
"Bukan Sandy," celetuk Juwita seketika waktu dua bocah itu, terutama Banyu, langsung curiga.
"Kok lo tau?" balas Banyu ganas.
"Duh, Bocahku, sayangku, cintaku padamu tapi boong." Juwita menggeleng-gelengkan kepala miris.
Kata psikolog, laki-laki itu jarang ada yang pintar saat masih remaja, karena memang Tuhan menciptakan mereka untuk main di umur itu. Tapi ya kayaknya Tuhan juga tidak menciptakan keg*blokan, deh.
"Sandy itu atlet." Abimanyu yang menjawab. "Dia pasti sibuk latihan, sibuk pertandingan, ngapain juga punya waktu ngurus beginian? Motifnya juga apa coba?"
"Nah, bocahku yang ini rada normal."
Banyu mendengkus dongkol. "Terus siapa?"
Juwita terdiam sejenak, tapi kemudian memutuskan bicara saja.
"Sekali lagi, aku percaya kalian, yah? Jangan bilang Papa dulu. Kasian kalau dipusingin."
Kalau mereka kan masih bocah. Memang bagus dipusingin untuk training menjadi dewasa.
"Sebenernya aku dichat seniorku." Juwita membuka chat Adit pada mereka. "Perasaanku aja atau dia sebenernya lagi kegatelan? Iya enggak, sih?"
Banyu membaca chatnya cepat. "Ini siapa lo?"
"Mantan gebetan kali yah jatohnya?" gumam Juwita bingung. "Aku emang pernah ada hubungan sama dia cuma yah, ya gitu. Enggak sampe pacaran. Aku pernah suka dia, dan aku rasa dia juga pernah suka aku, tapi enggak sampe resmi jadian."
__ADS_1
"Biasa aja sih chat-nya." Abimanyu berkomentar. "Beda bahasa sama yang tadi."
"Tapi yang chat aku setelah ketemu Bang Sandy itu cuma Adit, diluar teror."
"Emang menurut lo aneh?"
"Aneh. Soalnya dia yang aku tau enggak begini. Aku tanya Sandy yah, nih, katanya Adit udah punya pacar, lagi sibuk kerja. Dia ngechat aja tuh udah aneh sebenernya. Iya, kan? Kayak, ngapain gitu?"
Saking asiknya ngobrol bersama, mereka lupa makan, dan tidak dengar waktu mobil Adji berhenti di garasi rumah.
Jadi mereka kaget tiba-tiba terdengar suara Cetta berteriak.
"Kakak!"
Juwita langsung mematikan ponselnya, menyembunyikan di belakang karena panik.
"Ngeliat apa?" Adji menyipit curiga. Harus selalu dipertanyakan kalau Juwita dan anak-anaknya yang sudah besar akur dalam arti sesungguhnya.
"Enggak pa-pa." Juwita tersenyum manis. "Bocahku, sini dulu peluk. Sini, sini. Aku kira kamu udah laku terjual."
Cetta melompat ke pangkuan Juwita. "Kakak udah boleh turun? Kenapa enggak bobo aja? Ayo, sama Cetta bobo."
"Masih pagi, Sayang. Bobo tuh malem."
Adji melihat kedua putranya sibuk di meja makan, tidak mau menjelaskan kenapa tadi mereka duduk di dekat Juwita seperti melihat sesuatu yang sama.
__ADS_1
Tapi karena mereka tidak mau menjelaskan, Adji juga tidak suka ngotot. Daripada itu, Adji duduk di sebelah Juwita, merangkul bahu istrinya yang baru pulih itu.
Untunglah Juwita sudah terlihat baik-baik saja. Kemarin dia menangis siang malam sampai Adji khawatir dia menyiksa diri sendiri.
Adji memutuskan tidak bilang kalau pelaku yang melakukan kekerasan pada Juwita kabur ke luar negeri. Tidak jauh, hanya Malaysia. Tapi itu memberi sebuah kejelasan pada Adji bahwa kekerasan itu tidak terjadi karena pelakunya gangguan jiwa.
Ada konspirasi di belakangnya.
Yang membuat Adji memutuskan tidak menangkap pelaku itu dulu, untuk menarik kepala sebenarnya keluar.
"Bi, kamu enggak beli buat Juwita?"
"Ada."
"Cetta, ambilin Juwita makanan."
Cetta berlari ke meja makan, mengambil makanan yang disiapkan oleh Abimanyu. Waktu melihat itu, Juwita tersenyum dengan bibir mengerucut.
"Anaknya Mbak Melisa lagi perhatian nih ye. Enggak sekalian pijitin aku gak, nih?"
"Bacot." Banyu menyahut pedas.
"Congor," balas Juwita tak mau kalah.
Tapi dibungkam oleh cubitan Adji di hidungnya.
__ADS_1
"Bocah, aku mesra-mesraan sama Papamu dulu, yah. Jangan iri."
*