Okay, spit it out."


"Hah?"

__ADS_1


"Ayolah, Wi. Kita sahabatan biarpun om-ponakan. Kamu kira aku enggak tau kamu sekarang lagi 'nahan' masalah?"


"Mas—"


"Dua anak kamu yang paling gede itu tempat curhat kamu tapi ngeliat Abimanyu mendadak nikah, blablabla lainnya, jelas kamu enggak curhat sama siapa-siapa. Ayo, curhat."


Juwita menggertak giginya untuk menahan diri karena ia lelah dan entahlah tapi kemudian mulutnya bergerak sendiri.


"Aku capek." Dua kata yang membuat badan Juwita gemetar dan tangisannya pecah. "Aku capek sama semuanya, Mas. Aku capek. Aku capek jadi ibu tiri yang perhatian sama anak tirinya. Aku capek harus ngurusin mereka semua. Aku capek dan aku mau berenti tapi jelas enggak bisa berenti karena anak aku tiga, yang tiga-tiganya enggak bisa hidup tanpa ... semuanya."


Juwita bahkan tidak peduli pada tangannya yang diinfus atau selang oksigen di hidungnya. Wanita itu cuma menangis sampai bahunya terguncang hebat.


"Aku capek sampe aku ngerasa semuanya salah. Aku berusaha jadi perfect buat semua orang karena mereka butuh itu tapi aku capek. Aku capek, plis plis plis aku capek. Aku capek sama semuanya!"


Bima mungkin tidak menduga bahwa serangannya cukup besar. Tapi saudara Ibu itu mendengar Juwita mengulang-ulang kalimat 'aku capek' hingga ratusan kali seolah butuh sebanyak itu untuk menegaskan.


Oke, setidaknya itu berhasil membuat Juwita bisa bernapas lebih baik.


Setelah memuntahkan segalanya, paling tidak Juwita tak gemetaran lagi.


"Aku selalu mikir kalo aku bisa tanggung jawab soal anak Mbak Melisa," katanya untuk menjelaskan persoalan capek. "Aku selalu, Mas, selalu mikir aku bisa. Karena aku enggak perlu jadi Mama mereka, aku cuma perlu jadi sahabat mereka."


"Tapi?"


".... Abimanyu masih suka sama aku."


Untuk pertama kali, air wajah Bima berubah buruk. "Abimanyu? Anak sulung kamu?"


"Jangan perjelas," tolak Juwita, terutama pada kata anak sulung. Itu membuatnya terkesan harus bertanggung jawab karena dia anaknya.

__ADS_1


"Shiit," umpat Bima. "What the fvck?"


"Dan aku ngerasa itu udah beda, Mas."


"Jelas beda!" respons Bima emosi. "Beda urusan cinta anak SMA yang lebih sering ona-ni bola voli sama anak kuliahan tahun akhir. Jelas beda."


"Mas."


"Kok bisa? Maksud aku, kalian deket kan selama ini? Deket sebagai anak orang tua."


Juwita menggeleng. "Aku juga mikir kayak gitu, tapi buat dia itu kayak ... kayak dia kejebak friendzone."


"Terus dia nikah bukan karena pacarnya hamil duluan?"


"Bukan. Aku mergokin dia mesra-mesraan—yang terlalu mesra sama banyak perempuan. Pertama aku mergokin dia sama cewek A, terus dia bawa cewek B, terus dia megang susu cewek C, dan entah siapa si D. Mungkin juga ada E, F, G sampe Z."


Juwita mengembuskan napas lemah. Keluhannya jelas belum selesai.


"Aku kira cuma dia," ucap Juwita kecewa, "tapi ternyata Banyu juga."


"Apa?!"


"Bedanya cuma Banyu nganggep aku mama keduanya—tapi dia macarin anak SMP buat main-main, janji kalo dia enggak bakal ngerusak anak orang tapi ternyata dia punya pacar yang gituan sama dia."


Dari ekspresi Bima yang 😳 Juwita tahu itu artinya sama seperti pemikiran Juwita.


Ya, mengurus anak orang terlalu berat bagi Juwita. Mengurus mereka benar-benar sangat berat sekarang.


*

__ADS_1


__ADS_2