Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Kenapa Tidak Mengerti?


__ADS_3

Hidup dalam rumah yang memiliki dua suasana justru terasa seperti neraka bagi mereka yang harus mengondisikan dirinya. Juwita merasa ingin gila ketika ia harus terlihat baik-baik saja di depan anak-anak—anak yang merasa mereka anaknya kalau harus diperjelas—tapi satu sisi ia juga harus marah pada salah satunya.


Juwita pernah iri karena anak-anaknya lebih suka dengan abang dan Papa mereka, tapi Juwita tak pernah sebersyukur ini karena ia jadi punya waktu banyak menunggu Abimanyu pulang.


"Kamu dari mana?" tanya Juwita langsung, begitu Abimanyu datang dengan motornya, sore hari di esok harinya.


"None of your business." Anak itu mencoba berlalu pergi, berpikir kalau Juwita mau mengasihaninya sebagai bocah.


"Yes, it is my business," tegas Juwita, menarik lengan Abimanyu agar tak masuk.


Mereka tidak bisa bertengkar di dalam jadi Juwita sengaja menunggu dia di luar. "Aku nyuruh kamu pulang. Aku belum ngasih izin kamu pergi."


"Fvck it, Juwita!" Abimanyu menarik lengannya kasar. "Papa aja enggak peduli gue ngapain jadi ngapain lo sibuk ngurusin gue?"


"Itu Papamu bukan aku! Aku ya aku!"


"Terus lo mau apa, hah? Mau nyuruh gue duduk di rumah terus?"

__ADS_1


"Ya emang." Juwita melipat tangannya dan menatap Abimanyu tanpa rasa kasihan lagi. "Aku narik kamu dari kosan bukan buat mastiin kamu makan tiap hari di rumah. Itu buat mastiin kamu enggak ke mana-mana lagi, ngerusak cewek entah siapa lagi."


Abimanyu tertawa sinis. "Weird, huh? Cewek kan murah, tergantung harga. Enggak perlu lo hargain segitunya. Lo ngerti, kan?"


"Ya, aku ngerti banget kalo kamu itu otak sampah." Juwita merampas kunci motor Abimanyu dan membuangnya begitu saja ke atap.


Matanya tak sedikitpun meninggalkan Abimanyu saat melakukan itu.


"Denger yah, Bocah, aku itu bukan anak kecil yang bisa kamu ajak debat soal pikiran pemberontak kamu. Aku enggak peduli sama urusan kamu di luar tapi mulai sekarang masuk kamar kamu, tinggal di rumah."


Abimanyu mengetatkan rahangnya. "Lo nyuruh gue dapet apa di rumah?"


"Lo!"


Baru saja Abimanyu maju walau mungkin itu hanya sekadar gestur perlawanan, tubuhnya didorong kasar oleh Banyu.


"Back off, sluut!" Banyu pasang badan seolah-olah dia siap menghajar Abimanyu saat itu juga. "Gue enggak peduli lo lagi gimana tapi Juwita bukan tempat lo minta dimanjain seumur hidup!"

__ADS_1


Abimanyu meraih kerah kaus Banyu. Mereka berdua telihat benar-benar mau saling memukul tapi Juwita sama sekali tidak mau melihat hal bodoh semacam itu.


Juwita menarik Banyu mundur, mengusap-usap dadanya agar dia tenang.


"It's okay, it's okay, Boy." Juwita tersenyum pada anak kedua suaminya itu. Hatinya yang membara mau tak mau sedikit terhibur karena setidaknya ada satu anak yang bertahan tetap waras.


Ketika Juwita melakukan itu untuk menenangkan Banyu sebagai 'anaknya', di mata Abimanyu itu terlihat lebih seperti adegan romantis yang membuat cemburu.


Otak Abimanyu mungkin memang sudah tak waras dan tidak bisa lagi diperbaiki.


Anak itu melangkah membawa bara cemburu di hatinya, hanya bisa merasakan kegilaan.


Kenapa? Kenapa sebenarnya Juwita tidak mengerti? Bukannya dia selalu mengerti? Dia seharusnya mengerti bahwa Abimanyu tidak bisa berhenti meskipun ia ingin.


Saat Abimanyu duduk di kasurnya, mencengkram kuat rambutnya berharap rasa sakit itu membawa kewarasan, yang Abimanyu dapat justru obsesi.


Ia menginginkan Juwita. Abimanyu sangat menginginkannya bahkan sekalipun ia melihat Papa memeluk Juwita. Abimanyu menginginkannya sampai ia merasakan hatinya mulai membenci Papa.

__ADS_1


"Ma." Abimanyu merintih namun pada akhirnya tidak ada sesuatu yang berubah.


*


__ADS_2