Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
116. Biar Aku Yang Pergi


__ADS_3

Ternyata di teras rumah, Banyu dan Cetta duduk menunggu Juwita pulang. Mereka mengerjap ketika Juwita datang dengan wajah memerah, kentara habis menangis parah.


Apalagi wajah Juwita juga terlihat layu, hal yang biasanya tidak mereka lihat di wajah ibu tiri mereka itu.


"Kakak."


Biasanya Juwita sesedih apa pun akan tetap menggoda mereka. Entah sekadar mengucapkan 'cieeee nungguin aku pulang' atau sesuatu yang konyol macam 'mama tiri syantik udah pulang, duhia anak sontoloyo'.


Tapi ketika turun, Juwita cuma berekspresi muram, mengusap sekilas puncak kepala Cetta.


"Kalian udah makan? Udah pesen?" tanya dia tanpa tenaga, seperti orang yang terlalu capek buat bertanya.


Dan memang benar terlalu capek buat bertanya. Juwita bahkan tidak sadar mengabaikan jawabannya, mau berlalu masuk saja.


"Lo habis nangis?" Banyu menahan lengan ibu tirinya itu. Khawatir dia kembali mengalami sesuatu di luar sana tapi malah tidak mengatakannya. "Lo kenapa? Ada orang jahatin lo?"


"Enggak pa-pa." Juwita menarik lengannya dari Banyu, tetap berlalu masuk.


Orang bodoh yang percaya Juwita tidak apa-apa. Perempuan itu masuk ke dapur, membuat makanan untuk Banyu, untuk Cetta dan untuk Adji.


Untuk dirinya tidak ada.


Sesekali Banyu perhatikan Juwita cuci muka, membasahi wajahnya cuma buat menutupi kalau air mata keluar membasahi pipinya juga.

__ADS_1


Mendadak, Banyu mau membunuh Abimanyu.


Tidak ada senyum di rumah ini sejak Mama pergi. Bahkan Cetta pun tidak bisa mengembalikan kebahagiaan seseorang meski dia bertingkah konyol.


Sekarang Banyu sudah merasa baik-baik saja, rela dan ikhlas atas kepergian Mama, juga menerima jika Juwita adalah pengganti Mama.


Senyum dan tingkah konyol Juwita adalah pilar baru di rumah ini.


Juwita malah berdiri di sana, mengusap-usap air matanya tanpa suara.


Kenapa sih semua orang tidak mau tenang sebentar saja?


*


Kadang-kadang jika malam tiba, Juwita turun ke kolam renang cuma buat menangis sendirian. Tidak tahu harus apa lagi, jadi pada akhirnya memang Juwita cuma menangis.


Kemarin waktu Ajeng berulah gila, Juwita memang takut tapi secara mental, ia baik-baik saja. Mudah sembuh, mudah mengembalikan ketabahan hatinya.


Itu karena mereka semua berkumpul. Adji, Abimanyu, Banyu dan Cetta, semuanya kompak.


Tapi masalah kali ini berbeda. Abimanyu pergi dari rumah, keluarganya Adji menyalahkan Juwita, ditambah pembicaraan kalau Juwita malah memperkeruh hubungan Adji dan anaknya demi harta dan posisi sebagai nyonya baru.


Yang bikin Juwita menangis itu semua dari keluarganya Adji.

__ADS_1


Itu semua dari 'keluarga' sendiri.


Berhari-hari Juwita diam, sampai semua masalah itu sudah menumpuk di kepalanya. Pada puncak, Juwita sudah tidak tahan.


Waktunya ia membuat keputusan.


"Kamu jemput Abi, Mas."


Juwita akhirnya bicara pada Adji ketika mereka hanya berdua.


"Biar aku pulang ke Ibu. Kamu jemput anakmu."


Adji yang mendengar itu tentu saja tersentak.


Beberapa hari terakhir Adji memang banyak diam. Karena Adji mau tenang, tak mau membuat Juwita semakin tertekan dengan membesar-besarkan masalah.


"Kamu kenapa ngomong kayak gitu?" Adji memegang tangan istrinya. Tak sadar bahwa tangan Juwita gemetar. "Kamu kenapa?"


Juwita sudah tidak punya tenaga. Menangis pun Juwita sudah capek. Yang ia mau sekarang cuma terbebas dari semua ini.


"Bawa Abi pulang. Kasian dia di rumah orang."


*

__ADS_1


__ADS_2