
Sejak perasaan Abimanyu tumbuh untuk Juwita setelah ia pikir selesai, Abimanyu sudah berpikir ia harus pergi. Ia harus pergi sejauh mungkin dari keluarganya, mungkin menghilang dan berpura-pura seakan mereka bukan keluarganya, paling tidak agar ia tak menyakiti siapa pun.
Tapi ia tak pergi. Abimanyu juga tak ingin pergi dan merelakan semuanya. Jauh di hatinya, Abimanyu mencintai mereka. Mereka semua sekalipun ada penyimpangan dalam hatinya ini.
"Why you're doing this to me?" Sakura bergumam kosong saat mereka sama-sama sarapan di apartemennya, dua hari setelah semua terjadi. "Kenapa kamu jebak aku di hubungan yang kamu tau bakal nyiksa aku?"
Abimanyu hanya diam, menatap kosong gelas kopinya.
"Bi, you don't love me, right? Dari awal, dari kamu deketin aku, bikin aku percaya aku spesial buat kamu, kamu enggak pernah sedikitpun cinta sama aku, kan?"
Abimanyu masih diam.
"You're such a di-ck," desis Sakura murka. "Kamu ngancurin hidup orang lain seakan-akan cuma kamu yang berhak ngelampiasin semua masalah kamu. Sekarang aku di sini, mau enggak mau di sini, karena kamu maksa aku di sini."
Abimanyu menoleh. "Kapan gue maksa?"
"Jangan ngomong kayak gitu, Bi, please. Seenggaknya jangan ngomong seakan-akan aku ini pela-cur kamu!"
Abimanyu memutar bola matanya sebelum dia mengeluarkan rokok, lagi dan lagi melampiaskannya lewat asap nikotin. Tapi setelah itu dia kembali bicara, mengikuti permintaan Sakura.
"Aku enggak maksa kamu," katanya.
"Kamu jelas maksa aku! Kamu ngancem aku!"
"Aku ngancem kamu karena kamu mau beberin hal yang enggak kamu ngerti ke semua orang."
__ADS_1
"Itu karena kalian gila!"
Detik berikutnya Sakura tersentak, takut pada bagaimana Abimanyu memukul meja sangat keras. Pria itu melotot murka padanya.
"Jangan berani-berani ngomongin Juwita. Udah gue bilang itu salah gue, anjing. Dan lo denger, gue enggak maksa. Lo yang terima. Gue ngelamar lo tiba-tiba, tapi daripada peduli soal kenapa, lo terima karena ngerasa gue terlalu cinta! Lo yang terima jadi itu juga salah lo!"
"...."
"Yes, I don't love you. I never EVER gonna love you. Tapi gue ngasih lo kesempatan milikin apa yang lo mau milikin. Gue!"
Sakura terbungkam.
"Gue yang lo mau, kan? Gue yang bisa lo banggain ke temen-temen lo, ke orang-orang yang pura-pura jadi temen lo, lo bilang 'hei, look at me, gue cewek polos yang berhasil naklukin badboy kampus, Abimanyu'. Gue kasih lo hak buat banggain diri jadi stop ngomong seakan-akan lo cuma korban!"
Sakura menatapnya berkaca-kaca. "Aku sayang sama kamu, Bi. Aku sayang sama kamu."
Sebelum Sakura membalas, Abimanyu beranjak dari kursinya, menunduk pada gadis itu.
"Lo enggak pantes dapet lebih dari itu. Itu udah kebanyakan. Sekarang kalo lo masih bacotin soal itu, gue serius bakal bikin lo diem. Lo ngerti, Sayang?"
"...."
"Lo ngerti? Jawab karena gue lagi emosi."
Air mata jatuh di pipi Sakura saat ia mengangguk tanpa suara.
__ADS_1
Setelah itu Abimanyu pergi, meninggalkan apartemen tanpa peduli bagaimana perasaan Sakura. Entah apa yang mau dia lakukan tapi Sakura tahu jika ia tahu maka tangisannya tidak akan berhenti berhari-hari kedepan.
*
Abimanyu baru akan mengeluarkan mobil Sakura dari parkiran saat ponselnya bergetar. Dikeluarkan benda itu dari sakunya, terkejut melihat nama Cetta di sana.
Adiknya adalah orang terakhir yang mau Abimanyu ajak bicara sekarang, tapi anak ini pasti menelepon karena sesuatu.
"Halo?" Abimanyu menjawab sambil berpura-pura seakan tidak masalah di antara mereka.
"Abang, ini Lila."
Ekspresi Abimanyu yang dingin seketika berubah lembut bahkan jika Lila tak melihatnya. "Hei, Sayang. Wassup?"
"I'm good," jawab Lila.
"Yah, good."
"Abang, Abang Banyu larang Lila telfon Abang tapi Yuni nangis terus. Digendong Abang Banyu juga nangis. Kata Nenek katanya Yuni kangen Ibu, tapi Papa bilang jangan ganggu Ibu dulu," celoteh anak itu.
"Ohya? Kasih HP-nya ke Yunia coba."
Lila tampaknya bergegas pergi memberikan handphone itu ke Yunia dan Abimanyu dapat mendengar suara isak kecil khas adiknya.
"Yunia," panggil Abimanyu karena anak itu cuma diam. "Yunia, mau Abang ke sana? Abang jemput, Dek?"
__ADS_1
"Abang." Suara panggilan disela tangis itu sudah cukup membuat Abimanyu segera bertolak ke rumah ibunya Juwita.
*