Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Penyesalan Terbesar


__ADS_3

Sejak Juwita datang ke rumah ini, jarang ada keheningan di meja makan, entah sarapan ataupun makan malam. Namun untuk pertama kalinya meja sangat hening dari suara Juwita dan hanya ada suara sendok bersama suara Lila dan Nia yang mengobrol satu sama lain.


Penghuni baru alias Sakura jelas saja merasa canggung. Apalagi, perempuan itu masih berpikir untuk pindah alih-alih tinggal di kediaman yang nampaknya menakutkan ini.


"Yang." Sakura diam-diam menepuk lengan Abimanyu setelah mereka beranjak dari meja makan. "Jalan yuk. Sekalian aku juga mau nyiapin keperluan buat kuliah besok."


Niat Sakura setidaknya mereka pergi seharian bersama, mungkin ke apartemen untuk menghabiskan waktu layaknya pengantin baru, tapi Abimanyu bahkan tidak menoleh.


"Sorry I can't," jawab pria itu dengan ponsel sebagai fokusnya. "Kamu boleh pergi kalo mau."


Sakura tercengang mendengar pernyataan yang benar-benar penuh cuek itu. Apa-apaan sebenarnya? Kenapa Abimanyu mendadak seperti tidak tertarik sama sekali bahkan melihatnya?


"Beb, kamu marah sama aku?"


"No," jawab Abimanyu singkat, tanpa perasaan.


"Tapi aku ngerasa kamu bete sama aku. Kamu kenapa? Bilang kalo ada masalah. Atau kamu kesel karena aku pengen pindah? Bi, aku tuh cuma ngira kamu juga mikir kayak gitu. Lagian, semua orang kayak gitu. Katanya mending tinggal sendiri di kos-kosan daripada sama orang tua. Aku cuma—"


"Sakura, can you just stop talking?" Abimanyu menoleh muak. "If you wanna go, just go. Aku juga sibuk."


Diberi ucapan seperti itu jelas membuat Sakura berang sekaligus terluka. "Sibuk ngapain? Sibuk manjain adek kamu yang terlalu manja itu? Atau sibuk ngurusin Mama tiri kamu yang juga manja itu?"


"SHUT UP!"


Suara bentakan Abimanyu menggelegar ke telinga semua orang.

__ADS_1


Juwita yang sedang menyisir rambut Nia seketika menoleh.


Semua orang di keluarga ini seharusnya sepakat untuk tidak berteriak kencang terutama di depan anak-anak yang masih kecil. Dan bagaimana bisa Abimanyu meneriaki istrinya pagi-pagi buta begini?


"Ibu." Nia yang terkejut langsung menatap Juwita.


"Ssshh." Juwita melepaskan tangannya dari rambut Nia. "Lila, bawa Nia sama Yunia ke ruang main. Nanti Ibu nyusul."


Lila setidaknya cukup dewasa buat membaca perasaan marah di wajah seseorang. Anak itu menarik tangan Nia dan Yunia agar berjalan pergi bersamanya, memberi ruang bagi Juwita menghadapi Abimanyu.


Rumah sedang kosong sekarang. Banyu masuk kuliah sedangkan Cetta aktif bersekolah dan Adji pergi kerja.


"Kalian kenapa?" tanya Juwita lembut, karena ia tak mau ada keributan di depan anak-anaknya. "Sakura, kamu kenapa?"


Perempuan itu memberanikan diri berbicara karena nada suara Juwita. "Aku enggak setuju ide tinggal bareng," katanya defensif. "Aku tau kalo Tante enggak mau pisah dari Abimanyu tapi harusnya Tante juga ngerti kalo kita butuh ruang pribadi. Tante enggak bisa maksa-maksa semua orang tetep sama Tante."


"Denger, Sayang." Juwita mendekat, menyentuh punggung Sakura yang tegang. "Abimanyu belum ... terlalu mandiri buat tinggal berdua aja sama istrinya. Tante enggak akan ikut campur masalah kalian, asalkan kalian enggak ... ya intinya enggak saling nyakitin."


Mereka berdua diam.


"Abimanyu, kita ngomong berdua."


Anak itu langsung beranjak, mengikuti langkah Juwita keluar rumah. Sebagai seorang wanita juga seorang istri dan ibu tiri dari anak ini, Juwita tidak bisa membiarkan ada kekerasan baik lewat mulut di rumah ini.


"Kamu bukan anak-anak," ucap Juwita, kini tak lembut. "Jangan lampiasin emosi kamu ke istri kamu. Yang milih dia jadi istri kamu itu kamu, jadi jagain baik-baik. Dan please, Abi, jangan teriakin orang di depan adek-adek kamu."

__ADS_1


Abimanyu diluar dugaan membalas, "Sorry, gue enggak sengaja."


Perkataan itu setidaknya membuat Juwita sedikit menghargainya. Baiklah kalau dia merasa bersalah. Itu lebih baik.


"Gue cuma enggak tau mesti gimana, Juwita."


Juwita terkejut mendengar dia curhat. Setelah semuanya, ia pikir tidak akan ada lagi sesi konsultasi masalah satu sama lain. Tapi karena dia terlihat kesulitan dan juga ini melibatkan anak orang, Juwita harus mendengarnya.


"Kamu kenapa? Kalian ada masalah apa?" tanyanya hati-hati.


Abimanyu melangkah lebih dekat, berhenti persis di hadapan Juwita.


Demi Tuhan, Juwita berpikir ada masalah serius antara mereka jadi ia sabar menunggu curhatan Abimanyu, tapi tiba-tiba Abimanyu memegang tangannya.


"Gue milih dia karena dia ngingetin gue ke elo," gumam anak itu. "Tapi sekarang udah enggak. Gue enggak tau gimana caranya enggak eneg sama dia, Juwita."


Hah.


Kenapa sebenarnya Juwita berharap lagi? Sungguh sebuah kebodohan.


"Kamu tau, Bi?" Juwita menarik tangannya lepas. "Aku nyesel pernah sayang sama kamu."


Itu adalah penyesalan terbesar Juwita dalam hidupnya.


"Juwita—"

__ADS_1


"Lupain. Aku enggak peduli urusan kamu."


*


__ADS_2