
Adji mengerjap. Melihat ekspresi kesal kedua anaknya dan Juwita yang berbalik begitu saja.
Gadis itu tiba-tiba mengambil Cetta, beranjak meninggalkan mereka.
Beberapa saat, Adji hanya diam. Tapi setelah itu dia menghela napas. "Papa enggak bakal wakilin kalian minta maaf."
Banyu membuang wajah. "Siapa juga yang mau minta maaf," gumam dia sambil mengusap-usap bekas tamparan Juwita. "Lagian belum tentu dia bener. Papa lebih percaya orang asing daripada Mbak Uni yang—"
"Kalo Mbak Uni enggak salah, dia enggak lari, dia di sini, jagain Cetta dari Juwita."
Keduanya langsung bungkam.
Meski sebenarnya Adji masih punya keraguan, tapi ia sudah cukup yakin Juwita tidak berbuat sesuatu yang buruk pada anaknya.
"Kalian kayaknya ngeremehin yang Mama kalian omongin."
Abimanyu mengerut kesal. "Kenapa jadi Mama sekarang?"
"Mama kalian bilang, kalo enggak ada Juwita, Cetta udah enggak ada. Selalu Mama bilang. Kalian paham maksudnya? Diliat lagi, kayaknya enggak."
"Pa—"
"Kalian enggak paham karena yang kalian liat Cetta baik-baik aja, dibawa pulang sama Mama yang cerita sambil nangis. Kalian pasti mikir 'lebay ah gitu doang'."
Keduanya tersentak, ternyata benar.
Adji beranjak meski sorot dinginnya masih tertuju pada dua anak beda generasi itu.
"Papa enggak nyalahin kalian kalo masih ngeremehin yang namanya nyawa orang, termasuk adek kalian. Kalian masih kecil, masih ngerasa hidup panjang. Tapi kalian enggak mikir? Kalau dulu enggak ada Juwita, sekarang di rumah cuma kita bertiga. Cetta enggak ada, kayak Mama enggak ada. Kalian masih ngerasa Juwita enggak punya jasa?"
__ADS_1
Mata mereka yang terguncang setidaknya cukup memberitahu Adji bahwa itu pedih dibayangkan. Kehilangan Melisa saja sudah cukup merenggut segalanya.
"Minta maaf. Juwita bukan Mama, tapi posisinya sekarang sama kayak Mama. Sekali lagi Papa denger kalian kurang ajar, Papa yang nampar kalian."
*
"Kakak, Cetta mau cokelat."
Juwita berbaring telentang, menatap Cetta di antara tumpukan mainannya. "Cokelat? Aku juga mau cokelat."
Bocah itu menaiki tubuh Juwita. "Ayo makan cokelat," rengek dia, mengguncang lengan Juwita. "Cokelat. Mau cokelat."
"Ya cokelatnya mana, Cetta?"
"Mau cokelat?" Adji tiba-tiba muncul, membuat mereka kompak berpaling.
Pria itu ikut mendudukkan diri di lantai ruang main Cetta, tapi Juwita langsung berbaring membelakanginya.
Yah, bukan Juwita marah pada dia, sih. Adji menampaknya mempertimbangkan ucapan Juwita. Masalahnya, Juwita jadi merasa telah berbuat salah.
Dan, entahlah. Perasaannya tak benar-benar baik.
"Cetta mau Papa beliin cokelat?"
"Mau. Yang banyak. Sama es krim juga."
Adji melirik punggung Juwita. "Kalau Cetta ajak Kakak Juwita, Papa beliin yang banyak."
Jelas Cetta langsung menarik tangan Juwita. "Kakak, ayok beli es krim. Ayok."
__ADS_1
"Kamu aja, deh. Aku capek."
Adji mengisyaratkan Cetta untuk memaksa karena tahu Juwita cuma mau lari.
"Ayok." Cetta memanjat tubuh Juwita dan menarik-narik kausnya. "Ayok, Kakak. Cetta ambilin Pika kalo enggak mau."
"Dih, ngancem."
"Ayok."
Juwita menghela napas. Pada akhirnya terpaksa bangun, menggendong Cetta yang memaksanya.
Mereka turun bersama ke depan, otomatis melewati Abimanyu dan Banyu yang masih duduk di sana.
Waktu melewati mereka, Juwita sengaja membuang muka. Memperlihatkan kesan kalau ia tak akan memaafkan mereka berdua selamanya.
"Kamu marah?" tanya Adji begitu mereka duduk di mobil.
"Bukan." Juwita mencubiti pipi Cetta. "Cuma mau bikin mereka ngerasa bersalah."
Adji menoleh. "Maaf, kalo mereka kurang ajar."
"Bukan salah kamu." Pipi Cetta bergoyang-goyang karena permainan tangan Juwita. "Lagian wajar aja mereka enggak percaya. Kita belum kenal."
Walau Juwita sebenarnya juga kesal.
Tapi, anggaplah ini pertengkaran pertama yang akan mempererat hubungan kedepannya.
*
__ADS_1