
Muka Juwita langsung panas, bersama keinginan mau memijak-mijak Adji sampai dia gepeng.
Ini cowok nyaris kadaluarsa kenapa nyebelin banget, sih?
Juwita memberontak, berusaha keras lepas dari pelukan Adji. Tapi Adji justru mendorongnya berbaring, menahan kedua tangan Juwita di atas kepalanya.
"Lepas!"
"Emang kamu enggak mau?"
"Gak!"
"Ah, masa?" Adji menggoyang-goyangkan dagu Juwita dengan tangannya yang bebas. "Mau nih pasti."
"Kamu apa, sih? Lepas, ah! Katanya enggak mau kalo bukan saya yang mulai! Ini apa namanya?"
"Saya kan cuma bilang enggak bakal mulai sebelum kamu mulai. Saya enggak bilang enggak mau godain."
Juwita melotot, namun bibirnya bergetar samar waktu melihat Adji secara terang-terangan menyapukan pandangan pada tubuhnya.
Terus yang brengs*k, Adji mengambil ponselnya di atas meja, masih dalam posisi menahan kedua tangan Juwita di atas kepala—lalu mengambil fotonya begitu saja.
"Mas!" teriak Juwita syok.
"Apa? Saya cuma ngambil foto istri saya, masa enggak boleh?"
"Mas, jangan becanda, ah! Lepas enggak?"
__ADS_1
"Bentar. Dikit lagi." Adji mengambil gambarnya berulang kali, terus sengaja miring-miring untuk mengambil pose bagus.
Tidak hanya itu. Dia bahkan mengambil foto dada Juwita, lalu melompat dari kasur.
"Mas, hapus enggak! Heh! Mau ke mana?!"
"Main sendiri. Punya istri enggak mau layanin soalnya."
Juwita buru-buru berlari mendekat, merampas ponselnya Adji. Tapi dia lebih cepat mengunci ponselnya, yang membuat Juwita tidak bisa menghapus foto-foto itu.
Mana dengan sengaja Adji mengepal tangan waktu Juwita mau mengambil tangannya, membuka kunci dengan sidik jari.
"Adji, serius loh ini! Hapus buruan!"
Dia malah senyam-senyum. Karena Juwita tidak sadar sedang memeluknya.
"Kenapa sih emang?" Adji merapikan rambut Juwita yang kusut karena berguling-guling tadi. "Cantik kok. Masa istri keduaku enggak cantik."
"Halah, bullshit. Buruan apus!"
"Cantik, beneran."
"Alah, dusta!" Juwita berusaha menarik tangan Adji agar mau memberi sidik jarinya, namun pria itu pun keras kepala tak mau. "Maaaas! Akh, kamu mah!"
Adji tergelak melihat Juwita makin grasak-grusuk.
"Sshhh, oke, oke. Kamu tenang dulu." Adji meraih wajahnya agar mendongak, mengusap-usap pipi Juwita dengan ibu jarinya. "Liat aku."
__ADS_1
Dengan sengaja Adji melama-lamakan usapannya di dekat telinga Juwita, menatap lekat-lekat matanya yang cokelat madu.
Wajah kekanakan Juwita sedikitpun tidak bisa dihilangkan. Dia mengerjap menatap Adji, berusaha keras menahan salah tingkah dari usapan yang semakin intens.
Adji paham betul sebenarnya dia tergoda. Sesekali Juwita melirik bibirnya tanpa sadar, lalu menggigit bibirnya sendiri gelisah.
Maka dengan sengaja pula Adji menunduk, mengeluarkan lidahnya seolah siap mengecap Juwita, dan begitu dia lengah, Adji merebut ponselnya, buru-buru pergi.
"AAAAKKKHH!" Juwita melempar bantal padanya penuh emosi. "Mas, hapus! Tadi kamu bilang oke!"
"Cuma bilang oke, enggak bilang hapus," elak Adji penuh keusilan.
"MAS!"
"Udah, yah. Kamu tidur duluan. Aku mau solo."
Sebenarnya Adji sudah tahu bahwa Juwita pasti tidak akan bertahan terlalu lama.
Makanya Adji tidak terkejut ketika akan menutup pintu, Juwita datang menarik tangannya, berjinjit mencium Adji duluan.
Yang Adji butuhkan hanya itu.
Hanya satu aksi awal itu.
Karena selanjutnya adalah kesenangan Adji mengacak-acak Juwita dari ujung kepala hingga ujung kaki.
*
__ADS_1