
Rahwana terkekeh kecil akan tingkah Nabila itu. Pemuda itu tahu bahwa Nabila menghindarinya bukan karena alasan yang negatif. Dari bagaimana dia mulai sering salah tingkah, Rahwana yakin Nabila sudah mulai menyadari 'hubungan' macam apa yang mereka miliki.
Tapi yah, wanita selalu sepaket dengan gengsi dan malunya. Rahwana cukup menikmati saja.
"Bisu." Rahwana mendekatkan wajahnya pada tengkuk Nabila, membuat tangan gadis itu bahkan menggigil di tangan Rahwana. "Aku mau ngasih tau kamu sesuatu."
Nabila tetap terpejam erat.
"Soal Om Zayn."
Kelopak mata Nabila seketika terbuka. Gadis itu menatap Rahwana lekat-lekat, terlihat jelas tak mau melewatkan informasi apa pun mengenai Om Baik Hati-nya.
Apalagi Om Zayn sudah beberapa bulan tidak terlihat.
"Tapi ada syaratnya." Rahwana tersenyum manis dan tanpa dosa. "Bisu harus ngaku kalau Bisu istri aku."
Nabila terbelalak. Bagaimana bisa itu jadi syarat?!
"Oh yaudah kalo enggak. Padahal aku bisa bikin kamu ketemu Om Zayn." Rahwana membelakangi Nabila, pura-pura menyerah.
Jelas Nabila tak puas. Tangannya mengguncang lengan Rahwana, berusaha untuk membujuknya walau tanpa suara.
Namun Rahwana terus bersikap keras kepala, tidak mau berpaling.
"Enggak mau," tolak dia saat Nabila terus menarik-narik lengannya. "Kecuali Bisu ngaku udah jadi istri aku, enggak mau."
Nabila menatapnya frustasi. Bagaimana bisa semudah itu? Lagipula Rahwana pikir Elis akan diam saja melihat putra satu-satunya menikahi anak seseorang yang sangat dia benci?
Karena putus asa, Nabila akhirnya menunduk, pelan-pelan menjatuhkan air matanya. Gadis itu masih tak bicara, masih tak bersuara hingga apa pun yang ia rasakan hanya bisa dilampiaskan dengan ekspresi marah atau sesih.
Merasakan lengannya tidak diguncang lagi, Rahwana menoleh, menemukan Bisu-nya menangis.
"Malah nangis," gumam Rahwana, walau buru-buru duduk.
Di dalam kamar sempit yang tidak seharusnya pantas untuk gadis cantik itu, Rahwana melipat kakinya dan memandangi dia terisak-isak tanpa suara.
Rambutnya kini sudah panjang. Sangat panjang sampai saat duduk, itu terlipat di pahanya. Walau kulitnya jadi cokelat tak seperti dulu saat kecil, kecantikan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Bahkan sekalipun dia diletakkan di kamar bobrok ini, hidup di sini sepuluh tahun, dia tetaplah Bisu yang cantik jelita.
"Bisu," panggil Rahwana padanya. "Aku bakal selalu ada buat Bisu."
Nabila menatapnya dengan mata polos itu.
"Aku suaminya Bisu, Bisu istrinya aku. Suami harus selalu jagain istrinya, harus selalu bikin istrinya bahagia." Rahwana tersenyum dengan senyuman yang hanya dimengerti olehnya. "Sekarang belum. Tapi bentar lagi aku bakal bikin Bisu beneran bahagia. Aku bakal nunjukin kalau aku beneran selalu jagain Bisu."
Nabila tidak mengerti apa yang dia katakan. Nabila hanya ingin tahu tentang Om Baik Hati.
"Bisu enggak perlu kasih tau siapa-siapa. Cukup kita berdua yang tau." Rahwana mengangkat jari kelingkingnya. "Bisu mau kan jadi istri aku?"
Nabila terdiam menatap kelingking itu, sebelum pelan-pelan menautkan dengan kelingkingnya juga.
Kalau diam-diam, berarti tidak masalah kan?
__ADS_1
"Yey, Bisu jadi istri aku sekarang!" Rahwana berseru seakan dia akan lima tahun.
Membuat Nabila malu dan buru-buru menarik tangannya lagi.
"Malu-malu gitu. Padahal kan kita udah suami istri dari kecil."
Nabila melotot.
"Apa? Suka-suka aku dong. Aku kan Tuan Muda kamu."
Rahwana tertawa saat Nabila mencubit lengannya. Sesaat kemudian tiba-tiba menarik gadis itu, menjatuhkan dia ke pelukannya.
"Nabila," bisik Rahwana tiba-tiba. "Ayo pulang."
Apa?
"Ke rumah kamu," Rahwana mendekapnya erat, "ayo pulang."
*
"Ke rumah kamu, ayo pulang."
Nabila mendongak pada hamparan langit biru cerah di atas sana. Tidak ada awan yang terlihat saking cerah dan panasnya hari ini. Angin yang berembus samar-samar juga terasa panas, pertanda sekarang sedang musim kemarau.
Telapak kaki Nabila terasa ikut panas memijak tanah. Samar-samar gelang kaki murahan di pergelangan kakinya terdengar berbunyi, mengiringi langkah Nabila yang semakin masuk ke hutan-hutan.
Nabila sedang berjalan ke tempat yang kata Rahwana ia bisa bertemu Zayn. Tempat di mana pria itu sedang duduk, mengisap rokok, ditemani beberapa bungkus cokelat yang sudah habis.
"Si Rahwana sialan," gumam Zayn setengah mendengkus.
Rahwana bilang dia mau membicarakan sesuatu yang penting dan Zayn harus datang, tapi ternyata dia mengirim istri bisunya.
Hanya butuh satu embusan angin kencang, Nabila sudah datang, menubruk tubuh Zayn erat.
"Hai," sapa Zayn, "B."
Zayn membuang puntung rokoknya ke tanah gersang, agar kedua lengannya bisa balas memeluk Nabila.
Gadis itu langsung mendongak pada Zayn. Bibirnya berkerut cemberut, berusaha memberitahu bahwa ia marah karena Zayn tak pernah muncul.
Padahal terakhir kali dia bilang akan segera datang kalau urusannya sudah selesai.
"Ya, ya, ya, Om salah. Enggak usah cemberut."
Ekspresi cemberut Nabila seketika berubah sedih. Tangannya memegang tangan besar Zayn, seperti menggenggamnya walau tidak.
Itu kebiasaan Nabila jika ingin berkata ia sangat merindukan Zayn dan sedih sebab dia pergi sangat lama.
Bagaimana dia berekspresi seperti itu tak pernah gagal menhuat Zayn campur aduk. Terutama jika Zayn mengingat percakapannya dengan Rahwana beberapa waktu lalu.
"Ternyata Om ngambil risiko banyak cuma demi nutupin kenyataan anaknya Abimanyu ada di sini." Rahwana yang dulu protes karena permennya ditolak si Bisu kini sudah berganti jadi Rahwana yang tidak akan protes sekalipun ditolak.
__ADS_1
Sebab dia akan memaksa mendapatkan apa yang dia mau.
"Butuh waktu bertahun-tahun buat pelajarin semuanya, Om, tapi enggak aku sangka Bisu bukan sekadar tawanan karena dendam. Sepuluh tahun nutupin Bisu dari penerusnya Mahesa Mahardika bikin perang antara kelompok mereka sama kelompok Om panas, kan? Dan Bisu itu kuncinya. Bisa jadi kunci kemenangan Om, bisa juga jadi kunci kekalahan Om."
Zayn tentu saja tidak terintimidasi dengan anak ingusan sekalipun dia pintar. "Terus? Kamu masih mau bilang bakal ngelindungin Bisu? Emangnya kamu punya apa?"
"Entahlah. Kayaknya enggak ada, kecuali Bisu." Rahwana sok polos menyengir. "Kayaknya Om, aku mau pulangin Bisu deh."
"...."
"Aku enggak terlalu seneng ngeliat istriku lama-lama dibabuin sama Mama."
"Bocah tolol. Kamu mau ninggalin Mama kamu demi perempuan Bisu?"
"Enggak. Aku bakal jagain yang mau aku jagain. Itu juga termasuk Mama." Rahwana menyeringai. "Tapi ngomongin soal tolol, aku atau Om sih yang tolol?"
"...."
"Di dunia ini, cuma aku satu-satunya yang tau kelemahan Om itu apa. Jadi lebih baik Om enggak ngerasa terlalu menang."
Zayn menghela napas. Rahwana tumbuh diluar dugaannya. Kalau ia biarkan terus, anak itu pasti benar-benar akan membuat masalah.
Tuk.
Zayn tersentak, bersama lamunannya yang buyar. Matanya menatap Nabila yang baru saja mengetuk lembut pipinya agar keluar dari pikiran lain itu.
"Enggak ada apa-apa." Zayn menjawab pertanyaan yang terlihat di mata gadis itu.
Segera setelah itu, Zayn beranjak hingga mau tak mau Nabila ikut berdiri.
"Besok Om dateng lagi. Sekarang Om ada kerjaan dulu."
Nabila menggeleng. Tak mau melepaskan tangan Zayn.
"Om janji." Zayn meletakkan tangannya di puncak kepala Nabila, tersenyum lembut padanya. "Besok Om pasti dateng lagi. Sekarang kamu pulang dulu."
Akhirnya Nabila setuju, walau terlihat jelas dia bersedih.
Zayn meninggalkan tempat itu lebih dulu, keluar dari sisi hutan yang bersebrangan dengan jalanan Nabila, di mana mobilnya terparkir.
Baru saja Zayn masuk, seseorang dari belakang seketika berkata, "Udah waktunya ngambil kepala ajudan perdana menteri, Om?"
Bocah sialan ini.
"Mungkin." Zayn menoleh. "Kenapa? Kamu enggak mau ngeliat Bisu kamu sedih karena bapaknya rela mati demi dia?"
"Bukannya Om yang sedih?" Rahwana tersenyum. "Soalnya bentar lagi Bisu-nya Om tau kalau Om Baik Hati-nya ternyata iblis."
"Sedih, huh?"
"Iyalah sedih. Soalnya Om kan ... udah enggak pernah akting depan Bisu."
__ADS_1
*