
Adji salah besar jika berpikir Nana benar-benar hanya akan diam saja.
Tidak, Mantan Presiden Mahesa Mahardika dan Adji yang saling bekerja sama salah besar jika berpikir Nana takut pada uang dan kekuasaan mereka.
Setelah Nana dipermalukan dengan cara menjijikan seperti itu, ia tak akan bisa tidur sebelum mereka berdua mendapatkan ganjaran yang setimpal.
"Lo pasti udah gila," ucap Cristian begitu mengetahui niat Nana. "Adji yang lo lawan aja lo masuk ke penjara sana, apalagi mantan presiden."
Nana menggertak giginya marah. "Masyarakat enggak tau soal fasilitas yang dibikin Pak Mahardika. Kalau mereka tau, emang kamu pikir Pak Mahardika bakal santai-santai?"
Penjara itu bukan cuma menahan seseorang tanpa hukum keadilan, namun mereka bahkan menghapus keberadaan seseorang seperti mereka tidak pernah ada sebelumnya.
Fasilitas itu justru simbol tirani yang jika diketahui oleh publik, Mahesa Mahardika akan hancur.
Dan Adji, Nana tahu dia mendonorkan dana yang tidak sedikit dalam banyak fasilitas rahasia milik mantan presiden itu, terutama setelah dia menahan semua orang yang dia anggap menyakiti istrinya.
Dasar badjingan gila.
Dia harus hancur, tak peduli jika Nana mengambil risiko hidup dan matinya sendiri.
"Gue ngomong gini karena gue temen lo, lo pernah bantuin gue. Mending lo lupain semuanya, karena lo juga salah, terus bangun lagi semua yang lo ancurin karena masalah kemarin."
"Aku enggak sudi hidup tenang sebelum mereka semua terima balasannya."
"Balasan apa sih, Na? Lo bantuin Ajeng, lo hampir bikin mati orang, perempuan pula, terus lo ngerasa lo enggak salah?"
"Itu kenyataan Adji sama Ajeng pernah selingkuh! Kamu kira orang yang pernah selingkuh bisa beneran tobat?! Bullshiit!"
Cristian menatap malas wanita itu. Setelah dipikir lagi, Nana kan membantu Ajeng semata karena emosi pribadi.
__ADS_1
Dia diselingkuhi, jadi waktu dia dengar Adji pernah selingkuh, dia langsung sensi sendiri.
Padahal bukan urusan dia.
Kayaknya Cristian jadi tahu kenapa suaminya Nana dulu selingkuh.
Tapi yah, mari lihat apa yang bakal terjadi.
*
Persiapan liburan mereka ke Eropa langsung disambut baik oleh semua orang, kecuali orang tuanya Juwita.
Mereka tidak mau ikut dalam acara liburan itu, sebab merasa bahwa Adji terlalu banyak mengeluarkan uang, apalagi baru dua bulan sejak resepsi Juwita diadakan dua kali.
Gara-gara itu, Juwita jadi 'dimarahi' oleh Ibu.
"Kamu jangan morotin suamimu, Wi. Jangan apa-apa minta. Bukan enggak boleh, tapi yang ada nanti orang pada ngomong lagi. Ibu capek denger yang begitu."
"Tahun depan bisa, setahun sekali keluar uang enggak pa-pa. Tapi sebulan sekali begini, begitu, itu boros namanya. Ibu enggak suka. Enggak usah begitu-begituan."
Juwita menunduk diberitahu demikian, soalnya jadi ngena juga.
Terlepas dari seberapa tidak menyenangkan mulut orang padanya, ada perkataan mereka yang benar.
Juwita belum membantu apa-apa dalam membangun usaha Adji, tapi sangat sering Adji memberinya ini dan itu dari usaha Adji sendiri.
Lama-lama malah Juwita terkesan jadi parasit betulan.
Walau nyatanya tidak yah, karena Juwita menjalankan kewajiban yang dimintakan oleh Adji, tapi kadang-kadang hati merasa lain juga.
__ADS_1
"Enggak jadi deh, Mas, ke Eropa. Enggak usah pergi."
Juwita memberitahu Adji pada akhirnya, bahwa ia berubah pikiran dan sebaiknya mereka tidak usah pergi ke mana-mana.
Karena Adji tidak ada waktu Juwita dinasehati oleh Ibu, Adji yang mendengarnya pun bingung.
Kenapa tiba-tiba Juwita terlihat murung? Padahal kemarin perasaan dia sangat bersemangat memikirkan ingin ke mana saja.
"Kamu kenapa?"
Juwita menggeleng. Pura-pura sedang melihat handphone pemberian Banyu, biar kelihatan sibuk.
Tapi karena Adji sudah berpengalaman buat tahu pasti ada sesuatu, pria itu menarik lembut Juwita agar berpaling. Berusaha buat bertanya lagi.
"Kamu kenapa? Kenapa enggak jadi mau pergi?"
Alasannya pasti penting, soalnya Juwita membatalkan sesuatu yang bisa dibilang rencana besar.
Adji juga sudah memberitahu Mama dan kayaknya Mama menghubungi seorang kenalanannya di sana untuk menyiapkan tempat tinggal sewa yang nyaman. Juwita paling semangat mengenai hal itu kemarin.
Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?
Apa jangan-jangan karena hormon hamil? Tapi, biarpun perempuan itu plin-plan, Juwita punya kebiasaan menjelaskan kalau dia berubah pikiran.
Bukan sekadar menggeleng seakan tak punya alasan.
"Juwita, kamu kenapa? Kenapa berubah pikiran? Cerita sama saya."
"Enggak pa-pa, Mas. Enggak mau aja pergi. Enggak jadi."
__ADS_1
*