Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
104. Kejutan Lagi


__ADS_3

"Saya harus mastiin kalau semua yang terlibat dikasih hukuman," ucap Adji sesaat setelah mereka meninggalkan Ajeng. "Kamu bisa jalan-jalan kalau mau. Aman di sini."


Juwita mengangguk, membiarkan Adji pergi mengurus apa yang menurut dia harus diselesaikan.


Buat Juwita sih berhadapan dengan Ajeng sudah cukup. Memberi Adji kesempatan menyelesaikan apa yang terjadi pada keluarganya menurut Juwita tidak berarti jadi beban.


Memang itu tugas Adji sebagai kepala keluarga.


Juwita berkeliling melihat-lihat, kesana-kemari sampai akhirnya capek sendiri, duduk di taman depan rumah yang kalau dilihat itu semacam rumah santainya para lansia.


Suasananya asri, Juwita suka. Kayaknya rumah pun harus lebih banyak ditumbuhi rerumputan dan taman biar Juwita tidak ceoat stres.


"Kamu ngapain?"


Tak terasa, Adji sudah kembali. Ikut duduk di sampingnya, tepat saat matahari terlihat akan terbenam dari Barat.


Juwita membaringkan kepalanya ke bahu Adji, bersandar nyaman di sana. Apalagi waktu Adji juga merangkulnya.


"Saya punya pertanyaan buat kamu."


"Hm?" Juwita mendongak. "Apa?"


"Kamu enggak terganggu sama sekali soal Ajeng?" tanya Adji, yang diluar dugaan ternyata memikirkan hal semacam itu. "Saya ngerasa kamu enggak cemburu sama sekali, enggak peduli juga."


"Kamu mau aku cemburu?"


"Enggak, sih. Saya lebih suka kepercayaan." Adji menepuk-nepuk kepalanya lembut. "Maksud saya, normalnya orang terganggu. Biasanya. Dia selingkuhan saya, saya pernah punya hubungan sama dia, apalagi sampe dia nyindir-nyindir hubungan seksual kami. Kamu keliatan enggak marah."


Buat apa?


Juwita bukan tidak bisa cemburu pada sesuatu, yah. Tentu saja ia bakal cemburu kalau misal saja Adji jalan dengan seorang wanita terus dia bilang wanita itu cuma teman, rekan kerja, atau yang klasik, sekretarisnya.


Tapi Ajeng ... itu kan bekas, yah?


Juwita punya banyak teman laki-laki dulu, jadi Juwita sering dengar pendapat mereka.

__ADS_1


Laki-laki itu selingkuh dengan nafsu, bukan cinta. Mereka suka semua perempuan cantik sekalipun itu pelacur atau bintang video porrno. Tapi, mereka enggak mau memberi hati buat mereka, menganggap mereka spesial apalagi sampai mempertaruhkan sesuatu buat mereka.


Jadi Juwita tahu kalau Adji nafsu pada Ajeng pun, Adji enggak bakal sudi memberi hidupnya buat Ajeng.


Terus buat apa gitu Juwita cemburu?


"Orang itu enggak bisa diubah atau dipaksa berubah, Mas." Juwita mengusap-usap lengan Adji sebagai balasan usapan di kepalanya. "Dia cuma bisa berubah kalau dia mau berubah."


"...."


"Mbak Melisa enggak pernah nyuruh kamu berenti selingkuh kayaknya. Hampir enggak ada juga yang tau kamu pernah selingkuh. Selingkuhan kamu juga masih terobsesi sama kamu, ya kamu bebas-bebas aja ngapain."


Tapi ternyata kan tidak.


Adji menutup kesempatan itu dari dirinya sendiri, berusaha berubah buat dirinya sendiri, berusaha jadi orang yang lebih baik.


Jadi yah, tidak ada gunanya juga kan Juwita mengungkit-ungkit?


"Semua orang punya masa lalu buruk dan semua orang punya kesempatan buat berubah." Juwita menepuk-nepuk lengan Adji. "Yang dinilai kan bukan masa lalu, tapi gimana dia keluar dari masa lalunya."


Begitu merasa sudah waktunya mereka pulang, Adji beranjak. Mengulurkan tangan pada istrinya meskipun sebenarnya tak butuh bantuan untuk bangun.


"Mas."


"Iya, Sayang?"


Cengiran Juwita muncul cuma karena jawaban sederhana begitu.


Memang tuh mental Juwita sebenarnya juga murahan. Disogok begitu doang dia senyum.


"Gak jadi."


"Loh?"


Juwita mau bilang kalau dalam keadaan apa pun Adji, masalah apa pun yang perlu dihadapi, Adji harus tahu bahwa Juwita memutuskan buat ada sebagai pendamping.

__ADS_1


Juwita tidak akan pernah egois menambah-nambah masalah Adji, apalagi buat urusan sepele tentang perasaannya saja.


Cuma, suasana jadi enggak bagus gara-gara Adji.


Sudahlah.


"Ngomong apa kamu? Ayo bilang dong."


Juwita pura-pura ngaca ke spion mobil. "Aku keknya mesti ke salon biar tambah cantik."


Perkataan itu membuat Adji tertawa kecil. Mencubit pipi Juwita sebagaimana dia sering mencubit pipi Cetta.


"Sini masuk." Adji membuka pintu mobil, lalu mendorong Juwita masuk.


"Heh! Kasar yah kamu!"


"Spontan. Saya mau buru-buru pulang."


"Ngapain?"


"Ada, deh."


Juwita mencibir sementara Adji hanya tertawa samar. Saat akan ikut masuk, ponsel Adji tiba-tiba berdenting.


"Banyak banget HP kamu, Mas." Juwita berkomentar karena Adji mengeluarkan empat total HP dari berbagai sudut kantongnya.


"Ini tiga buat kerja." Adji mengambil HP android-nya di antara banyak jenis HP itu. "Ini HP khusus keluarga. Biar enggak ribet bedainnya."


Juwita merasa lebih ribet Adji mencari mana HP-nya yang untuk A, B, C, D deh.


"Siapa, Mas?"


Karena jaraknya cukup dekat, Juwita bisa mengintip Adji buka WA. Ada chat masuk dari Siska, kalau enggak salah dia anaknya Tante Sarah.


Ketika Adji membuka chat perempuan itu, kelopak mata Juwita seketika melebar.

__ADS_1


*


__ADS_2