Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
147. Ke Mana Banyu?


__ADS_3

Juwita menyuapi Cetta yang diam mengamati percakapan itu, sambil nampaknya menyimak baik-baik. Sebenarnya Juwita tidak mau bilang alasannya, karena entah kenapa kesannya jadi minta dibujuk juga.


Padahal Juwita benar-benar tidak mau pergi, soalnya perkataan Ibu benar.


Tapi lama-lama ditanya, akhirnya Juwita bicara juga.


"Aku cuma enggak enak sama Papamu."


Lalu Juwita menceritakan pada Abimanyu bagaimana Ibu menasehatinya. Tentu saja Juwita juga menjelaskan bahwa Ibu bukan bermaksud membuat Juwita sedih, tapi memang kenyataannya mereka agak terlalu merepotkan.


Dan itu lama-lama jadi terkesan mereka hanya memanfaatkan kekayaan Adji saja.


Juwita tak mau ada kesan seperti itu dalam hubungan mereka.


"Mending uangnya buat persiapan sekolah kamu di Asgard. Aku denger biayanya mahal banget kalo sekolah di sana. Jadi daripada abis buat liburan yang enggak penting-penting banget, ya emang mending dipake buat yang lain, yang lebih penting. Itu aja."


Abimanyu yang mendengar itu cuma bsia mengerutkan kening.


Kayaknya Juwita tidak tahu secara pasti keuangan Adji, deh. Abimanyu juga tidak tahu secara pasti sih tapi waktu Mama masih ada, sebenarnya Mama masih lebih boros dalam segala hal dan Adji tidak pernah protes.


Dulu Juwita pernah bilang kan Abimanyu cuma tahu enak dan tidak tahu rasanya susah?


Iya, memang. Dalam ingatan Abimanyu, tidak pernah ada waktu ia susah. Mungkin ada dulu waktu kecil, yang Abimanyu tidak terlalu ingat, tapi sekarang tidak.

__ADS_1


Bahkan pada piala dunia tiga tahun yang lalu, Adji memboyong mereka sekeluarga—tentu bersama Mama dulu—untuk menginap di hotel mewah demi menemani Cetta nonton bola secara langsung.


Mereka bolak-balik nyaris satu bulan karena Cetta dan Mama mau nonton dari lapangan.


Kayaknya kalau cuma liburan di Eropa beberapa hari, Adji tidak bakal jatuh miskin.


Tapi di kepala Juwita dan keluarganya, mungkin itu seperti Adji harus menepikan beberapa kebutuhan, harus menabung beberapa minggu baru uangnya bisa sedikit cukup.


"Yaudah kalau lo enggak mau." Abimanyu cuma bisa berkata begini sekarang.


Terus Abimanyu duduk di sana, menemani Juwita dan Cetta sampai mereka tidur bersama.


Begitu yakin mereka nyenyak, Abimanyu beranjak. Pergi menghampiri Adji yang sedang membaca di ruang santai. Lalu menceritakan apa saja yang Juwita katakan padanya.


Adji menghela napas. "Dibilang gampang kayak ngeludah sih enggak juga, tapi kalo susah ya enggak segitunya. Keuangan rumah kan berubah sejak Mamamu enggak ada. Mamamu yang biasanya belanja, biasanya beli ini beli itu, kan kemarin tiba-tiba stop."


"Kayaknya Juwita mikir Papa tuh perlu nabung seratus ribu per seratus ribu buat liburan."


Adji tertawa kecil.


Bukan dalam arti meremehkan, tapi buat Abimanyu, uang ratusan juta itu tidak terlalu banyak. Walaupun secara langsung ia tak pernah memegang, tapi Abimanyu mengamati kalau Adji ya biasa saja.


Soalnya tas Mama ada yang ratusan juta padahal kelihatannya kayak tas tidak layak beli—di mata Abimanyu.

__ADS_1


"Papa kenapa enggak ngasih Juwita aja keuangan keluarga kayak Mama dulu?"


"Pelan-pelan dulu," jawab Adji apa adanya. Juwita belum terlalu terbiasa sama lingkungan kita kan. Kamu liat aja Juwita juga jarang bergaul. Memang latar belakang sosialnya sama kita beda, jadi enggak bisa langsung dipaksa 'kerjain ini, kerjain itu'. Nanti yang ada Juwita susah sendiri."


Iya, sih. Walaupun akhirnya Juwita jadi tidak paham kesanggupan Adji itu berapa.


"Yaudah, biar Papa ngomong sama Ibu-nya Juwita. Kamu temenin Juwita sama Cetta."


"Hm."


Adji beranjak, mengambil kunci mobil dari laci karena berencana langsung pergi. Tapi sebelum itu, Adji menoleh, menatap anak sulungnya itu.


"Adekmu ke mana?"


Maksudnya Banyu.


Tadi anak itu bilang mau ke perpustakaan tapi sekarang sudah mulai sore, dan dia sama sekali belum pulang.


"Enggak tau."


"Coba kamu telfon. Nanti Juwita nanyain dia ke mana."


Ohiya, yah. Anak itu biasanya pulang tepat waktu, tapi kenapa dia terlambat hari ini?

__ADS_1


*


__ADS_2