Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Belanja (1)


__ADS_3

"Mas."


Semua orang tampak sedikit bingung saat Adji pulang, Juwita beranjak tiba-tiba dari sofa untuk memeluknya. Tidak ada yang salah dari pelukan suami istri itu. Justru itu terlihat baik jika mereka sudah punya tiga anak, namun mereka masih mau fokus memuaskan hasrat pribadi mereka terhadap hubungan cinta selain di tempat tidur.


Tapi itu tidak terlihat 'wajar' juga karena semua keluarga berkumpul, mereka berbicara akrab, lalu Juwita malah tiba-tiba beranjak memeluk Adji.


Adji yang menerima pelukan itu sempat diam, lalu tersenyum.


"Mas pulang," bisiknya, seolah-olah dia tahu ada ketakutan dalam diri Juwita yang disembunyikan.


Juwita melepaskan pelukan itu, ikut tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. "Aku nyuri start soalnya bentar lagi kamu full."


Hanya sesaat setelah itu, anak-anak berlari mengelilingi Adji. "Papa!"


Juwita membiarkan mereka memuaskan diri akan kerinduan masing-masing, pergi ke dapur membuatkan minuman. Ketika Juwita datang bersama minuman untuk Adji, Ibu dan Mama sama-sama menatapnya tanpa suara.


Ya, tentu saja mereka punya kepekaan tapi Juwita bukan tipe yang suka sesumbar mengenai masalah rumah tangga. Jika orang-orang datang berbondong-bondong dengan pendapat mereka, masalah akan semakin besar bukannya selesai.


Ketika malam semakin larut, masing-masing dari mereka masuk kamar. Tentu saja, Juwita mengantar anak-anaknya tidur di kamar mereka juga.


"Mimpi indah, bayi-bayinya Ibu." Juwita mengecup kening mereka satu per satu. "Besok nikahan Abang, jadi tidur nyenyak terus bangun pagi-pagi."


Lila dan Nia mengecup pipi Juwita bersamaan.

__ADS_1


"Sayang Ibu."


Juwita tertawa kecil, tak pernah tidak terharu mendengar ucapan semacam itu dari anaknya. Terakhir ia mengecek Yunia di kotaknya, melihat dia masih memeluk boneka.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Juwita lembut sebab Yunia terlihat lebih lesu dari biasanya.


Anak itu malah bangun memeluk Juwita, seolah-olah ada sesuatu yang mau dia katakan tapi tak bisa. Yah, dia baru berusia dua tahun dan punya kepribadian pemurung tidak seperti Lila dan Nia.


Semua anak-anak sudah tenang. Juwita pun sudah mengecek Cetta dan Banyu di kamar mereka masing-masing sebelum akhirnya bisa naik, menemukan Adji duduk memegangi foto Melisa.


"Kangen sama Mbak Melisa?"


Adji mendongak. "Kalau aku bilang iya, enggak cemburu?"


Pria itu tertawa kecil. Menarik tangan Juwita untuk menciumnya sambil kembali melihat foto itu.


"Mas cuma kepikiran, Melisa pasti mau di sini. Abimanyu itu anak kesayangan Melisa, dia bilang karena itu anak pertamanya, dia spesial."


Juwita pernah mendengar mitos dari temannya. Mereka bilang entah kenapa anak kesayangan selalu jadi anak paling bermasalah. Anak yang paling sering mengecewakan dan paling membuat sakit hati orang tuanya.


"Ngomong-ngomong, Mas," ucap Juwita, mengalihkan diri dari pikiran yang bisa saja membuatnya kasihan lagi pada Abimanyu, "kamu bisa temenin aku belanja sekarang?"


Adji mau tak mau mendongak. "Sekarang?"

__ADS_1


Ekspresi Juwita jadi berubah canggung. Wanita itu duduk di lengan kursi Adji duduk, meremas lengannya penuh maksud. "Aku mau belanja, boleh enggak?"


"Boleh, Sayang, tapi sekarang?"


"Maksud aku ... belanja."


Adji diam, tampaknya bingung kenapa Juwita mengulang kata itu seolah ada maksud lain. Tapi kemudian Adji memahaminya, dari sikap Juwita.


"Berapa ratus?" tanya Adji, dengan senyum menahan tawa.


"Entah?" Juwita meringis. "Mungkin ... M?"


"Okay."


"Okay?"


"Okay." Adji merangkul pinggangnya, mengecup lengan Juwita lembut. "Kamu jarang minta uang lebih buat belanja, Sayang. Kamu istri paling enggak ribet yang Mas punya. Enggak suka ngomel, pengertian, sabar ngurus anak-anak."


Adji beranjak, merangkul Juwita untuk pergi. "Enggak ada yang enggak boleh buat istri kayak kamu."


Senyum Juwita langsung merekah lebar. Diambil kardigan rajutnya sebelum mengikuti Adji yang juga memutuskan tidak ganti baju.


Mereka pergi diam-diam, tapi Juwita setidaknya memberitahu Banyu bahwa ia ada urusan mendadak jadi harus pergi.

__ADS_1


*


__ADS_2