Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
133. Kejutan Perceraian


__ADS_3

Tahu dirinya hamil ketika akan bercerai itu sakitnya nusuk ke tulang. Karena Juwita jadi bingung bagian mana dari hatinya yang mesti bahagia, dan bagian mana yang mesti bersedih.


Apalagi sejak keluar dari rumah Adji, cuma sekali itu saja dia menelepon Juwita, bicara soal perceraian yang sudah diurus. Tidak pernah lagi.


Makanya Juwita juga susah memberitahu Adji.


Bagaimana Juwita mau bilang kalau Adji menelepon untuk bertanya kabar saja tidak pernah.


Mungkin buat Adji sekarang kepercayaan pada Juwita itu sudah tidak bisa dibangun. Juwita pulang atas keinginannya sendiri, jadi Adji tidak usah repot-repot memaksa Juwita kembali.


Biarkan saja Juwita pergi, karena yang menyesal pasti Juwita sendiri—kayaknya begitu, yang dia pikirkan.


Dan memang itu masuk akal.


"Lo rehat dululah, Wi. Enggak usah maksa kerja." Bima menasehatinya waktu Juwita berkutat di dapur, bikin kue untuk dijual di pasar.


Ibu membuka toko sembako, tapi kadang-kadang Juwita membuat kue untuk dijual pula di toko Ibu, dan cukup diminati. Karena Ibu melarang Juwita ke pasar, jadi Juwita di rumah memutuskan buat kue saja untuk dijual.


Bagi Juwita, ia sedang mengalihkan pikiran. Tapi ternyata sambil kerja, Juwita menangis.


"Gue enggak ngira cerai tuh kayak gini, Mas." Juwita curhat sambil terus menguleni kuenya. "Gue enggak kira bakal sakit banget."


"Iya. Udah sana ke kamar aja tidur."


Mungkin karena Juwita masih muda yah, dan tidak pernah berpikir mau menikah jadi tidak pula sibuk pada cinta-cintaan, jadi ada di pikiran Juwita bahwa cerai itu gampang.


Semudah kalimat 'kita putus aja yah' terus jadi teman. Karena di sudut pandang Juwita, itu keliatannya sama aja. Sama-sama berpisah, walaupun statusnya beda.


Tapi ternyata tidak.


Rasanya langit terbalik jadi tanah, tanah terbalik jadi langit. Padahal kalau dipikir-pikir, ya hubungan Juwita dan Adji baru berlangsung sekian bulan.


Apa yang Juwita harap dari hubungan pendek macam itu? Bahkan kalau ada cinta, itu masih bukan cinta sedalam Adji mencintai Melisa, sampai-sampai dia masih sering memandangi fotonya ketika malam.


Tapi Juwita tidak tahu bagaimana cara berpikir begitu lagi, berpikir bahwa itu mudah, gampang, bukan masalah besar. Karena sekarang rasanya ulu hati Juwita diaduk-aduk.


Merasanya jari kakinya bergerak saja Juwita nyesek.

__ADS_1


Apalagi waktu akhirnya minggu datang, dan Juwita ingat bahwa hari ini adalah hari di mana semua persiapan perceraian akan dilakukan.


Hari ini juga Juwita bakal bilang ke Adji kalau ia hamil.


Diam-diam berharap kalau semuanya batal, tapi juga berusaha tahu diri kalau memang ini keputusannya sendiri. Mau tak mau, Juwita harus terima.


Sesuai perjanjian, jam setengah tiga pagi, menjelang subuh Juwita sudah berada di depan hotel.


Ia pergi sendirian, karena Bima dan Yuli hari ini menginap di tempat lain, di rumah keluarganya Yuli.


Juwita pelan-pelan melangkah masuk, melewati lobi menuju meja resepsionis. Kata Adji, Juwita bisa bertanya harus ke kamar mana dirinya pergi.


"Pagi, Mbak." Juwita menyapa singkat, tidak tersenyum. "Kamar atas nama Adji Wibowo?"


"Dengan Bu Juwita Padmavati?" balas resepsionis ramah.


"Iya."


"Baik, Bu. Silakan ke sini."


Ini hotel mewah—Juwita tidak tahu ini bintang berapa—tapi intinya hotel mewah terkenal. Juwita belum pernah masuk hotel mewah kecuali ke restoran, jadi ia tak tahu kalau tamu hotel itu sampai dituntun ke lift.


"Maaf, Bu. Tolong pakai ini dulu."


Mata Juwita malah tiba-tiba ditutup dengan kain tebal.


Tentu saja Juwita bingung, dan cemas mengingat hal-hal buruk yang kemarin ia alami karena Ajeng.


Tolong jangan bilang ada Ajeng kedua lagi. Satu Ajeng saja Juwita sudah kapok, apalagi jika bertambah dua.


"Mbak, saya enggak mau." Juwita berusaha melepaskan, tapi tangannya ditahan lembut.


"Sebentar aja ya, Bu. Ini permintaan Pak Adji."


Adji? Dia mau membuat kejutan perceraian?


Juwita tahu selera keluarga Adji itu luar biasa tidak masuk akal, tapi bukankah ini agak terlalu tidak masuk akal? Mana ada orang membuat kejutan buat bercerai.

__ADS_1


Meski begitu karena nama Adji keluar, Juwita sedikit lebih tenang. Hanya merasa sedih.


Ia dituntun keluar dari lift, entah pergi ke mana.


"Mbak?"


Tangan Juwita berusaha meraih sesuatu, mulai pusing karena kegelapan. Tapi mendadak terdengar suara alunan musik, denting piano lembut yang menggugah.


Penutup mata Juwita dilepaskan dari belakang, memberinya sebuah pemandangan kolam renang hotel dipenuhi kelopak bunga berbagai warna yang di atasnya terdapat tulisan : Dear Our Best Friend, Juwita Padmavati.


Tatapan Juwita beralih dari kolam renang ke sisi kolam, di mana Banyu duduk memainkan piano dengan lihainya.


Ketika Juwita masih berusaha mencerna, tiba-tiba lampu menyorit ke arah lain, di mana Abimanyu datang bersama sebuket bunga putih dan pink di tangannya.


"Abi?"


Abimanyu menyerahkan bunga itu dengan ekspresi kaku. Kentara sekali dia dipaksa melakukannya.


"Juwita, gue mau—"


Ucapan Abimanyu tidak dapat selesai karena sebuah teriakan cempreng seseorang.


"Kakak!" Cetta muncul, berlari mendekat dengan kotak transparan di tangannya yang dia junjung di atas kepala. "Cetta punya hadiah buat Kakak."


"Tunggu, ini apa—"


"Cek-cek." Dari sudut lain, suara Bima terdengar.


Sambil memegang mic, pria itu pun bicara. "Diharapkan untuk yang mau dikasih kejutan kagetnya harus lebih heboh dikit karena kasian yang udah bikin kejutan."


"Cetta larinya kecepetan!" teriak Banyu jengkel. "Abi dulu ngomong baru kamu, bocah!"


"Tapi Kakak udah pegang bunganya!"


"Abi harusnya sambil jalan sambil ngomong!" teriak Mama yang ternyata ada juga.


Abimanyu membuang muka. "Norak."

__ADS_1


Pada akhirnya Juwita malah berekspresi 😑.


*


__ADS_2