
Nabila tersentak kaget. Menoleh pada asal suara dan terkejut menemukan suaminya Fina. Namanya Nabila tidak tahu karena ia tak pernah ingin tahu, juga tidak pernah mendengar nama dia. Semua orang lebih sering memanggilnya wakil kepala desa.
Dia berusia jauh lebih tua dari Zayn.
"Kamu lagi apa di sini, Cantik?" tanya dia lembut, tentunya berbahasa Tamil.
Dia tidak melepaskan tangannya dari bahu Nabila.
Nabila menahan diri untuk tidak menepis sebab takut itu jadi masalah. Gadis itu menggeleng, berpaling ke arah lain dengan harapan bahwa Zayn atau Rahwana segera muncul.
"Jangan di sini sendirian. Nanti kamu kenapa-napa loh."
Nabila cuma diam.
Tapi keterdiaman Nabila justru membuat tangan itu semakin berani. Memanfaatkan kekosongan dari desa dan sepi serta gelapnya sekitar, pria tua itu mengusapkan tangan kasarnya di punggung Nabila yang halus.
Setelah sepuluh tahun tinggal berdampingan, pria itu sudah paham bahwa tidak ada satu waktupun Nabila mengeluarkan suara, bahkan saat dia kesakitan. Maka dari itu dia juga tidak akan bersuara saat tangannya ditarik menuju ke kediaman pria itu dan Fina.
Kebetulan, Fina sedang ada di dalam rumah Nyonya Elis.
"Ayo sini. Kamu enggak perlu malu." Pria itu terus memaksa Nabila dengan kekuatan yang di atas kemampuan gadis tersebut. "Selama ini orang-orang semua ngatain kamu bawa sial. Enggak bakal ada yang mau nikahin kamu. Jadi lebih baik kamu muasin saya aja di sini."
Nabila berusaha keras memberontak. Kakinya terseok-seok mengikuti saat ia pun sekuat tenaga mencoba lepas.
"Sini, Sayang. Ayolah, sini sama Om. Kenapa malu-malu gitu?"
Nabila menangis ketakutan. Kini pria itu benar-benar sudah mencapai pagarnya, mendorong pintu agar sedikit terbuka.
Gadis itu cuma bisa memejamkan mata, mengeraskan tubuhnya agar tidak terseret sekalipun percuma. Dalam hati, ia berharap seseorang mendengar rintihan bisunya.
Tolong.
....
....
....
Grep!
Sebuah tangan tiba-tiba menarik tangan Nabila yang bebas, disusul sebuah dekapan kuat memaksa wajah Nabila terkubur di dadanya.
Entah apa yang terjadi tapi mendadak suara seseorang jatuh ke tanah dapat Nabila dengar. Kemudian usapan khas di kepalanya, pelukan erat di tubuhnya yang tak mungkin tidak Nabila kenali.
"Enggak sadar tampang," ucap orang itu sebelum dia menunduk dan tersenyum. "Dia bukan level kamu, kan?"
__ADS_1
Tangisan Nabila semakin pecah.
Zayn tertawa kecil memeluknya. Menepuk-nepuk punggung Nabila seolah ingin berkata bahwa dia ada jadi Nabila tidak perlu takut.
"Kamu ngapain di luar sendirian, Sayang?" bisik Zayn lembut. "Om emang janji bakal dateng, tapi enggak perlu kamu tungguin di depan rumah. Kalo ada apa-apa kayak gini kan berabe misalnya Om telat lebih lama."
Nabila justru bergetar memeluknya.
"Enggak ada apa-apa," gumam Zayn di puncak kepalanya. "Kamu aman sama Om. Jangan takut lagi."
Nabila pelan-pelan mendongak, memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi air mata. Zayn tampak lembut memandangnya, menyapu air mata di pipi Nabila sebelum dia mengedik ke arah suaminya Fina tadi.
"Kamu mau Om ngapain dia, hm? Bolongin kepalanya, kebiri aja, atau sekalian buang aja ke sungai?"
Nabila menggeleng. Ia tak mau melakukan apa-apa karena Nabila juga sudah baik-baik saja. Lagipula Zayn bilang Nabila aman, jadi semua baik-baik saja nanti.
"Rahwana mana? Kok dia enggak sama kamu? Tumben."
Nabila memiringkan wajah bingung, lalu menggeleng. Ia juga tak tahu karena Rahwana tidak bicara padanya soal dia ke mana. Namun memang tumben dia belum di rumah padahal sudah malam.
"Gitu." Zayn tersenyum. "Tutup mata kamu dulu kalo gitu. Om punya hadiah."
Dengan senang hati Nabila menutup matanya.
*
Sungguh ironi.
Zayn lantas berbalik, mendekati tempat duduk di dekat pagar kediaman Elis untuk mengambil rangkaian bunganya. Zayn menatap rangkaian bunga cantik yang ia buat tanpa alasan jelas itu, membuatnya justru terpikir pada Rahwana.
Pergi ke mana anak sialan itu? Dia jelas sudah tahu soal pasukan yang dikirim Rose untuk Bisu-nya, namun dia tidak di sini untuk sekadar menjaga?
(Dia jelas punya rencana sendiri, pikir Zayn seraya berjalan mendekati Nabila lagi. Dia cuma bilang mau mulangin anaknya Abimanyu. Dia enggak bilang mau lepasin. Tapi jelas itu bocah juga tau enggak gampang buat dia ngelindungin Tante Elis.)
Abimanyu pasti mau melenyapkan wanita yang sudah menyekap anaknya bertahun-tahun, tapi Rahwana juga pasti tidak akan rela ibunya dilukai. Anak itu menyayangi istrinya, namun dia dibesarkan oleh kasih sayang ibunya. Dia tidak akan pernah memilih antara mereka berdua.
"Kamu boleh buka mata sekarang."
Meski pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang apa lagi kerusuhan di kepala Rahwana, Zayn tersenyum menyerahkan karangan bunganya pada Nabila.
Gadis itu tertegun. Mendongak pada Zayn dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa? Lebih suka bunga mawar?"
Nabila menggeleng. Segera memeluk ratusan batang bunga matahari mungil itu.
__ADS_1
Ketika melihat dia lagi-lagi tersenyum manis hingga pipinya tampak bulat, Zayn mengusap-usap puncak kepala gadis itu. Memperlakukannya seperti kucing kecil kesayangan.
Tidak lama lagi.
Momen di mana dia tidak akan tersenyum begini ... tidak akan lama lagi. Dia mungkin akan menutup mulutnya yang terlalu sering tersenyum pada Zayn itu, menangis tanpa suara melihat ayahnya bersujud di tanah demi menyelamatkan dia.
"Yaudah." Zayn menarik tangannya dari rambut gadis itu. "Kamu mending masuk sekarang. Om mau beresin dia dulu sekalian mau ngomong sama Tante Elis."
Zayn berjalan meninggalkan Nabila, mendekati pagar rumah Fina di mana suaminya terbaring pingsan. Zayn tadinya mau melubangi kepala dia sekalian, tapi setelah dipikir-pikir, itu tidak terlalu berguna juga. Lagipula orang ini tidak akan pernah melihat Nabila juga Fina setelah ini. Mau dibiarkan pun tidak akan merugikan Zayn.
Tangan Zayn baru akan mencapai pagar ketika tiba-tiba tangannya diraih.
Zayn berpaling, menemukan gadis itu tengah menatapnya lekat. Jujur saja, dia jarang menatap Zayn seperti itu hingga membuatnya sedikit ragu.
"Kenapa?" Zayn menggenggam tangan kasar Nabila yang sudah terlalu terbiasa bekerja. "Kamu mau sesuatu? Permen?"
Zayn merogoh sakunya, mengeluarkan dua lolipop mangga yang kebetulan masih tersisa. "Nih, buat kamu sama Rahwana."
Kadang-kadang Zayn lupa bahwa perempuan di depannya sudah berusia tujuh belas tahun di mana dia tidak sesemangat dulu menerima permen. Nabila menerimanya, tapi dia tetap menatap Zayn lekat.
"Kenapa sih, Sayang?" Zayn mengusap-usap pipinya. "Hm? Bocahnya Om ini mau apaan?"
Nabila malah tersenyum nyaman. Memegang tangan Zayn agar tetap di pipinya.
Mulut dia sempat terbuka, tapi kemudian terkatup, digantikan oleh sebuah senyum yang membuat napas Zayn terasa berat.
"This can't be happen," gumam Zayn dengan bahasa Inggris, agar Nabila tidak mengerti. "What did you do to me, Sweetheart?"
Nabila memiringkan wajah. Gadis kecil ini tidak punya pendidikan. Tentu aaja tidak mungkin dengan kesehariannya yang penuh pekerjaan kasar dan siksaan batin. Jangankan keterampilan bahasa, menulis dan membaca pun Nabila tak bisa.
Dia yang di usia ini seharusnya sedang sibuk bertukar gosip soal kakak kelas ganteng atau teman sekolah menyebalkan kini di sini, berdiri tanpa suara.
Dan semuanya terjadi karena Zayn.
"B," panggil Zayn dengan panggilan sayangnya. "Kalo Om bilang Om ini curang, kamu percaya?"
Zayn pikir dia menggeleng, lalu memberi isyarat bahwa dia percaya Zayn adalah orang baik. Namun Nabila justru mengangguk.
"Ohya? Menurut kamu Om curang di mana?"
Nabila bukan menjawab, tapi mencium pipi Zayn sebelum dia berlari pergi, membawa bunga dan permen di tangannya.
Keheningan yang dia tinggalkan di sekitar Zayn benar-benar sulit dijelaskan.
Zayn menyentuh pipinya, menatap ke arah gadis muda itu berlari sebelum tiba-tiba mendengkus.
__ADS_1
"Kamu yang curang, Nabila."
*