Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
60. Curhat ke Anak Tiri


__ADS_3

Tiga hari bedrest, Juwita merasa lebih baik. Makanya pagi ini Juwita turun, berniat buat masakan seperti biasa.


Tapi baru di tangga, Banyu langsung ngegas.


"Lo kenapa turun?!"


"Mau terjun payung." Juwita menjawab santai. "Ya mau masak, dong. Ini kamu kenapa enggak pake seragam? Emang sekarang minggu?"


"Minggu." Abimanyu muncul, lengkap dengan kantong makanan di tangannya. "Enggak ada yang butuh dimasakin. Sana naik."


"Eh, eh, eh. Bocah-bocah sontoloyo-ku ini ngelunjak enggak dimarahin tiga hari."


"Enggak usah macem-macem deh lo. Naik buruan." Banyu melotot ganas.


Juwita balas melotot, tapi sejurus kemudian tertawa kecil.


Bukannya berlari naik, Juwita malah berlari turun, merangkul dua anak yang kebetulan posisinya berdekatan itu.


Tak lupa Juwita mengacak-acak rambut mereka, yang anehnya tidak ditolak.


"Aku udah enggak pa-pa," bisik Juwita lembut. "Udah sehat. Makasih, yah. Ternyata biarpun gendheng, kalian masih punya hati. Bagus, bagus. Diteruskan."


"Enggak pa-pa tapi nangis siang malem."


"Heh!"


Banyu menjauh, sok-sok risi. Sedangkan Abimanyu pergi ke dapur menyiapkan makanan yang dia beli.


Juwita cuma mendengkus. Sebenarnya bukan Juwita baik-baik saja. Tapi yah, life goes on, kan? Menangis beberapa hari kemarin sudah cukuplah membuat Juwita lega.


"Ini ngomong-ngomong bocah gendengku yang paling bocil mana? Sayangku, cintaku, Cetta-ku, dimanakah kamu berada? Yuhuuuuu?"


"Cetta sama Papa."


"Loh?"

__ADS_1


Entah ke mana Adji sih, tapi tadi dia bilang mau pergi sebentar. Dia tidak bilang mau membawa Cetta.


Juwita duduk di sofa dekat Banyu, berbaring santai sambil mulai menyalakan televisi. Waktu tayangan berita internasional ia putar, Juwita justru bicara, bukan menyimak.


"Aku tuh sebenernya diteror."


Banyu dan Abimanyu menoleh. "Hah?"


"Aku kasih tau, jangan kasih tau Papa, yah?" ucap Juwita lagi.


"Maksud lo apa?"


"Janji dulu."


"Juwita, gue enggak becanda."


"Aku juga." Juwita mengisyaratkan mereka duduk di dekatnya, lalu memperlihatkan isi chat teror yang sebenarnya masih berlanjut selama Juwita sakit.


Makanya Juwita jarang buka handphone.


Tapi kalau melibatkan Adji, mainnya polisi dan orang-orang bayaran menakutkan. Untuk sekarang Juwita cuma mau memberitahu mereka. Lagipula belum jelas ini pelaku yang sama dengan yang itu.


Soalnya chat ini Juwita yakin perempuan.


Cuma perempuan yang mulutnya ampas begini.


"Feeling-ku yah, ini kenalan Papa kalian. Enggak tau siapa." Juwita menatap keduanya bergantian. "Masalahnya, motifnya apa?"


"Sini gue telfon."


"Jangan." Juwita menggeleng. "Udah pernah. Malah dikasih sound horor."


Tetap dicoba, dan omongan Juwita benar. Diangkat lalu diberi suara menakutkan sampai bulu kuduk Juwita merinding.


"Lo gila apa pake HP horor begini?" Abimanyu malah mengomel. "Harusnya lo bilang. Beli HP baru, ganti nomor. Malah lo piara. Goblock."

__ADS_1


"Congormu goblock. Ini nomor aku piara dari kelas satu SMA, yah. Lagian itu enggak nyelesaiin masalah, Abi."


Banyu scrolling chat teror itu sampai muncul tanggal pertama kali masuknya.


"Ini kan sehari habis lo pergi sama Abi."


"Hah?"


"Yang lo ke stadion itu, begoo. Iya kan, Bang?"


Abimanyu melihatnya, dan terkejut itu benar.


Mereka berdua melihat Juwita bersamaan.


"Apa?" Juwita bertanya polos.


"Lo ketemu siapa?" tanya mereka bersamaan.


"Siapa?"


"Di stadion, lo ketemu siapa, Juwita. Tololl banget sih lo."


"Eh, cocotmu yah, bocah. Lagian kusebutin juga gak bakal tau kalian!" balas Juwita keki.


Tapi ....


Juwita terdiam, mendadak konek.


Tunggu-tunggu-tunggu sebentar.


Biarpun Juwita ngegosip sama banyak orang, ia sedikitpun tidak tukaran nomor WA, demi Tuhan!


Yang punya nomor WA Juwita cuma Sandy!


...*...

__ADS_1


__ADS_2