
Juwita terdiam memikirkannya. Jujur saja, Cetta juga menjengkelkan bahkan kalau dia menggemaskan. Juwita tidak suka apa pun permainan yang dia sukai dan membosankan harus mengawasi dia tiap waktu.
Tapi ... apalagi orang asing, kan?
Setelah perbuatan Mbak Uni, Juwita jadi sadar betapa repotnya mengurus bocah itu.
"Enggak usah." Juwita menghela napas. "Lagian aku enggak ada kerjaan di rumah. Masa ngurus Cetta juga butuh bantuan."
"Kamu yakin? Saya tau banget anak saya semua nakal."
Juwita tertawa kecil. "Itung-itung belajar. Saya enggak mau makan gaji buta."
Adji ikut tersenyum, meski kecut. "Kamu kadang suka ngomong nyelekit."
"Tapi denger yah, saya enggak bakal ngapa-ngapain Cetta. Marah pun enggak. Enggak bakal." Juwita berucap yakin. "Jadi kamu kerja yang tenang. Saya enggak bakal biarin anak-anak Mbak Melisa kenapa-napa."
".... Oke."
Lalu hening.
Sebenarnya, mereka berdua sadar kalau selain urusan berbaikan dengan anak, hubungan mereka juga butuh pertolongan.
Meski tidur satu ranjang, rasanya cuma dipaksa tidur di satu tempat yang sama tanpa benar-benar ada yang ikhlas.
Juwita mungkin serampangan, tapi jujur saja, Juwita juga pemalu urusan begituan.
__ADS_1
Adji mungkin berpengalaman, tapi setelah semua yang terjadi, dia hanya bisa bingung harus melakukan apa.
Karena canggung dan sama-sama tidak bisa tidur, Adji akhirnya menyalakan televisi. Memutar tayangan berita internasional meski tidak ada yang benar-benar peduli isinya apa.
"Kamu suka olahraga?" Tiba-tiba Adji ingat bagaimana Juwita dan Abimanyu selalu bersinggungan di sana. "Postur kamu lompat waktu main voli sama Abi, saya liat bukan amatiran."
"Kok tau?"
"Melisa juga atlet."
Ohiya yah, dia pernah bilang Melisa yang mengajari Abimanyu main voli. Juwita lupa saking canggungnya sekarang.
"Enggak, sih," jawabnya samar. "Cuma saya emang pernah ikut pertandingan waktu SMA. Bola, voli, bulutangkis, tenis, kayaknya hampir semua olahraga saya bisa."
"Ayah kamu yang ngajarin?"
Adji tersenyum kaku. "Ayah kamu waktu sekolah dulu kan, apa yah, center sosial? Apa sih namanya? Social butterfly? Kata Ayah saya, Ayah kamu belajar jago, olahraga juga jago. Tapi rada badung juga sih, katanya."
Juwita tertawa kecil. Itu benar. Ayah dulu memang masuk kategori bocah blangsak alih-alih panutan. Nilainya bagus, olahraga juga jago, tapi kurang peduli dengan sekolah.
"Sebenernya saya enggak terlalu jago olahraga." Adji bersandar lebih nyaman saat pembicaraan mulai mengalir. "Cuma, Melisa orangnya agak ... hiperaktif. Yang ngikutin saya cuma Banyu. Anak rumahan, kurang peduli sosial. Kalau Abimanyu sama Cetta, kayaknya mereka suka. Terutama Abi."
"Yah, menurut saya juga Abi jago." Juwita lupa kalau ia pernah mengatai Abimanyu tidak berguna di depan Adji. "Saya jadi kepikiran. Biarpun Abi egois, bukannya kamu cukup masukin dia ke sekolah yang timnya juga jago kayak dia? Maksud saya, sekolah-sekolah lain pasti ada. Enggak mungkin enggak ada."
Adji menggeleng. "Kalau langsung dimasukin ke tim yang nyaman buat dia, mungkin memang dia bakal berkembang. Tapi, saya enggak suka anak saya jadi terlalu sombong."
__ADS_1
"Kenapa? Dia kan jago. Sombong di depan orang sombong, emangnya enggak boleh?"
Adji tersenyum. "Kamu pernah denger kata-kata ini? Satu itu tunggal."
Juwita mengerjap. "Itu ...."
"Um, omongan Mantan Presiden kita, Pak Mahardika."
"Maksudnya?"
"Jadi nomor satu artinya satu, tunggal, sendirian." Adji terlihat emosional saat merenunginya. "Makin kita naik, makin kita jadi nomor satu, makin kita sadar kita sendirian."
"...."
"Dulu saya pernah ketemu Pak Mahardika, dan saya tanya apa kuncinya jadi sukses kayak dia? Kamu bayangin, dia jadi nomor satu sejak masih umurnya Abi. Semua gelar dia sabet. Saya penasaran dan kagum. Tapi dia cuma bilang sesuatu yang simpel banget."
"...."
"Dia bilang 'make sure you're ready for, because it's lonely at the top'. Sampe sekarang saya simpen itu di kepala, biarpun saya bukan pengusahaan nomor satu, saya udah ngerasa jauh lebih banyak musuh daripada temen."
Adji memejam.
"Itu justru nusuk saya waktu ngeliat Abi. Dia bakal sendirian, itu yang selalu saya pikirin."
Juwita mengerjap. Memiringkan wajah bingung. "Emangnya ... enggak boleh kesepian?"
__ADS_1
*