
Juwita cengo, begitu juga Adji dan Banyu, Cetta, Bima bahkan Ibu dan Ayah di sana. Belum sempat ada suara, Nia menambahkan.
"Yah! You can't leave us like this! It's not fair!" kata bocah itu mendukung Lila. [Bener! Itu enggak adil!]
"Yah! It can't be happen!" tambah Lila. [Itu enggak boleh!]
"Mommy, we don't allow you to leave! If you're gonna leave, you have to take us with you!" [Ibu, kita enggak bolehin Ibu pergi! Kalo mau, Ibu bawa kita juga!]
"Ya, that's right! Take us with you! And Daddy too! All of us with you! We all leave together!" [Iya, bener! Bawa kita, Papa juga, semuanya pergi!]
"Mommy, if you leave us alone, we're gonna mad at you!" [Ibu, kalo pergi, kita marah sama Ibu!]
Lila melipat tangan, mengangguk-angguk. "Yah, we mad at you!"
Itu sekarang terdengar sangat lucu sampai Juwita tepuk jidat. Baiklah, setidaknya mereka semua baik-baik saja.
"Ehem." Juwita berdehem agar rasa canggungnya hilang. "Ibu enggak pergi," katanya. "Ibu minta maaf yah, udah bikin kalian sedih."
"We're also worried," timpal Lila. [Kita juga khawatir.]
"Okay, fine. Maaf juga udah bikin khawatir. Ibu salah, Ibu minta maaf. Ibu janji enggak akan ngulang lagi. Maaf, yah? Lila, Nia, Yunia, Ibu minta maaf, yah?"
"Oke!" Nia dan Lila kompak menjawab sebelum mereka saling menyengir. Lalu mereka mendekati Yunia, ikut membantu anak itu ikut menjawab. "Bilang oke, Yuni."
"Ke!" Yunia secara langka menyengir.
Membuat Juwita berkaca-kaca pada kepintaran bocah-bocahnya. Haduh, tidak sia-sia rasanya terkoyak mengeluarkan mereka.
"Ibu boleh lanjut pengumuman enggak?"
Lila dan Nia mengerjap. "But you said you're not gonna leave." [Tapi Ibu bilang enggak pergi.]
Oh jadi mereka pikir pengumumannya adalah tentang kepergian Juwita?
Aduh, menggemaskannya si bocah-bocah kelewat pintar ini. Setidaknya dengar kek sampai ibunya selesai bicara.
"Ibu cuma mau bilang Ibu lagi males." Juwita membuat pengumuman lantang. "Ibu lagi maleeeeeeeeees banget, Nak. Banget."
__ADS_1
"Ibu, males itu enggak baik," nasehat Lila bijak.
"Sayang, manusia tidaklah sempurna. Ada kalanya kita males walaupun enggak boleh." Juwita membalas tak kalah bijak. "So Ibu cuma mau bilang besok Ibu jemput, yah? Ibu leha-leha dulu di rumah. Enggak pa-pa kan, yah?"
Lila dan Nia saling berpandangan lagi. Lalu mereka berbisik-bisik mendiskusikan apakah mereka mengizinkan atau tidak.
Tentu saja, perilaku mereka mengundang tawa.
"Fine!" kata mereka kompak. "Tapi Ibu mesti beliin kita mainan!"
"Hah? Ibu enggak punya uang." Juwita menyerahkan ponselnya pada Adji. "Nih, minta sama Papa."
Adji tersenyum. "Kalian janji enggak nyusahin Nenek, kan? Kalo janji Papa beliin."
"Janji!"
"Good girls. Sekarang pinjemin dulu HP-nya ke Abang."
Juwita kembali mengambil ponselnya karena tahu Adji melakukan itu untuk Juwita.
Wajah Cetta langsung menghiasi layar.
Cetta tidak menjawab. Gengsi.
"Aku minta maaf yah udah bikin masalah," ucap Juwita lembut. "Maaf yah, Nak."
Cetta menghela napas. "Kak Juwita enggak pa-pa?"
"Udah baikan."
"Okay."
Ponsel itu diberikan ke Banyu, karena Cetta pergi main game lagi. Dasar bocah baru puber.
Ketika Banyu yang memegangnya, anak itu tampak berjalan keluar, meninggalkan semua orang buat memulai pembicaraannya sendiri.
"Lo udah siap ngobrol sama Abang?"
__ADS_1
Juwita sempat diam, karena tentu saja ia tak yakin seratus persen. Siapa yang bisa yakin seratus persen mengusir anak dari rumah? Hanya orang gila.
Tapi Adji datang memeluknya. Mencium sisi wajah Juwita seolah berkata semua baik-baik saja.
"Harus," jawab Juwita akhirnya. "Itu yang terbaik buat kita semua."
"Absolutely."
"Tapi aku beneran lagi males jadi besok aja, oke bocah?"
Banyu mendengkus. "Lo sama Papa beneran mesti inget udah punya banyak anak!"
Adji tersenyum. "Juwita mau punya lagi, katanya."
"Gak!" tolak Juwita.
"Oke, omongan kalian bikin mau muntah." Banyu bergidik.
"Omongan kamu sama Papamu, bukan aku!" protes Juwita. Walau sesaat kemudian ia tersenyum. "Cahku, thank you, yah."
"Hah?"
"You're my support system."
"Terus Mas apa?" Adji menyahut tak terima.
"Mas, kamu punya gelar enggak tergantikan."
"Suami tersayang?"
"Bank berjalan, bebas bunga."
Banyu dan Juwita kompak menertawakan Adji yang cemberut.
"Okay, gue enggak mau ikut-ikutan lo mesra-mesraan sama Papa jadi adios."
Panggilan dimatikan oleh Banyu, meninggalkan Juwita dan Adji tertawa bersama.
__ADS_1
*
Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺