Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Mahal VS Murah


__ADS_3

"Ujung-ujungnya lo belain Abang." Banyu mengikuti langkah Juwita ketika Adji dan Abimanyu bicara berdua. "Ujung-ujungnya selalu gitu, Juwita, selalu. Lo terlalu sayang sama Abang makanya dia selalu mikir dia punya kesempatan sama lo!"


"Stop ngatur-ngatur mana perasaan yang baik buat aku mana yang enggak, Banyu!" Juwita berbalik marah. "Stop jadi orang tua buat aku! Even kalau aku sakit hati sama pilihan aku, itu tanggung jawab aku! Bukan kamu!"


"Juwita—"


"Kamu mau liat kenyataan?" Juwita kembali melangkah. "Sini aku tunjukin kenyataan."


Langkah Juwita secara pasti menuju kamar Abimanyu, mendorongnya terbuka dan menemukan Sakura tengah berbaring di tempat tidur.


Seperti tengah tidur.


"Now you're doing too much, Kid." Juwita menarik selimut itu dan menyentak lengan Sakura. "You're doing too much." [Kamu udah keterlaluan, Bocah.]


"Aw!" Sakura menjerit kesakitan akibat perlakuan Juwita itu. "Tante apa-apaan sih?!"


Banyu dan Cetta yang mengikuti Juwita jelas terkejut akan tindakan ibu tiri mereka itu. Seumur-umur jadi ibu tiri, belum pernah Juwita menarik selimut seseorang yang tengah tidur apalagi langsung menarik kasar lengannya. Bahkan kalau Banyu sedang kumat malas bangun, Juwita bisa betah menunggunya mau bangun sambil terus memanggilnya pelan.


Tapi tindakan selanjutnya Juwita membuat mereka lebih terkejut. Juwita menekan kasar dua jarinya ke wajah Sakura, bukan menampar, tapi mendorongnya seperti menampar tanpa suara.


"Kamu ngapain?"


Sakura yang diperlakukan begitu tentu saja menolak. "Tante kenapa sih?! Aku lagi tidur terus Tante—"


Untuk kedua kali, Juwita mendorong dua jarinya ke wajah Sakura, tapi lebih bertenaga.

__ADS_1


"Kamu ngapain?" tanya Juwita penuh intimidasi.


"Maksud Tante apa—"


Ketiga kali.


"Kamu ngapain?"


Lalu empat, lima, enam, tujuh. Dia melakukannya berulang kalu sampai Sakura terdiam kosong.


"Kamu ngapain?" Juwita tampak sangat marah namun berusaha keras melakukannya dengan sopan. Kalau saja ia tidak ingat ini anak perempuan orang, Juwita bukan cuma mau menamparnya tapi sekarang juga ia mau mematahkan tangannya.


"Kamu ngapain, Sakura? Jawab! Kamu ngapain? Nyewa orang buat ngikutin saya, hah? Pengen nakut-nakutin saya? Gitu maksud kamu? Bocah sialan, kamu kayaknya ngerasa saya sebaik itu karena enggak suka marah."


Sakura menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan tak berani menatap Juwita.


"Sini!" Juwita merampas kerah pakaian Sakura, memaksa dia menatapnya. "Buruan ngomong sebelum saya lupain sopan santun sama orang tua kamu."


"...."


"Kamu kira saya enggak bisa nutupin kekerasan? Kamu kira saya enggak bisa? Kamu bikin anak saya berantem sampe berdarah-darah jadi jangan kira sabar saya ke kamu itu segunung."


Badan Sakura gemetaran. Wanita muda yang kini ketakutan dan terintimidasi itu memberontak dari cengkram Juwita.


"SEMUANYA SALAH TANTE!" teriak dia akhirnya. "TANTE SELINGKUH SAMA ANAK TANTE SENDIRI TERUS BIARIN AKU HARUS NANGGUNG SEMUANYA!"

__ADS_1


"...."


"KALIAN YANG SALAH! KALIAN YANG JEBAK AKU DI SINI!"


Dada Juwita kembang kempis menahan amarah, tapi memang dia sengaja ingin membiarkan Sakura memuntahkan segalanya agar semua orang dengar.


"TANTE PIKIR AKU CUMA BAKAL DIEM NGELIAT KALIAN?! AKU YANG ISTRI ABIMANYU SEKARANG! AKU YANG HARUSNYA DIA PERHATIIN, BUKAN TANTE YANG CUMA PEREMPUAN MURAHAN! TANTE ITU CUMA PELAKOR! PEREMPUAN MURAH YANG NIKAH DEMI HARTA!"


Banyu hampir-hampir menerjang Sakura untuk mencekiknya dan merobek mulut sialannya itu. Tapi sebelum ia bertindak, Juwita menahannya, fokus pada Sakura.


"Murahan? Saya murahan?" Juwita menatap anak itu dingin. "Terus kenapa kamu yang mahal sekarang nangis-nangis karena saya? Kenapa saya yang murah bisa menang dari kamu yang mahal?"


"ITU KARENA TANTE GODAIN ORANG BUAT KEPENTINGAN TANTE SENDIRI!"


"Berarti barang murah kayak saya lebih menarik daripada kamu yang mahal, Bocah."


Juwita merampas rahang Sakura dan kali ini tak lagi membiarkan dia bicara.


"Perempuan itu emang paling suka jadi korban soalnya dia yang dikasihanin, tapi kamu kayaknya mental korban level maksimal. Sama sekali enggak mau liat kenyataan, cuma mentingin pendapat kamu sendiri, cuma teriak-teriak soal masalah kamu sendiri—kamu yang ganggu di sini, Bocah. Keluarga saya jadi berantakan karena kamu."


Juwita menarik dia berdiri.


"Sini kamu. Saya pulangin kamu ke orang tua kamu langsung."


*

__ADS_1


padahal lagi banyak beban mental, tapi author kayaknya emang suka nyusahin diri sendiri. okelah, kalau kalian minta cerita Abimanyu tobat plus Sakura jadi janda. mereka OTW 👌✌


__ADS_2