Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
49. Obat Stres


__ADS_3

Adji membuka mobil dan membantingnya saat ditutup, hingga kedua anak yang tersisa di dalam mobil tersentak.


Mereka pun bergegas keluar, tapi cuma berhenti di ruang tengah, menyaksikan Adji berlari naik tangga.


Biasanya jika Adji sudah marah besar, mulutnya tidak akan mengeluarkan satu kalimat pun.


"Bang."


Abimanyu membuang muka. Sebenarnya mereka berdua merasa bersalah, tapi bukan anak kecil namanya kalau tidak ogah mengakui kesalahan.


"Udahlah." Abimanyu berlalu, pergi mengambil keranjang bolanya untuk latihan, sedangkan Banyu masuk kamar.


Mereka sama-sama berusaha fokus, namun Juwita yang menangis memenuhi kepala mereka.


Ya siapa juga yang menduga kalau Juwita bisa menangis? Selama ini juga Juwita mau dikatai apa pun juga diam. Dia lebih suka mencibir daripada baper.


Iya, kan?


Abimanyu menggeleng, berusaha terus fokus memukul bola.


Besok juga pasti dia baik lagi. Juwita kan begitu.


*


"Papa, kok Kakak nangis?"

__ADS_1


Adji mengusap kepala Cetta, tak menjawab tapi berkata, "Kamu turun dulu. Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi baru tidur. Biar Kakak sama Papa."


"Kakak kenapa?"


"Besok. Besok Papa kasih tau. Sana."


Meskipun nampaknya tidak mau, Cetta mungkin takut melihat Juwita menangis. Setahu Adji memang, Cetta itu anak yang paling peduli.


Oke, bukan berarti sebenarnya dua anak yang lain kurang peduli. Namun Cetta itu, kadang dia terlihat sangat tidak tega melihat orang lain sedih, meskipun orang asing.


Jadi ketika tahu Juwita sedih, Cetta mengalah dari keinginannya.


Setelah memastikan anaknya turun, Adji langsung duduk di kasur. Memeluk tubuh istri keduanya itu, berharap dia sedikit bisa terhibur.


"Besok pagi-pagi saya anter ke rumah Ibu kamu, seharian di sana sama Cetta enggak pa-pa."


Tahu kok Juwita kalau Banyu dan Abimanyu itu memang brengsek. Lagipula mereka masih anak bau kencur. Jangankan minta peduli pada orang tua Juwita, peduli pada orang tua sendiri pun mungkin masih susah.


Tapi ya Juwita juga bisa apa selain menangis? Sikap anak tirinya sangat kentara tidak menghormati Ibu dan Ayah.


"Udah, yah." Adji menepuk-nepuk bahunya. "Saya minta maaf buat mereka. Lain kali enggak bakal diulang lagi."


Juwita menghapus air matanya, tapi masih menumpukan kening ke bahunya Adji.


"Enggak pa-pa," ucapnya sumbang. "Biar aku aja yang nasehatin."

__ADS_1


"Bener?"


Perasaan Juwita juga lebih baik setelah menangis. Lagian percuma juga kalau Adji yang marahi.


Lain kali justru mereka tidak mau ikut lagi, atau mungkin pura-pura peduli.


Mau sesontoloyo apa pun mereka, Abimanyu, Banyu dan Cetta sekarang adalah anak tirinya. Mereka mau tidak mau juga harus menghormati Ayah dan Ibu.


Awas aja mereka. Besok kalau moodku udah baik, tak bejek-bejek sampe kering!


"Daripada sedih, gimana kalo saya sama kamu mandi? Berdua."


Juwita mendongak. "Keturunan yah insensitive-nya?" sindir Juwita sinis.


Adji malah tersenyum polos. "Ya kan saya mau hibur kamu. Stres kan obatnya enak-enak."


"Nyenyenye."


"Yaudah kalau enggak mau." Adji beranjak, menggendongnya. "Saya paksa."


Sebenarnya kalau Juwita berontak, maka Adji akan lebih menghiburnya demi dapat jatah. Tapi Juwita sudah malas duluan, terutama setelah kejadian tadi.


Jadi alih-alih berontak, Juwita memeluk leher Adji, anteng macam Cetta yang baru bangun tidur, maunya diantar mandi.


Ya Adji juga enggak salah, kan? Obat stres memang selalu yang enak.

__ADS_1


*


__ADS_2