
Setelah mengatakan itu Banyu beranjak pergi, meninggalkan Adji makan sendirian bersama makan malam yang dibuatkan oleh membantu barunya.
Porsi Cetta, porsi Abimanyu apalagi Banyu semuanya dingin, tak tersentuh.
Mereka benar-benar tak sudi menerima kalau Juwita pergi, bahkan jika cuma sebentar.
"Kita udah ngelewatin banyak hal bareng." Adji bergumam, tersenyum membayangkan Melisa di sisinya. "Pas kamu pergi anak-anak juga begini."
"...."
"Aku tau kamu khawatir sama anak-anak, tapi enggak usah. Emang tanggung jawabku ngurusin mereka."
Walau tentu tidak ada jawaban, Adji cuma merasa lebih baik setelah bicara. Apalagi jika ia ingat kalau Melisa selalu mendengarkannya jika Adji curhat mengenai kelakuan anak-anak.
Ia makan baik-baik, naik untuk tidur mengistirahatkan diri.
Besok Adji rasa sudah bisa bergerak.
Menjemput penggantinya Melisa yang harus ada di sini bagaimanapun caranya.
Bahkan kalau kelakuan anak-anak bikin geleng kepala, mereka semua menginginkan Juwita.
__ADS_1
Dan yang paling utama, Juwita juga menginginkan mereka sebesar Adji menginginkan Juwita pula.
*
Esok hari, Adji melarang asisten barunya untuk masak kecuali untuk Adji saja.
Adji tidak terlalu khawatir pada makanan anak-anak, karena mereka sudah tahu cara beli makanan sendiri dengan uang jajan mereka.
Banyu pun mengurus Cetta, maka Adji tidak mengusik mereka jika memang ingin marah. Bagi Adji, membujuk orang marah itu bukan dengan mendatanginya terus bicara lembut.
Mereka marah karena Juwita tidak ada, ya Adji tinggal bawa Juwita agar mereka berhenti marah.
Tapi waktu sampai, rumah ternyata kosong. Kemungkinan semua orang sedang pergi ke pasar, ke toko yang memang sudah dikelola oleh keluarga Juwita sejak dulu sekali.
Adji pergi ke belakang rumah, melihat proses pembangunan rumah baru orang tua Juwita masih berlangsung.
Ingat kan maharnya Adji?
Rumah untuk orang tua Juwita, biaya operasi ibunya, dan jaminan hidup selama sepuluh tahun.
Setelah bincang-bincang kecil dengan beberapa kuli, Adji memastikan Juwita sekeluarga memang pergi ke toko. Maka mobil Adji berputar ke tempat yang dimaksudkan, masuk ke pasar menuju lokasi toko keluarga istrinya.
__ADS_1
Ketika Adji akan tiba di toko, mendadak ia berhenti, melihat sang istri tengah duduk di depan toko, berbincang dengan beberapa orang asing dan ibunya juga.
"Terus gimana tuh, Wi? Pisah kamu sama suamimu?"
Juwita tersenyum hangat, menjawab tenang, "Ya kalo aku pisah ajalah, Mbak. Suamiku baik, baik banget malah. Anak-anak juga baik. Tapi ya gimana kalo keluarganya ngerasa enggak cocok? Tekanan mental juga kan tiap hari diomongin enggak baik sama keluarganya."
"Iya yah. Emang suka begitu tuh kalo keluarga mah. Ngebantu enggak, ngomongin iya."
"Tapi kamu kan bisa, Wi, minta suamimu belain kamu. Itu kan keluarganya. Masa dia ngomong gini, gini, gini, suamimu diem aja."
"Kalo bisa ngomong mah, Mbak, akunya yang ngomong bukan suamiku. Mulutku nih lebih jago ngoceh toh. Emang enggak ada yang bisa diomongin. Yaudah gitu aja gitu. Karena yang banyak omong bukan mertuaku. Bukan. Bukan Oma-nya anak-anak. Sodaranya mertuaku yang yah."
"Duh, kasian banget, mana cantik begini." Mereka mengelusi kepala Juwita dan terlihat sangat menyayanginya.
Dilihat dari interaksi itu saja Adji tahu kalau Juwita akrab dengan tetangga tokonya.
"Tapi kalo kamu jadi cerai, Wi, kamu mau nikah lagi enggak?"
Adji mematung karena sedikitpun tidak menduga Juwita bakal berkata, "Mau."
*
__ADS_1