
Juwita mengeratkan pegangannya pada koper. Padahal ia bermaksud pergi tanpa terlihat, namun apa boleh buat.
"Kita cerai aja, Mas." Juwita menggeleng penat. "Aku udah enggak bisa. Aku enggak mau lagi tanggung jawab soal anak kamu. Aku enggak bisa lagi. Aku mau pergi aja."
Adji diam.
"Terserah kamu mau ngapain. Hak asuh anak sama kamu. Kamu yang punya uang ngurus mereka. Oke?"
Juwita menarik kopernya pergi, tapi tak sempat ia melangkah terlalu jauh, Adji mencekal tangannya.
"Mas, kalo kamu ngasih pilihan masuk penjara atau mati, aku pilih dua-duanya sekarang daripada dengerin yang lain jadi—"
"Kamu capek?" potong Adji dengan suara tenangnya. "Sama semuanya, kamu capek?"
Air mata Juwita yang sempat berhenti kembali berjatuhan tanpa kendali. "Menurut kamu?" balasnya sengau.
Menurut dia memang apa? Menurut dia memang apa alasan Juwita begini jika bukan karena capek?
"Kalo saya peluk kamu sekarang, kamu masih capek?"
Juwita menoleh, melepaskan tangannya dari cekalan Adji. "Jagain anak-anak," ucapnya sebagai jawaban yang jelas.
Ia tak mau lagi membuka kesempatan. Jiwanya sudah terlalu capek dan sejujurnya benda di dalam sana, sesuatu yang disebut hati atau jantung itu, rasanya sudah tercabik-cabik.
Tapi hanya sesaat setelah itu Adji menariknya, mendekap Juwita sangat erat seolah hari esok adalah kebohongan.
"Kamu jantungnya anak-anak," gumam Adji. "Gimana saya jagain anak-anak kalo jagain kamu enggak bisa?"
"Mas, aku capek. Aku capek." Juwita menekan dadanya kuat-kuat. "Aku capek," ucapnya berulang kali karena rasanya tidak ada yang mengerti. "Aku capek, Mas. Aku capek."
__ADS_1
Adji menatap mata Juwita dalam-dalam. "Kapan Mas bilang kamu enggak boleh capek?"
"Adji—"
"Siapa, Juwita, siapa? Siapa sebenernya yang ngasih aturan di rumah ini kalo kamu, Juwita, ibunya anak-anak enggak boleh capek? Siapa? Siapa yang ngelarang kamu capek?"
Juwita ... tidak bisa membalasnya.
"Saya pernah ngelarang? Pernah sekali aja, mungkin iseng, Mas bilang kamu jangan sampe capek ngurus semuanya. Pernah?"
Juwita pelan-pelan menggeleng. Mendadak wanita itu berjongkok, menutup wajahnya sendiri untuk menangis.
"Tapi anak-anak ...."
Adji berlutut, kembali memeluk Juwita yang badannya menggigil oleh tangis.
Ketika tangisan Juwita berubah jadi rintihan pilu, Adji setidaknya bernapas lega.
Bagus. Dia memang harus beristirahat. Termasuk dari menahan semuanya.
"Mas di sini." Adji menerima semua kelelahannya itu sekalipun ia juga lelah. "Mas di sini. Teriak yang kenceng."
*
"Mau lo apa sih, Bang? Mau lo apa?" Banyu langsung menghampiri Abimanyu setelah memastikan ketiga adik perempuan diterima oleh nenek mereka, tanpa penjelasan.
Tapi sepertinya mereka sudah sangat mengerti itu bukan alasan baik anak-anak Juwita datang tanpa ayah ibu mereka.
"Lo inget, tiap kali Juwita mau pergi dari rumah, alesannya selalu lo," tekan Banyu. "Selalu elo. Bukan siapa pun tapi elo. Selalu."
__ADS_1
Abimanyu hanya diam.
"Lo mau apa, Abimanyu?" Banyu berdiri di depannya, menatap lurus-lurus mata seseorang yang sepertinya bukan saudara Banyu lagi. "Lo beneran ngerasa kalo misahin Papa dari Juwita bikin lo punya kesempatan. Jujur sama gue. Lo beneran mikir gitu?"
Abimanyu diam, tapi pelan-pelan menggeleng.
Tidak. Tidak terpikir sama sekali baginya.
Abimanyu tahu bahkan kalau Juwita dan Papa bercerai ... bahkan kalau Abimanyu menjadi laki-laki terakhir di dunia yang bisa menikahinya, Juwita akan memilih bunuh diri.
"Gue bukannya mau—"
"Lo mau kek enggak mau kek, kalo masih lo lakuin sama aja lo mau!" tukas Banyu muak.
Sungguh bukannya ia tak merasakan rasa penat Juwita sekarang. Ini semua terasa seperti neraka.
"Lo ngerti enggak sih adek lo berapa, anjing? Enggak usah ngitung gue kalo lo enggak peduli, tapi lo enggak liat Cetta? Lo enggak liat anak-anak Juwita, adek lo pada ngeliatin? Lo sebenernya mau ngasih cerita apa ke mereka, hah? Lo mau ngasih tau lo sayang banget sama Juwita makanya lo mau bikin dia cerai dari Papa, bokap lo, even lo enggak bisa nikahin dia nanti. Gitu?"
"Terus gue mesti gimana?!" Abimanyu akhirnya membalas teriakan itu. "Terus lo ngarepin gue gimana?! Lo bebas ngapa-ngapain, suka-suka lo tapi gue enggak?! Lo bebas nidurin cewek lo di lab fakultasnya sampe pulang malem kemarin tapi gue enggak bisa suka sama cewek yang gue mau! Gitu maksud lo?!"
"Kalo lo secinta itu," suara seseorang tiba-tiba menimpali, memaksa keduanya berpaling, "enggak kepikiran buat lo ngalah sama dia?"
Bima bersandar pada mobil Banyu, menyalakan korek untuk membakar ujung rokoknya.
"Lo kayaknya cinta banget gitu loh sama Juwita, Bi. Enggak kepikiran sama lo ngalah biar dia enggak kesiksa? Atau justru lo makin cinta kalo Juwita histeris? Fetish lo, mungkin?"
Abimanyu terbungkam telak.
*
__ADS_1