Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
36. Jalan-Jalan Keluarga


__ADS_3

Dari semua wajah yang hadir dalam acara makan siang dan jalan bersama ini, sepertinya cuma Cetta dan Juwita pemilik wajah gembira.


Banyu bahkan sudah mengomel sejak di mobil, berkata 'kenapa juga gue ngabisin waktu libur buat nemenin lo belanja' lalu menutup wajah dengan jaket, lanjut tidur.


Abimanyu masih terlihat jengkel pada masalahnya sendiri, dan Adji memang pada dasarnya tidak tersenyum kecuali dibikin tersenyum oleh perkataan.


Sungguh jalan-jalan bersama keluarga yang dingin.


"Makan apa?" Adji bertanya pada Juwita begitu mereka siap mampir ke mana pun yang akan diputuskan.


Tapi, sebuah suara mendahului.


"Burger." Itu dari Banyu.


"Lo enggak idup kalo enggak makan burger apa?" Abimanyu menimpali perkataan adiknya. "Gak. Yakiniku."


"Yakiniku siang-siang malah kayak maniak, gobl*k." Banyu membalas pedas. "Pokoknya burger."


"Cetta mau es krim." Yang kecil tak mau ketinggalan.

__ADS_1


Sementara yang sebenarnya ditanya memilih diam.


Adji menoleh pada Juwita. "Kamu?"


Dari belakang, Juwita bisa merasakan kedua anak Adji melotot padanya sambil mengancam dalam hati agar Juwita memilih makanan pilihan mereka.


Ini kalau Juwita jawab pizza, mungkin perang meledak.


"Ayam kali, yah?" Juwita memilih jalan tengah. "Ada restoran favorit saya enggak jauh dari sini. Ayamnya enak. Menunya ada burger juga."


"Gue enggak suka burger ayam," balas Banyu jengkel.


"Beefburger-nya ada, Bocah. Tenang aja." Juwita menoleh pada Abimanyu. "Hari ini masih belum menuhin protein, kan? Ayam aja, yah? Yakiniku lain kali bikin di rumah."


"Ini restoran favorit kamu?" tanya Adji sewaktu mereka duduk bersama, menikmati hidangan. "Paling suka yang mana?"


"Mi ayamnya." Juwita sedang memakan itu sekarang. Mi goreng dengan tumpahan daging ayam penuh. "Tapi jarang sih dateng ke sini. Sekali dua kali sebulan aja. Soalnya menunya mahal."


Adji tersenyum kecil. "Kamu suka ngitung kalori protein makanan juga? Berarti fitness juga?"

__ADS_1


"Gym enggak. Cuma olahraga kardio dua tiga kali seminggu. Soalnya pas kerja berasa udah nyusahin otot juga, jadi enggak ngerasa terlalu butuh."


"Jogingnya rutin, yah?"


Abimanyu dan Banyu sama-sama berdecak kesal melihat bagaimana Adji mulai lebih dekat dengan Juwita. Padahal tidak perlu juga bertanya sedetail itu, tapi karena dia bertanya, itu bukti ketertarikan dan ingin mengenal lebih dalam.


Mood mereka yang sejak awal tidak baik makin tidak baik. Apalagi sewaktu pergi ke mal, Juwita dan Adji malah asyik mengobrol berdua diikuti mereka.


Sebenarnya Juwita dan Adji juga tidak sadar. Entah kenapa malah tahu-tahu mereka bertukar cerita sekarang.


Saking asyiknya, mereka sampai tak sadar, Abimanyu dan Banyu sudah berhenti berjalan. Cetta-lah yang memanggil hingga keduanya berbalik.


Tidak. Abimanyu dan Banyu bukan berhenti karena muak. Juwita melihat Abimanyu bersinggungan dengan sekelompok anak SMA juga, saling melirik tajam.


"Itu kayaknya tim dia." Adji bergumam. "Saya selalu liat Abimanyu yang disalahin kapan pun timnya kalah."


Pemain terbaik tapi karena terlalu 'baik' dalam bermain justru membuat mereka yang buruk kesulitan mengejar. Kasihan sekali, anak genius itu.


"Kalian ke toko sepatu atau jaket aja." Adji mengultimatum. "Beli aja yang kalian mau."

__ADS_1


Abimanyu berbalik pergi, tapi tidak terlihat senang diberi kalimat belanjalah sepuas hati.


*


__ADS_2