Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
62. Orang Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah Juwita makan, Adji memaksa dia naik beristirahat. Papa memang punya sifat yang over protektif jika seseorang sakit, jadi Abimanyu dan Banyu tidak kaget.


Mereka justru memastikan Adji menghilang di lantai atas, baru kemudian membicarakan soal teror Juwita.


"Datengin aja langsung," cetus Banyu waktu Abimanyu melihat-lihat chat Adit lagi.


Isi chat Adit ini memang terkesan biasa, mereka akui. Dalam arti, ya tidak terlihat punya maksud misterius karena sudah jelas dia mau menggoda Juwita.


Sangat jelas.


Cuma waktu terakhir chat dikirim, itu hanya beberapa jam sebelum kejadian Juwita dipukuli.


"Yakin dulu, njir. Masa main labrak orang."


"Ini juga emang perlu dilabrak. Ngapain juga dia ngechat Juwita begitu. Udah jelas-jelas Juwita udah nikah. Dia nanyain 'lo nikah beneran' terus ngajakin kopdar. Lo nunggu apaan? Ngajakin Juwita staycation?"


Abimanyu mendengkus, tapi lama-lama dipandang, memang br*ngsek juga.


Entah datang dari mana keberanian, mereka berdua sepakat mendatangi si Adit ini. Pura-pura jadi Juwita mereka mengechat Sandy, dan meluncur ke lokasi yang diberitahukan.


Adji sebenarnya melarang mereka keluar rumah dulu, cuma Abimanyu punya alasan mau bertemu pelatihnya, jadi diizinkan. Walau mereka dikawal oleh bodyguard.


Beruntungnya bodyguard itu tidak ikut masuk ke gedung tempat Adit kerja. Waktu orang yang dimaksudkan muncul, entah kenapa juga tiba-tiba muncul kekesalan.

__ADS_1


"Maksud lo apa ngechat-ngechat Juwita?" sambar Abimanyu emosi.


Muka Adit langsung melongo. "Hah?"


"Eh, bangs*t." Banyu jagonya kalau ngajak ribut orang. "Lo nanyain Juwita udah nikah terus ujung-ujungnya malah ngajak ketemu. Mau lo apa? Ngajak istri orang masuk hotel? Lo kira murah dapetin dia?"


"Bentar, bentar, bentar. Lo berdua siapa? Maksudnya apa?"


Abimanyu mencengkram kerah Adit kuat-kuat. "Enggak usah sok tolol, anj*ng."


"Eh, babii." Adit tersulut. "Lo ngomong apa sih, hah? Ini siapa sih nih? Enggak kenal gue sama lo!"


"Lo ngechat istri bokap gue, brengs*k!"


Hampir terjadi adegan saling pukul antara Abimanyu dan Adit, tapi untungnya di sana ada orang waras yang memisahkan. Biarpun sempat adu argumen, adu ejekan dan saling anjing-anjingan, Banyu memperlihatkan bukti chat Adit pada Juwita.


"Taii." Dia mengumpat lirih. "Enggak pernah gue chat Juwita. Ini bukan nomor gue."


Jelas mereka enggak serta-merta percaya.


Tapi Adit langsung menyuruh temannya menelepon nomor dia, lalu memperlihatkan ponselnya berbunyi. Nomor yang ditelepon temannya dibandingkan dengan nomor Adit di ponsel Juwita, dan ternyata memang beda.


"Ini foto lo, kan?"

__ADS_1


"Iya emang ini foto gue." Adit langsung stres. "Dih, anj*ng. Make nama gue ngechat orang begini. Kagak, anjir. Kagak pernah. Gue enggak minta nomornya Juwita ke Sandy."


Gantian Abimanyu yang syok.


Pantas saja Juwita bilang Adit yang ini bukan Adit yang dia kenal.


Apalagi waktu Adit menelepon Sandy buat memastikan, dan memang benar tidak pernah dia minta nomor Juwita.


Abimanyu yang merasa itu aneh langsung bertanya siapa yang minta nomor Juwita darinya.


"Enggak ada," jawab Sandy. "Seinget gue enggak ada."


Banyu dan Abimanyu saling memandang bingung.


Tidak. Tunggu sebentar. Kalau ini bukan pekerjaan Adit tapi dia memakai nama Adit, berarti dia orang yang tahu soal Juwita dan Adit pernah saling kenal.


"Bang." Abimanyu memanggil Sandy. "Juwita dipukul orang."


"Hah?"


"Kejadiannya empat hari yang lalu. Cuma beberapa hari habis kita ketemu di stadion. Terus Juwita tiba-tiba diteror chat aneh. Ngata-ngatain dia, ngehujat segala macem. Ini chat sama Adit terakhir, beberapa jam sebelum kejadian."


"Gak. Gak mungkin Adit, Bi. Tau Juwita bukan dia."

__ADS_1


Kalau begitu siapa?


*


__ADS_2