Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
160. Antara Nol dan Sembilan Lima


__ADS_3

Akhir-akhir ini Abimanyu pulang malam dari sekolah. Sekitar seminggu lagi event besar yang paling ditunggu-tunggu olehnya berlangsung, tak lain tak bukan adalah pertandingan Asgard. Abimanyu akan berpartisipasi dalam kompetisi volly ball melawan banyak sekolah dari berbagai penjuru negeri.


Anak itu terlihat senang, bahkan sangat amat menanti sampai dia memaksakan dirinya siang malam.


Pagi hingga siang dia bersekolah, sore hingga jam tujuh malam dia latihan di sekolah, pulang-pulang dia cuma makan dan mandi, lalu latihan lagi.


Gara-gara itu, nilai evaluasi mingguan Abimanyu mencapai tahap terbaik.


Nol.


"Hmmmm, gimana, yah?" Juwita yang menerima lembar evaluasi dari sekolahnya memijat keningnya bingung. "Mas, ini bagus enggak, sih?"


Adji melirik sekilas. "Bagus."


Bagus, katanya. Nol besar berwarna merah itu bagus. Terlihat seperti telur, yah? Tapi tidak bisa dipecah biar jadi telur goreng.


Mana pelakunya justru santai saja berbaring di karpet, istirahat sambil meladeni Lila main.


"Biii, ini enggak kebagusan kamu dapetnya telur? Kenapa enggak angka aja, Bi? Hm? Angka lebih bagus, loh. Sepuluh gitu minimal."


"Telur enak," jawab anak itu tanpa beban.


Adji tertawa melihat Juwita langsung cemberut. "Udahlah. Kan itu evaluasi akademik, evaluasi motoriknya kan sembilan sembilan."

__ADS_1


Sekolah Abimanyu sekarang memang tidak menekankan siswanya untuk belajar di kelas dan harus sempurna dapat nilai. Evaluasi ini hanya sebatas memberi informasi bahwa Abimanyu tidak menfokuskan diri ke pelajaran, namun pada ekstrakurikuler-nya.


Juwita tidak perlu khawatir Abimanyu tidak naik kelas nanti, sebab kemampuan Abimanyu di klub juga akan dihitung sebagai prestasi yang sama seperti prestasi di matematika.


Cuma, Juwita miris saja, loh. Tidak pernah Juwita benar-benar bertemu manusia dapat nol. Seriusan nol.


Tapi ya dia cowok. Anak cewek dapat nilai delapan puluh saja nangis, kayak Juwita dulu. Anak cowok dapat satu saja masih ketawa-tawa.


"Aku ngecek Banyu dulu, deh."


Anak itu juga pasti diberi lembar laporan evaluasinya, tapi sejak datang dia belum keluar kamar.


Waktu Juwita membuka pintu kamarnya, ternyata yang ia lihat malah Banyu berpakaian sekolah lengkap duduk di depan komputer.


Di mejanya sudah ada junkfood. Jadi Banyu menjawab, "Enggak laper."


Juwita berdecak lagi. Datang mendekati dia, melihat bagaimana anak itu fokus belajar.


Selain Abimanyu ingin mengikuti lomba voli, anak ini juga akan mengikuti pertandingan. Jika Abimanyu menonjol dalam bidang olahraga, anak ini menonjol dalam bidang pengetahuan.


Juwita bahkan kaget waktu Banyu berkata dia akan mengikuti lomba debat politik yang akan jadi salah satu cabang lomba debat di Asgard nanti.


"Evaluasi mingguanmu mana, Sayang?"

__ADS_1


Banyu menarik lembaran itu tanpa menoleh dari layar.


Isinya memang sudah tertebak.


Kemampuan motorik secara seluruh 40, kemampuan akademik secara keseluruhan 95.


Ini sih yang bikin Juwita insecure sama Melisa. Anak-anaknya semua berprestasi, terutama dua anak pertama yang Melisa urus sampai besar.


Juwita kadang takut jika nanti Cetta besar, anak itu malah kurang berprestasi karena kayaknya dia cuma suka main.


Kalau Cetta nanti tidak sehebat Abimanyu atau Banyu, sulit buat Juwita tidak merasa itu salahnya.


"Emang hebat banget bocahku ini." Juwita mengelus-elus kepala Banyu. "Aku enggak gangguin kalo kamu belajar tapi makan yang bener. Atau mau aku bawain aja ke sini? Hm? Mbak Sri tadi bikin ayam bakar. Capcay-nya Lila juga masih ada."


"Hm."


Punya anak laki-laki akan membuat kalian setres bicara tapi cuma dibalas hm atau pasrah menerima kalau bicara cuma dibalas hm.


Pilihannya cuma dua itu saja.


Pilihan ketiga dilarang.


*

__ADS_1


__ADS_2