
Waktu Juwita bilang mau menikah lagi secepatnya, ia serius. Karena menurut Juwita, letak kesalahan itu bukan pada dirinya yang tidak siap berkeluarga, melainkan pada ia salah memilih keluarga.
Tapi waktu itu pula, Juwita bukannya sudah tidak mencintai Adji lagi, dan sudah mau melupakan soal semua perasaan yang ia tanam buat keluarga barunya.
Juwita cuma berusaha tidak terlihat lama terpuruk, sebab tidak ada gunanya juga.
Sedih lama-lama cuma menambah beban mental.
"Bocahku ganteng, sini sama aku."
Juwita punya sepupu kecil yang baru lahir tujuh bulan lalu. Dia anaknya Bima, diberi nama Arja dan bisa dibilang ini pertama kali Juwita bertemu.
Waktu Yuli, istrinya Bima melahirkan, itu awal-awal Ibu mulai sakit, jadi Juwita tidak bisa pergi ke Bali buat merayakan sementara dirinya sedang berduka.
Ada kesedihan dalam diri Juwita waktu melihat Arja. Karena Juwita jadi ingat pada Cetta walau mereka beda usia. Juwita juga ingat pada taruhan bersama Adji.
Dia bilang kalau Juwita hamil dalam sebulan, dia bakal memberikan apa pun yang Juwita mau, dan kalau Juwita belum hamil, ia harus rela diperbudak.
Belum terjadi apa-apa tapi sudah berpisah. Itu sih yang pedih.
"Wiwiiiii." Bima tiba-tiba muncul di belakangnya, bersama sekantong camilan. "Bima Junior dan Pabrik Produksinya."
Yuli menyikut rusuk Bima. "Lama banget sih beli siomai doang."
__ADS_1
"Sori, Bebi. Yang dagang cakep banget, jadi tak liatin dulu puas-puas."
Juwita menatap Arja kasihan. "Nanti kalo kamu besar, coret namamu sendiri dari KK, yah? Kasian kamu bapak model begitu dipiara."
Arja cuma tertawa lucu. Senang saat Juwita mencium-cium hidung mungilnya.
"Anyway, Juwi," Bima menyerahkan camilan ke tangan istrinya yang sudah menunggu dari tadi, "lo mau ikut gue enggak besok?"
"Ke mana?"
"Reunian sama temen gue. Temen SD gue."
"Lah, tumben?" Juwita selalu ingat kalau ini orang sangat-sangat tidak suka kalau Juwita mau ikut dengannya ke pertemuan semacam itu.
Bukan cuma itu, Bima selalu melarang Juwita bertemu temannya. Tidak boleh senyum, tidak boleh bicara, bahkan kalau Bima di rumah lalu temannya datang, Juwita tidak boleh keluar membawakan minuman dan camilan buat tamu.
Katanya tidak ada cerita temannya dia kenalan dengan Juwita.
Biarpun sekarang Juwita sudah paham kalau Bima benci temannya yang gesrek itu jadi pacar Juwita. Katanya sih laki-laki memang tidak suka temannya dekat dengan adik mereka. Polisi Juwita memang seperti adiknya Bima.
"Gue mau pamer punya istri kedua."
Yuli menghela napas, kelihatan tidak mau dianggap kenal dengan suaminya itu.
__ADS_1
Tapi yah, pada akhirnya Juwita setuju buat ikut.
Sebenarnya niat Juwita ikut ya cuma menghabiskan waktu, menghibur diri. Juwita tak berekspektasi kalau teman SD yang Bima maksudkan itu punya tampang fotografis.
"Ganteng enggak, Wi?" bisik Bima diam-diam.
Juwita menatap dia curiga. Mustahil dia bertanya begitu kalau tidak ada maksudnya. "Gue belom cerai, bego. Jangan sembarangan jodohin orang."
"Kan lagi on the way, Wi. Terobos ajalah."
"Terabas-terobos ndasmu. Gue aduin Mas Adji—"
Mulut Juwita mengerem tiba-tiba, berdehem canggung. Padahal ia mau bilang Ayah, tapi kenapa yang keluar malah Adji?
Tidak. Tidak boleh begini. Juwita harus cepat move on karena seperti kata Bima, perceraian Juwita sedang on the way.
"Gue ke toilet dulu." Juwita beranjak buru-buru, masuk ke toilet cuma buat bercermin.
Jangan ingat-ingat apa pun lagi. Tolong jangan terlalu baper pada apa yang akan hilang. Juwita mengingatkan dirinya berulang kali mengenai hal itu.
Entar sakit hati sendiri, Wi. Batin Juwita terus bergumam mengingatkan. Jangan Mas Adji lagi. Udah cukup. Justru emang kesempatan nyari jodoh sekarang.
Intinya, jangan baper lagi.
__ADS_1
*