
Sakura yang tadi berteriak seolah hanya mitos. Kini perempuan itu berdiri tergugu, pucat pasi mendengar bisikan Abimanyu.
"Beb, kamu—"
"Atau lo mau tau rasanya dikatain pel4cur satu kampus?" Abimanyu membelai rambut Sakura. "Foto bu-gil lo banyak di gue, oke, Baby? Jadi jangan banyak bacot, masuk kamar. Bentar kita malam pertama, lagi."
Juwita menggeleng cepat berulang kali atas tindakan Abimanyu. Kini dia benar-benar bertindak seperti penjahat yang mengancam istrinya sendiri!
"Kamu diem, Abimanyu." Juwita panik mendatangi Sakura. "Sakura, denger. Aku sama Abimanyu sama sekali enggak punya hubungan kayak gitu. Yunia anaknya Mas Adji, oke? Jangan mikir macem-macem. Kalo perlu aku tes DNA buat kamu percaya jadi jangan mikir macem-macem. Itu tadi cuma—"
"Itu cuma bikin lo kayak panik ketahuan salah, Juwi." Abimanyu menarik Sakura dari Juwita lalu mendorongnya. "Masuk kamar," ucap dia tanpa mengalihkan mata dari Juwita.
Sakura terlihat sangat terpukul, tapi bayangan status janda di usia sedini ini, apalagi dalam usia pernikahan belum mencapai tiga hari, itu sangat menakutkan.
Perempuan itu berjalan pergi ke kamar sesuai perintah Abimanyu, meninggalkan Juwita yang histeris di bawah sana.
"Jangan kayak gini, Abi. Plis, plis, plis jangan kayak gini!"
Juwita mengguncang lengan Abimanyu dengan ketakutan besar menyelimutinya. Kewarasan Juwita hilang seiring waktu ia memikirkan kesalahpahaman menjijikan di kepala Sakura.
"Jangan kayak gini. Jelasin ke Sakura, buktiin ke dia kita enggak ada apa-apa. Jangan sampe ini enggak clear. Kita enggak ada apa-apa, sama sekali enggak ada, bilang sama dia."
"Juwita."
__ADS_1
Wanita itu menarik tangannya, mencoba berjalan pergi. "Kita mesti ke rumah sakit. Rumah sakit, tes DNA, pastiin ke Sakura biar dia enggak curiga."
"Juwita, percuma."
"ENGGAK ADA YANG PERCUMA!" teriak Juwita hilang kendali. "MAKIN LAMA SAKURA MIKIR MACEM-MACEM MAKIN DIA BUTA NGELIAT KENYATAAN! CURIGA ITU RACUN, ABIMANYU! RACUN BUAT KELUARGA!"
Kedepannya Sakura tidak akan bisa bertingkah biasa dan lama-lama orang akan curiga juga kenapa Sakura bersikap aneh, lalu jika Sakura ditanya dan dia tak sengaja mengucapkan sesuatu tentang itu, maka itu benar-benar akan terkesan seperti ada sesuatu di antara mereka!
Lalu jika sampai ke telinga Adji, sedikit saja tentang hal itu, Adji pasti akan memikirkannya. Dan pelan-pelan pikiran itu akan berubah jadi rasa ragu, curiga, takut dan hal-hal mengerikan lainnya.
Ketika semua hal menakutkan itu datang, napas Juwita mendadak seperti tercekik. Wanita itu jatuh berlutut, berusaha mengatur pernapasannya tapi justru semakin sesak.
"Juwita." Abimanyu berlutut, coba menyentuhnya.
"Juwita, asma lo kambuh—"
"Semuanya karena kamu!"
Juwita merampas inhaler di tangan Abimanyu yang ia tak mau bertanya kenapa dia membawa-bawanya padahal dia tak asma.
Juwita menghirup berulang kali dari alat bantu itu, menenangkan dirinya sampai benar-benar bisa bernapas normal.
Ini tidak bisa dibiarkan. Semuanya. Semuanya sudah salah dan tidak bisa lagi dibendung. Hal terakhir yang mau Juwita lakukan adalah dituduh berselingkuh dengan anak tirinya, yang satu darah dengan anaknya.
__ADS_1
"Aku bakal pergi dari hidup kamu." Juwita menggeleng kalut. "Aku bakal pastiin kamu enggak ngeliat aku lagi."
"Juwita—"
"Diem! Kamu diem! Jangan pernah ngomong lagi!"
Sambil terhuyung-huyung karena gemetaran di tubuhnya, Juwita meninggalkan Abimanyu, menuju ke sofa.
Juwita berusaha keras menahannya. Juwita berusaha keras untuk mengambil jalan yang tidak menyakiti siapa pun selain dirinya sendiri. Tak apa. Juwita rela meskipun itu melelahkan dan menyakitkan.
Tapi sekarang tidak lagi. Ia harus mengakhiri kegilaan ini.
"Aku bakal cerai sama Papamu." Juwita meremas tangannya sendiri yang sedingin es batu. "Aku bakal cerai sama Papamu, jadi perempuan enggak tau diri yang ninggalin keluarganya tiba-tiba jadi plis habis itu jangan ada kayak gini lagi. Sama sekali."
Ya, itu yang terbaik. Juwita selalu jadi antagonis di mata semua keluarga Adji maka itu tidak sulit untuk dirinya tiba-tiba minta cerai, meninggalkan Adji, melanggar kontrak pernikahan.
Adji orang baik. Dia sangat baik. Dia tidak akan menelantarkan Ibu dan Ayah sekalipun Juwita meninggalkannya.
Yang jelas ia harus pergi dari rumah ini, agar semua orang berhenti membuat masalah.
Terutama anak ini.
*
__ADS_1