Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Kemarahan Cetta


__ADS_3

Tapi tidak. Cetta tidak sedang cari masalah.


Anak itu hanya sedih dan bingung. Dia merasa Juwita selalu saja menahan semuanya sendirian lalu malah sok-sokan berkata jangan ditahan sendirian.


Cetta kesal. Ini bukan soal cumi, tapi soal bagaimana sesuatu yang biasanya A mendadak B karena seseorang.


Seseorang yang bagi Cetta tidak penting.


"Cetta, Sayang, kamu marah yah sama aku?" Juwita baru buka suara setelah menahan darah (tentu saja khayalan) di dadanya. Ibaratnya ia memang berdarah. "Aku ada salah yah sama kamu? Gitu yah, Nak?"


Cetta yang sadar sudah menyakiti Juwita jadi bingung harus berkata apa. Pada akhirnya anak itu cuma menunduk.


Lalu setelah lama berpikir akhirnya Cetta bersuara. "Aku juga enggak suka cumi," gumam dia pelan.


Juwita mengerjap. "Ah, kamu liat di kulkas yah?"


"Kenapa dari semua kiriman malah cumi? Kenapa bukan ayam aja?"


"Cetta, itu dikasih, Nak, enggak boleh protes."


"Tapi enggak suka ya enggak suka!" bentak Cetta tiba-tiba.

__ADS_1


Membuat Juwita tersentak.


"Cetta, suara yah, Sayang, kontrol. Oke, kalau enggak suka nanti ditepiin biar kamu enggak liat—"


Bukan begitu! Cetta maunya bukan begitu! Anak itu maunya buang saja! Buang saja karena Juwita takut cumi!


Kenapa malah disimpan?! Memangnya penting disimpan?!


Cetta beranjak marah dari sofa itu, masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Tingkah dia yang bagi Juwita sulit dimengerti jelas membuat khawatir.


Sumpah, ada apa sebenarnya dengan keturunan Adji?


*


Banyu jelas tidak senang akan sikap adiknya. Sudah cukup Abimanyu yang bermasalah di rumah ini jadi jangan tambah satu orang lagi, apalagi anak kecil macam Cetta.


"Kamu kenapa bentak Juwita?" Banyu mendatangi adiknya untuk bertanya langsung apa gerangan penyebab sikap itu.


Tapi jawaban Cetta membuatnya terkejut.


"Ada cumi di kulkas."

__ADS_1


"Cuma karena itu? Kamu bentak Juwita cuma karena cumi?"


"Kak Juwita enggak suka cumi!" balas Cetta kesal. "Kak Juwita enggak suka tapi istrinya Bang Abi malah bawa cumi!"


Banyu terperangah. Barulah anak itu ingat bahwa Juwita memang sangat amat fobia cumi. Jika dibandingkan dengan ular dan kura-kura, kayaknya Juwita lebih fobia cumi. Wanita itu bahkan tidak bisa jika seseorang menyebutkan kata CUMI.


"Buat apa sih Abang nikah?" Cetta yang selalu diam akhirnya berhenti diam. "Buat apa sih Abang bawa-bawa orang baru ke sini? Dia aja enggak suka sama Kak Juwita."


"Apa?"


Tidak ada yang memerhatikan tapi Cetta diam-diam memperhatikan. Juwita terlihat marah juga sedih setiap kali Sakura ada. Sikap Juwita itu tidak dia tunjukan kecuali pada seseorang yang membuatnya sangat tidak nyaman.


Lalu, perempuan bernama Sakura itu, dia tidak pernah mengajak Juwita bicara di depan mereka. Sekalipun tidak pernah. Padahal dia orang baru tapi dia bahkan tidak berusaha bersikap baik pada Juwita.


"Kenapa sih semua orang berubah?" Cetta mengepal tangannya kuat-kuat. "Abang bilang Abang sayang sama Kak Juwita, tapi Abang justru manggil Bang Abi pulang. Abang nyuruh Bang Abi nikah sama perempuan aneh. Terus Abang enak-enakan pergi kuliah, ninggalin Kak Juwita ngadepin semuanya sendirian!"


Banyu tak dapat berkata-kata.


"Kalo kayak gini emang mending Kak Juwita pergi! Biar aku yang jagain Kak Juwita. Abang semua urus aja hidup Abang masing-masing."


*

__ADS_1


__ADS_2