Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
88. Salah Paham


__ADS_3

Sebenarnya Juwita juga berharap cepat hamil, yah. Karena anak-anak Adji juga semua sudah besar, dan Cetta sebentar lagi juga masuk sekolah.


Apalagi semua anak Adji juga laki-laki, jadi Juwita harap ia hamil dan punya anak perempuan.


Paginya, Juwita jadi memikirkan itu hingga tersenyum-senyum.


Lucu deh kalau anak-anak sontoloyo itu pada berkumpul melihat adik mereka. Terus Juwita bakal menyiksa mereka dengan menyuruh Abimanyu pakai sayap peri, Banyu jadi kuda mainan, lalu Cetta ia dandani kayak badut buat menghibur adik mereka.


Ya, betul. Itu bagus. Penguasa rumah ini harus anak perempuan.


"Waduh, apa nih senyum-senyum, mantu Mama?"


Juwita terkekeh, tidak mungkin menjawab jadi cuma malu-malu.


Mama mengambil alih masakan Juwita, menyuruhnya pergi membangunkan anak-anak.


Ternyata Abimanyu sudah bangun dan tengah ganti baju.


"Pulang jam berapa kemarin, Bi?"


Abimanyu menatap ke arah lain. "Lupa."


"Kok malah lupa?" Juwita mendatanginya, mengacak-acak rambut basah Abimanyu. "Kamu kenapa? Kok kayaknya bete gitu."


Tangan Juwita ditepis. "Enggak ada."


Tidak ada tapi ekspresi Abimanyu membuat resah. Juwita tahu ada yang dia sembunyikan, dan Juwita takutnya itu mengenai Ajeng.


Bisa jadi ada sesuatu lagi yang Ajeng kirim di handphone Juwita, kalau memang handphone itu ada di tangan Abimanyu.

__ADS_1


"Bi, liat aku dulu."


"Apa, sih."


"Abimanyu."


Anak itu berusaha menghindar, semakin meyakinkan kalau memang ada yang dia sembunyikan.


Juwita ikut terpancing, karena kadang-kadang anaknya Adji memang suka terlalu mengurus masalah yang malah bikin masalah bertambah.


Contohnya waktu dia mendatangi Adit itu. Orangnya cerita pada Juwita tentang hal bodoh yang anak-anaknya perbuat. Memang sih buat Juwita, tapi salah ya salah, menuduh ya menuduh.


"Abimanyu, aku masih ngomong baik-baik yau."


"Lepas." Abimanyu menarik tangannya sangat keras, yang justru membuat Juwita ikut tertarik keras.


Posisi Juwita yang dekat dengan tangga ranjang Banyu membuat kepalanya terantuk.


"Akh."


Abimanyu tersentak. Spontan meraih badan Juwita menjauh dari sisi ranjang. "Juwita."


Wajah Juwita terlihat langsung pucat karena sakit. Apalagi waktu bibir Juwita bergetar mengekspresikan pusing di kepalanya, dan perlahan dia seperti kehilangan keseimbangan.


"Maaf. Maafin gue." Abimanyu bukan bermaksud menyakitinya.


Abimanyu cuma mau menjauh, berharap dengan begitu ia kembali waras dan bisa kembali berinteraksi normal.


"Bang?" Banyu terbangun oleh suara berisik di dekatnya.

__ADS_1


Mata anak itu langsung melihat posisi Juwita di pelukan Abimanyu, lalu pada tangan Abimanyu yang berada di punggung Juwita.


Kebetulan, Juwita memakai dress longgar yang bagian punggungnya lebih terbuka. Hingga secara otomatis tangan Abimanyu memang memegang kulit punggung di dekat pengait branya.


"Lo gila, yah?" Banyu meloncat turun, menarik Juwita dari pelukan Abimanyu. "Lo ngapain?"


"Gue enggak—"


"Enggak gimana lo main pegang-pegang Juwita!"


Rasa sakit di kepala Juwita mulai hilang, meski ia mulai merasa mual karena pusing. Mendengar kedua anaknya bertengkar, Juwita langsung melerai.


"Udah, udah. Jangan berantem. Aku enggak pa-pa." Juwita berlalu. "Bangunin Cetta tolong. Siap-siap buruan, kita sarapan."


Juwita tidak memerhatikan waktu Banyu dan Abimanyu saling berdebat.


"Gue enggak sengaja. Bukan gue mau meluk dia. Kepalanya kepentok jadi gue—"


"Tapi tangan lo enggak ke sana juga dong, Bang. Lo tuh suka sama dia. Bukannya lo jauhin malah lo pegang-pegang."


"Banyu—"


"Sekali lagi gue liat lo megang Juwita, gue pukul lo."


Kedua anak itu bertengkar, saling memunggungi yang bisa dibilang jarang terjadi.


Banyu dan Abimanyu memang sering saling mengejek, tapi tidak pernah saling menjauhi, karena mereka sependapat untuk tetap menjaga keakraban satu sama lain.


Abimanyu tidak sengaja, demi Tuhan, tapi Banyu pun khawatir kalau Abimanyu malah terpancing, apalagi sampai berpikir kotor mengenai istri Papa.

__ADS_1


Jangan sampai. Rasa sukanya laki-laki akan selalu berujung pada hal kotor. Banyu tahu karena ia juga laki-laki.


*


__ADS_2