
Buat Ajeng, permainan soal Juwita itu sama sekali tidak menakutkan. Lagipula bukan Ajeng yang melukainya, melainkan orang lain yang Ajeng bayar. Jadi Ajeng cuma harus menunggu kabar tentang kondisi istri Adji.
Biar satu keluarga Adji melihat bahwa Juwita itu bawa sial, baru menikah namun sudah berulang kali dicelakai.
Orang-orang kan gampang diprovokasi.
Kali ini, Ajeng memang menunggu Juwita keluar dari kamar rawatnya. Kalau menunggu dia sembuh, itu justru mudah ditebak.
Melukai dia di rumah sakit saat dia masih sakit justru tidak akan ditebak, setidaknya menurut Ajeng.
"Tapi, Bu, beneran enggak pa-pa? Saya takut malah langsung ketangkep kalo di rumah sakit."
Ajeng mengisap dalam-dalam rokoknya, mengibaskan tangan. "Udah, enggak usah parno."
"Tapi, Bu—"
"Justru karena itu rumah sakit, Adji cuma naro penjaga di luar. Kamu tinggal pukul kepalanya, atau dorong dia kek tangga biar dia luka, terus kamu keluar. Jangan panik. Kalo kamu panik, malah orang curiga."
Tentu saja, yang dikeluarkan bukan cuma omongan tapi juga segepok uang.
Kali ini, Ajeng memakai orang spesial.
Mbak Uni, mantan pengasuhnya Cetta.
Setelah Ajeng cari tahu, ternyata Mbak Uni dan Juwita berseteru karena pola asuh. Jadi gampang memprovokasi dia balas dendam sekaligus dapat uang setelah dipecat oleh Adji.
Ketika Mbak Uni pergi menjalankan tugasnya, Ajeng keluar dari apartemennya, memenuhi undangan dugem bersama sebagai alibi kalau-kalau ia dicurigai.
__ADS_1
...*...
Melempar diri ke tengah hutan liar memang cara paling efektif mengundang binatang buas, biarpun juga cara tertololl.
Juwita pura-pura sedang healing melihat-lihat rumah sakit ditemani kedua anak tirinya. Lalu ketika sampai di spot yang Juwita rasa sepi, ia pura-pura meminta Abimanyu dan Banyu pergi mengambilkan camilan sehat.
Jantung Juwita sebenarnya juga bertalu-talu. Gila saja dirinya tidak takut. Tapi serius kalau Juwita bisa, maka akan ia sleding si Ajeng itu.
Ini adalah perjuangan.
"Seems like everbody's got a price," Juwita bersenandung biar kesannya semakin santai, happy, lengah, dan siap dibunuh, "I wonder how they sleep at night. When the sell comes first and the truth comes second just stop for a minute and smile."
Ketika Juwita semakin terlihat happy, santai dan tenang di tempatnya sendiri, Mbak Uni yang memakai masker dengan pakaian tukang bersih-bersih pun merasa itu kesempatannya.
"It's not about the money money money. We don't need your money money money. We just want the world dance. Forget about the price tag."
Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan benar tidak ada siapa pun sebelum perlahan mendekat dari belakang.
Memutar kuat tangan Mbak Uni disusul sebuah tendangan keras.
Abimanyu langsung menekan badan mantan pengasuh Cetta itu ke lantai, menutup mulutnya dengan kain tebal agar tidak terdengar teriakan.
Sementara Banyu menghampiri Juwita, memastikan dia baik-baik saja.
"Lo enggak pa-pa?"
Juwita malah bernyanyi, "So much pressure, why so loud if you don't like my sound you can turn it down, I got a roaaaaaaad, I walk it aloooooone."
__ADS_1
"Sinting."
Juwita tergelak, tapi masih bernyanyi riang. "You talk that lala, and rara, and lala ****. And I'm so down, I'm so over it. Sometimes I mess up, I f-up and hit and miss, but I'm okay I'm cool with it."
"Lo kayaknya butuh dokter jiwa juga." Banyu prihatin melihat ibu tirinya mungkin mulai ikut tidak waras.
Tapi ekspresi Juwita langsung berubah dingin waktu kursi rodanya dibawa mendekati Mbak Uni.
Sebenarnya kepala Juwita sakit.
Sebenarnya pandangan Juwita kabur.
Sebenarnya Juwita sedang sangat marah.
Sebenarnya Juwita sedang mau mencekik orang.
Tapi dari tadi ia tahan.
"Lo kira gue bakal diem aja digituin tiap waktu?" Juwita menarik kerah baju Mbak Uni bersamaan dengan Abimanyu mengikat kain ke mulutnya agar diam.
Tidak ada yang mau mendengar ocehan orang muraham.
"Waktu terakhir kali gue nendang muka yah, Mbak. Maaf yah, Mbak."
Juwita sangat bersyukur yang diinfus adalah tangan kirinya.
Dengan begitu, tangan kanannya sebagai tangan utama, bisa dikepal kuat-kuat, dan dilayangkan ke rahang orang sialan yang rela melakukan pembunuhan demi uang.
__ADS_1
Itu dinamakan tinju keadilan.
*