Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Tidak Peduli Pada Dunia


__ADS_3

"Woi, breng-sek." Begitu seluruh kegiatan kumpul keluarga selesai, Banyu langsung pergi ke kamar Abimanyu untuk memastikan.


Banyu merasa perlu memastikan sebenarnya sudah sampai tahap mana kegilaan Abimanyu.


"Lo tau, Bang? Kalo cuci darah bikin lo berenti jadi sodara gue, gue cuciin darah lo ampe bersih sekarang. Dasar orang gila!"


Abimanyu melepaskan kausnya tanpa mengindahkan ucapan Banyu.


"Lo kira Papa orang goblok? Lo pernah bilang sama gue lo ngaku ke Papa pernah suka sama Juwita. Lo kira Papa enggak bakal nyadar itu yang lo godain nyokap adek sebapak lo sendiri!"


Abimanyu justru tertawa. "Kenapa lo kayak syok banget sih, Dek? Itu cuma lagu."


"Lo bisa hamilin cewek stranger pake lagu-nya Justin Beiber jadi enggak usah sok polos!"


"Lo yang sok polos." Abimanyu duduk di kasurnya dan menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya. "Karena lo adek gue biarpun kayaknya lo enggak mau banget, sini gue kasih tau."


Abimanyu mengembuskan napas bersama asap ke udara dan tersenyum.


"I slept with her in my dream every single night. Actually, sometimes it's ... it's a day not just night." [Gue tidur sama Juwita tiap malem di mimpi. Kadang-kadang, juga siang.]


Banyu tak tahu harus terperangah ataukah sebenarnya sudah tahu namun berharap Abimanyu tidak menyebutkannya.

__ADS_1


Itu benar. Seandainya saja mencuci darah itu bisa memutuskan tali persaudaraan, Banyu rela membayar satu triliun buat mencuci bersih darah orang ini.


Entah setan macam apa yang merasuki dia namun terjamin dia sudah berteman dengan setan itu sejak lama.


"Lo enggak ngarep gue suka sama Juwita platonik, kan? Berhubungan kayaknya lo juga udah expert."


Abimanyu melebarkan kakinya, menumpukan siku pada pahanya saat menatap Banyu remeh.


"Gue tau lo macarin Talisa diem-diem soalnya yang lo suka dari dia ya cuma enak tangan lo megang i-tu-nya. Truth be told kayaknya berkat lo makin besar."


Abimanyu tertawa. "Kalo Juwita tau lo yang besarin melon anak SMP, kayaknya dia bikinin lo kue ucapan selamat. Enggak semua tangan cowok punya skill."


"Fvck her, brother, not me."


Pintu kamar Abimanyu dibanting tertutup, meninggalkan Abimanyu yang kembali termenung sendirian.


Ya, Abimanyu tahu otaknya sudah rusak. Mama tidak mengajarinya merendahkan wanita dan sejujurnya Abimanyu justru diajari buat menghargai wanita karena alasan ini dan itu.


Lantas memang apa yang bisa diharapkan? Banyu pikir Abimanyu akan berkata 'asalkan kau bahagia' maka itu cukup dengan mencintai?


Cuih.

__ADS_1


Semua sudah terlanjur rusak. Abimanyu sudah tidak bisa memperbaiki apa-apa dan ia tak mau, jadi biarkan saja rusak.


Setelah sepuntung rokoknya habis, Abimanyu beranjak. Berniat ke dapur untuk mendapatkan air saat ia mendengar dari kamar adik-adiknya, suara mereka masih terdengar. Bersama suara Juwita.


Abimanyu mengambil botol air lalu mendekati kamar anak-anak. Melihat dari sela pintu, Juwita sedang mengusap-usap kepala Nia dan Lila sedangkan Yunia sudah tidur.


Ketidakberadaan Adji di sana sudah cukup membuat Abimanyu diam, memandangi semua itu sambil menenggak air. Tatapan Abimanyu tertancap lurus pada Juwita, pada wajahnya, pada matanya yang lembut dan penuh kasih sayang, pada bibirnya yang manis dan sangat mudah tersenyum, pada kecantikan yang rasanya tidak dimiliki siapa pun selain dia sendiri.


Abimanyu tak munafik. Ia mau memilikinya dan merasakannya. Bukan sekadar fantasi dan rasa menjijikan di kepalanya.


Napas Abimanyu berembus berat dan panas. Entah sudah berapa kali ia menyesal tidak mencium Juwita saat dia berada di depannya.


Kenapa Abimanyu harus selalu bersabar? Kenapa ia harus selalu menahan diri dengan alasan omong kosong yang bahkan tidak ia pedulikan?


Abimanyu tidak peduli pada orang-orang. Abimanyu tidak peduli pada dunia dan seisinya berbicara.


Hatinya menginginkan Juwita. Tubuhnya menginginkan Juwita.


Karena itu Abimanyu akan berusaha mendapatkannya. Bagaimanapun juga.


*

__ADS_1


__ADS_2