Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
73. Cerita Sepuluh Tahun Silam


__ADS_3

Berita kekerasan Juwita sempat akan dimunculkan di televisi, tapi Adji langsung menghentikan semua itu demi menghargai istrinya.


Ia tahu Juwita paling tidak suka disorot apalagi hal yang suatu saat akan jadi perbincangan banyak orang.


Teman-teman Adji satu per satu mengulurkan bantuan. Mereka meminta informasi, mengerahkan orang-orang yang dapat mereka gerakan untuk melacak jejak-jejak pelakunya.


Pria yang memukul Juwita terus dipantau. Tapi dia cuma pria bayaran. Mengaku bahwa istrinya yang melakukan transaksi, dan istrinya itu justru tidak ditemukan di mana pun.


Adji merasa tengah diuji luar biasa. Sampai rasanya pijakan tanah ini berguncang hebat.


Sampai kemudian, titik terang itu muncul.


"Abimanyu sempet bilang kalau kemungkinan itu temen kuliah kita."


Adit datang membawa sesuatu ke depannya.


"Gue cari-cari, gue dapet ini."


Adji menahan napas pada apa yang baru saja disodorkan oleh Adit.


Itu foto Adji, bersama perempuan yang bukan Juwita, bukan Melisa. Perempuan berwajah cantik dengan tubuh idaman semua pria.


"Ini selingkuhan lo kan, Mas?" tanya Adit, meski sebenarnya dia tidak perlu menanyakan itu.


Karena sudah terlalu jelas.


Adji tidak mungkin tidak ingat. Wanita ini sempat membuatnya mau meninggalkan Melisa, bukan karena jatuh cinta.


Tapi karena dia memuaskan. Dia memenuhi semua hal yang Adji rasa kurang dari istrinya.

__ADS_1


Realistis saja. Adji dulu tidak peduli pada kesetiaan atau omong kosong soal cinta sejatinya Melisa jika dia bahkan tidak bisa memuaskan hasratnya.


Adji manusia, bukan boneka yang bisa dia peluk menghibur diri tanpa pernah menghibur Adji.


Para wanita mungkin tidak suka mendengarnya. Menganggap bahwa itu keegoisan dan nafsu menjijikan para pria. Tapi di seluruh penjuru dunia, tidak bakal ditemukan kesetiaan pria kecuali ada kepuasan dibelakangnya.


Adji meninggalkan Melisa dulu untuk sebuah alasan manusiawi.


Wanita ini alasannya. Dia menghiburnya, membuat Adji melihat dia sebagai wanita yang lebih berharga dari Melisa.


Tapi kemudian Adji membuang dia, karena pada akhirnya selingkuhan adalah selingkuhan. Barang murah yang ia dapatkan tanpa berjuang, dan ia pertahankan bukan karena berharga.


Karena sebaliknya, kalau dia memberi Adji kepuasan hasrat, dia sedikitpun tidak punya nilai untuk Adji menganggapnya sebagai keluarga.


"Kamu kenal dia?" tanya Adji, mendadak kosong akibat kenyataan telak.


Adit menggeleng. "Ini mantan gue, Mas."


Adji langsung berdiri, menelepon anak buahnya untuk memastikan lokasi perempuan itu.


Sudah sangat lama rasanya Adji berhubungan dengan dia.


Itu hanya lima tahun awal hubungan Adji dan Melisa berlangsung, setelahnya Adji sedikitpun tidak pernah lagi melihat dia.


Lagipula apa maksudnya? Kenapa dia melakukan ini?


Dia pikir dia bisa jadi istri Adji dengan mencelakai Juwita?


*

__ADS_1


"Lo gila, sih." Nana menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada sang teman, Ajeng, yang begitu santai menenggak alkohol di apartemennya.


Ajeng memang sangat niat dan ambisius dalam bertindak.


Bukan cuma rela membuang-buang uangnya demi membayar orang sana-sini, dia bahkan mengambil risiko bermain-main dengan nyawa orang.


"Adji marah banget. Keluarga kuli yang lo bayar itu aja semuanya udah ditangkep."


Ajeng mengangkat bahu. "Gak peduli, tuh."


"Harus banget sampe segitunya? Maksud gue kayak, ya lo kan banyak duit sekarang, Jeng. Ngapain juga lo ngejar-ngejar Adji?"


"Ngapain gue ngejar-ngejar dia?"


Ajeng dengan sombongnya tertawa.


"Adji yang ngejar-ngejar gue. Lo tuh enggak tau yah aslinya dia gimana. Waktu gue jadi selingkuhan dia, uang bulanan gue lebih banyak dari uang bulanan istrinya. Dia lebih suka sama gue daripada sama istrinya."


Itu kan cerita sepuluh tahun silam.


Nana mau bilang begitu, tapi keburu capek duluan.


Terserahlah, toh bukan urusannya.


Lagipula menurut Nana, yang salah adalah Adji. Dia menjadikan Ajeng selingkuhan selama hampir setahun, memanjakan dia dengan harta, terus tiba-tiba dia membuang Ajeng.


Memang dia pikir bisa segampang itu?


Apalagi sekarang dia malah menikahi anak gadis yang hanya berjarak beberapa tahun dari anak tertuanya.

__ADS_1


Itu kan menjijikan. Setidaknya buat Nana.


*


__ADS_2