
Juwita mengambil jaket Abimanyu dan melangkah pergi ke kamar anak itu.
Baiklah. Walau dia tidak bertingkah seperti menantu, Juwita akan melakukan tugasnya sebagai mertua. Setidaknya demi orang tua anak itu yang menitipkan anaknya pada Juwita dan Adji.
Juwita menunggu sampai Abimanyu keluar dari kamar mandi, hanya bermodalkan handuk. Air berjatuhan dari tubuh kekar dia. Otot-otot di tubuhnya bahkan terlihat sangat kokoh.
"Wow." Juwita berdecak kagum. "Kamu seganteng ini ternyata. Emang keturunan Adji."
Abimanyu terkejut.
"Kamu seganteng ini tapi dari semua perempuan kamu teriak I love you ke istri Papamu. Wow. Kurang banget yah perempuan di luar sana, Bi."
Juwita melempar jaket Abimanyu padanya.
"Sekali lagi kamu pulang sama bekas parfum cewek lain di baju, celana atau bahkan sepatu kamu, Bi, aku pastiin kamu nyesel udah jual murah muka ganteng kamu itu."
"Juwita—"
"Jangan kasih aku masalah lagi. Aku capek sama kamu."
Juwita membanting pintunya tertutup, berharap dia sadar bahwa inilah bentuk hubungan mereka.
Kemarin dia bilang apa? Juwita kemungkinan suka padanya? Percayalah, kalau Juwita suka padanya meski diam-diam, ia akan duduk di sana memandangi tubuh anak itu.
Dia pikir wanita tidak punya nafsu?
Tapi pada akhirnya dia dan Cetta itu sama. Di mata Juwita, dia sama. Mau tubuhnya tumbuh dua kali lipat dari Adji pun dia tetap Cetta bagi Juwita.
*
__ADS_1
Cetta baru saja akan memasuki rumah saat matanya menangkap pemandangan aneh. Itu tak jauh dari rumah, kakak iparnya, Sakura tengah bicara dengan seseorang di dalam mobil.
Sakura memakai baju tidur dan hanya berdiri di luar mobil sambil menunduk ke kaca mobil. Kenapa dia tidak masuk ke mobil itu saja atau mengajak orang di mobil itu masuk ke rumah buat bicara?
Walau penasaran, Cetta terlalu lelah buat peduli. Anak itu pun melangkah masuk ke rumah, menemukan Juwita tengah mengajari Lila dan Nia.
"Cahku, udah pulang kamu." Juwita tersenyum cerah. "Capek, Nak? Di kulkas ada smoothie. Cuci tangan gih baru minum."
Cetta pergi mencuci tangannya dan membuka kulkas. Saat hendak menutupnya kembali, Cetta tak sengaja melihat sesuatu.
"Cumi?" Cetta memiringkan wajah. "Kenapa ada cumi?" tanya anak itu.
Suaranya pelan jadi yang mendengar adalah Mbak Icha.
"Itu tadi dibawain sama mamanya Non Sakura, Den."
"Tapi Kak Juwita enggak suka cumi." Cetta menutup kulkas dan menatap tajam ART. Anak itu tidak marah pada Mbak Icha, tapi marah karena sesuatu berubah.
Semua orang tahu itu tapi kenapa tiba-tiba ada?
Cetta tidak suka. Cetta tidak suka Kak Juwita-nya terus yang disuruh menahan diri.
"Tapi kata Ibu enggak pa-pa, Den—"
"Buang." Cetta mengerutkan kening semakin tajam. "Buruan buang!"
Juwita menoleh karena bentakan Cetta.
"Cahku, kamu kenapa?" Buru-buru dia berdiri, menghampiri Cetta dan Mbak Icha yang takut ditegur membuat anak majikannya marah.
__ADS_1
"Cahku, kok bentak-bentak orang tua, Nak? Kamu kenapa?" tanya Juwita lembut.
"Enggak." Cetta menjawab singkat.
"Enggak gimana kamu marah, loh. Sini dulu." Juwita menarik bahu Cetta secara paksa, membawa dia depan televisi untuk duduk di sofa.
Juwita kemudian memijat-mijat bahunya, berusaha menghibur kalau dia kesal.
"Capek yah di sekolah?"
"Enggak."
Juwita cemberut mendengar jawaban ketus anak itu. Hadeh, bocah lucunya sudah besar sampai dia pun sudah tidak bisa manis.
Cetta hanya diam membiarkan Juwita memijat bahunya. Anak itu menatap dalam diam smoothie di gelas, tidak banyak bersuara.
Tentu saja Juwita diam-diam sadar ada sesuatu yang mengganggu.
"Kalau ada apa-apa bilang yah, Nak. Kamu enggak sendirian kok."
Siapa tahu dia merasa tidak boleh curhat karena dia sudah besar jadi tidak bokeh cengeng dan sebagainya. Boleh kok. Toh Juwita juga nganggur kalau tidak mendengar curhatan bocah-bocah sontoloyonya.
"Munafik," gumam Cetta mendadak.
Jelas mengejutkan Juwita. "Eh?"
"Kak Juwita munafik."
Juwita langsung memegang dadanya, mau tak mau tertusuk sampai berdarah.
__ADS_1
Seriusan semua anak laki-laki Adji sedang mau cari masalah?
*