Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
153. Memang Rada-Rada


__ADS_3

Adji bergegas pulang gara-gara Abimanyu bilang harus pergi menjemput Banyu. Entah apa yang sebenarnya anak-anak itu lakukan, tapi jika tidak ada mereka di sisi Juwita, Adji kesulitan buat merasa tenang.


Ada sebuah agensi untuk asisten rumah tangga berpendidikan yang dibentuk oleh istrinya Pak Mahardika, namun butuh waktu untuk mereka bisa mengirim orang itu, sebab mereka benar-benar mempersiapkannya sebaik mungkin nanti.


Pun kalau nanti sudah ada, Adji rasa ia tetap berterima kasih karena Abimanyu memilih buat cuti sekolah sampai ibu tirinya bisa ditinggal.


Bahkan Banyu sudah berencana kalau Juwita setelah melahirkan tetap butuh ditemani, dia akan berganti posisi dengan Abimanyu agar tetap bisa di sisi Juwita.


"Juwita."


Ternyata ketika Adji pulang, Juwita masih tertidur pulas. Ada note di tangannya yang ditempelkan oleh Abimanyu. Adji melepaskan note itu, duduk di samping mereka.


Adji juga menarik selimut untuk lebih membungkus keduanya. Sambil menunggu keduanya bangun, Adji putuskan memesan makanan dari salah satu restoran makanan sehat langganan Juwita belakangan.


Tidur Juwita pulas sekali, sampai dia bahkan masih tidur ketika pesanan Adji datang.


"Juwita." Adji terpaksa harus membangunkannya, karena Juwita sudah tidur dari tadi.


Jangan sampai nanti malam dia justru susah tidur lalu malah berakhir begadang. Dan dia juga belum makan.


"Juwita, Sayang. Bangun dulu."


Bukan Juwita yang bergerak, tapi malah Cetta. Anak itu berguling keluar dari selimut, memutar badannya kesana-kemari cuma buat bangun, duduk linglung, setengah sadar.


Dia melihat Adji, lalu melihat Juwita.


Terus menjatuhkan kepalanya ke perut Juwita, lanjut mau tidur.

__ADS_1


"Bangun, Nak." Adji mengusap-usap kepala Cetta. "Bangun. Bangunin Kakak juga."


Butuh waktu buat Cetta bisa sepenuhnya sadar. Tapi dia membangunkan Juwita dengan menarik-narik tangannya.


Adji sabar menunggu sampai mereka selesai cuci muka. Kebetulan Adji juga sudah menyiapkan makanan di piring, jadi begitu Juwita duduk, Adji menyuapinya makan.


Sementara Cetta menolak makan dulu, karena dia mau pergi melihat Pika.


"Palaku sakit," keluh Juwita, masih setengah mangntuk saat mengunyah.


Yah, dia tidur siang terlalu lama. Adji juga tidak tega membangunkan, jadi wajar dia sakit kepala.


"Nanti minta Abimanyu pijitin kepala kamu biar enakan."


Juwita malah menguap, menggosok matanya yang basah. Mirip dengan Cetta, Juwita menjatuhkan kepalanya ke bahu Adji.


"Saya tadi ke rumah kamu, ketemu Ibu."


"Kapan?"


"Tadi."


"Tadinya kapan?"


"Barusan." Adji menggela napas. Kenapa pula tadinya itu harus ditanyakan? "Ibu mau ikut liburan nanti sama kita."


Juwita langsung tersentak. "Loh?"

__ADS_1


"Kan saya udah bilang," ucap Adji seraya membelai sudut dagu Juwita, "saya mau ngabulin satu permintaan kamu, apa pun itu."


"Tapi Ibu katanya enggak mau, Mas."


"Ibu mau. Saya udah bujukin kok. Gimana? Seneng, kan?"


Juwita diam, seperti sedang berpikir.


Dia memejamkan mata, melipat tangan dan memiringkan wajahnya, benar-benar butuh keseriusan dalam memikirkan padahal Adji cuma mau dengar dia bilang senang.


Tapi memang bukan Juwita kalau dia tidak rada-rada.


Kata Juwita, "Kok aku enggak jadi yah mau pergi?"


"Lah?"


Juwita mengerutkan bibir sambil terus bersedekap dan memejamkan mata. "Gimana, yaaaaaaah? Hmmmmmmmmmm, aku males, Mas. Kamu aja deh pergi, aku di rumah aja."


Adji saking kagetnya sampai tidak sadar audah menyentil kening Juwita.


Memang perempuan ini rada-rada. Tadi dia sedih karena dilarang Ibunya pergi. Giliran sudah Adji bujuk Ibu agar setuju, dia lagi yang tidak mau.


Tapi, Juwita jauh lebih kaget karena Adji menyentil keningnya.


Akibat hormon estrogen yang membanjir dalam diri Juwita, sentilan itu menjadi awal dari sebuah tangisan kencang.


*

__ADS_1


__ADS_2