Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
101. Penuh Makna


__ADS_3

Juwita menyertai Adji untuk ke kantor siang harinya, karena sore dia ingin mengajak Juwita bertemu Ajeng.


Tapi Juwita cuma menunggu di dalam mobil, menunggu Adji masuk ke gedung kantornya selama tiga puluh menit, lalu datang lagi dan pindah tempat.


Mereka mengandalkan supir hari ini, jadi ketika di mobil, Adji cuma fokus ke iPad di tangannya.


"Mas, aku mau nanya." Juwita memecahkan keheningan, karena dari tadi mereka cuma saling diam.


"Nanya apa?" balas Adji sedikit menoleh.


"Kamu enggak nyiapin anak kamu jadi pewaris?"


Random sih pertanyaannya. Juwita dari tadi cuma bosan saja menunggu makanya ia berpikir macam-macam.


Tapi kalau dipikir lagi, memang benar Adji tidak menyiapkan pewaris hartanya. Penerus untuk bisnisnya Juwita lihat tidak ada.


Banyu mungkin kandidat paling berpotensi, karena ketertarikan anak itu memang lebih pada pelajaran. Tapi secara spesifik Adji mendidik penerus, mengajarinya bisnis dan segala macam itu, Juwita rasa tidak ada satu di antara anaknya.


Dia membebaskan semua anaknya bertingkah sesuka hati. Atau mungkin nanti pas kuliah baru Adji menuntut sesuatu dari anaknya, yah?


"Enggak." Adji menutup iPad-nya sejenak. Meladeni Juwita bicara. "Harta saya ya harta saya. Anak saya terserah dia."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kalau dia dewasa nanti, dia punya uang dari mana itu urusan dia. Tugas saya cuma besarin dia sampe dia bisa mandiri," ucap Adji tanpa beban. "Jadi harta saya ya harta saya. Perusahaan saya ya perusahaan saya. Kalau dia mau kelola, ya silakan. Enggak mau ya enggak saya paksa."


"Kalau dia manja terus minta uang terus sampe dewasa gimana?"


Adji menggeleng. "Abimanyu, Banyu sama Cetta umur dua puluh cari kehidupan sendiri. Saya sebagai ayahnya bantu, tapi bukan tanggungan saya sepenuhnya. Saya punya anak laki-laki dari kamu pun begitu nanti. Dia harus punya dunianya sendiri, cara dia hidup sendiri. Beda kalau anak perempuan."


Hmmmm, pantas saja sejauh ini Adji tidak menyekolahkan anaknya berbisnis atau sejenisnya.


Jujur saja, Juwita sempat mengira itu karena Adji tidak terlalu merasa harus pusing anaknya jadi apa sebab harta dia banyak.


"Kamu enggak bilang saya kejam?"


"Waktu awal-awal Melisa bilang saya enggak punya hati sama anak."


Ya mungkin karena bukan anak Juwita jadi tidak terlalu khawatir?


Atau tidak sih, tapi Juwita paham maksud Adji. Dia mau anaknya tahu berat dunia dan susahnya bertahan hidup sendiri. Niat itukan tidak salah.


"Saya waktu kecil enggak seberuntung mereka."

__ADS_1


Adji menepuk tangan Juwita di lututnya, pelan-pelan menggenggam itu.


"Saya tinggal sama Oma Putri, dan saya enggak bakal bohong itu nyiksa saya secara batin. Saya dikasih makan, dikasih sekolah, dikasih apa yang jadi kebutuhan saya—tapi satu sisi saya enggak bisa bilang saya diperlakukan sama kayak anak kandung Oma Putri."


"...."


"Saya sempat nyalahin orang tua saya juga. Kok saya enggak diajak ke sana? Kok saya malah ditinggal begini? Apalagi waktu kakak saya juga udah pindah jauh di Singapur, saya literally sendirian walaupun tinggal sama keluarga."


"Terus kenapa kamu pengen anak kamu sendirian?"


"Saya di sini karena saya sendirian." Adji tersenyum setengah tertawa. "Iya, kan? Saya enggak tau gimana sama anak lain, tapi saya jadi saya ya karena saya sendirian. Saya berjuang, berusaha, tahan banting ya karena saya sendirian."


Juwita merenung.


"Buat saya, susah yang saya rasain emang pedih, tapi kalau saya ngelewatin itu, saya bakal ada di titik di mana saya puas walaupun saya kemarin ngeluu."


Iya, sih. Juwita juga tidak pernah terpikir bakal bertemu Adji ketika punggungnya mulai dingin sendirian. Waktu ia sendirian dan tidak paham harus ke mana, Juwita bertemu Adji.


Jadi kalau Juwita tidak di titik terampas itu, ya dia tidak bertemu Adji.


Juwita rasa hidup itu kelihatan bercanda tapi penuh makna.

__ADS_1


*


__ADS_2