
balas dendam pada banyu
"Kenapa jadi kita yang jajan di luar kayak gini?" Banyu mendumel kesal sambil menggigit kasar hamburger besar di tangannya. "Papa kenapa dari kemarin belain dia terus, sih?"
"Lo kurang kreatif." Abimanyu menyahut bosan. "Ngisengin dia malah depan Papa, pake Cetta pula."
"Ya terus gimana? Biasanya juga gitu."
"Itu kalo ngisengin orang luar, bego. Dia kan istrinya Papa. Cetta aja langsung suka."
Yah, walau Cetta nampaknya mengira Juwita itu pengasuh pengganti.
Dari dulu Cetta memang bukan anak yang rewel. Dia kadang bisa gila sampai teriak-teriak tengah malam, namun urusan dekat dengan orang, dia malah ahlinya.
Kata Mama dan Papa, yang paling susah diurus itu Banyu. Ogah ikut siapa pun kecuali Mama atau Papa. Bahkan Banyu tidak suka digendong Nenek. Sementara Cetta, mungkin penculik pun akan dia ikuti.
"Kalo Papa punya anak dari Juwita, berarti kita punya adek baru?"
Abimanyu mendelik. "Kecepetan mikir lo, goblok."
"Ya siapa tau."
"Lo jangan ngisengin Juwita dulu."
"Kenapa?"
__ADS_1
Karena Abimanyu mau memberinya pelajaran sendiri.
...*...
"Nah, sayangnya Kakak." Juwita merapikan pakaian Cetta baik-baik. Memastikan rambut dia rapi, wangi, bersih, dan tentunya segar. "Anak baik, yah? Cetta baik, yah?"
"Iya."
Juwita meletakkan toples ke tangan Cetta. "Kalau anak baik itu harus berbagi. Harus peduli sesama dan suka ngasih sesuatu yang kita punya. Sekarang Cetta kasih ini ke Abang Banyu. Oke?"
"Oke."
Lalu anak itu berlari, membawa toples yang Juwita berikan padanya untuk Banyu di dalam rumah.
Juwita berkacak pinggang, tertawa puas. Apalagi waktu mendengar suara Banyu berteriak, dan Cetta tertawa keras.
Siapa suruh selalu menyuruh Cetta usil pada Juwita. Sekarang rasakan!
"Lo yang nyuruh Cetta, yah?!"
Juwita memeluk Cetta dan bermuka penuh ejekan. "Loh, loh, anakku ini takut gurita, yah? Ih, lucu tauk. Nih, nih."
Toples kokoh itu tidak pecah bahkan saat jatuh, karena bukan terbuat dari kaca. Juwita mengangkat toples berisi gurita ke depan Banyu, membuat anak itu langsung berlari menghindar.
"Olololo, halo, Banyu. Makanya jangan suka usil. Sini, sini, kenalan sama Kakak Gurita dulu."
"Heh, sint*ng! Jauh-jauh enggak lo!"
Juwita mengangkat dagu. "Ayo bilang lagi. Kulempar gurita enggak ada toplesnya."
__ADS_1
Anak itu langsung bungkam.
Juwita yang merasa menang langsung menunjuk dia penuh kemenangan. "Sekarang denger, bocah sontoloyo! Sekali aja kamu bikin ulah, kumasukin gurita ke mulutmu pas tidur! Bersyukur banget kamu tidurnya kayak kebo."
"Cih."
Abimanyu muncul dari lantai dua dengan aroma segar khas baru mandi. "Dasar bocah," ejek dia pada Juwita.
"Kamu yang bocah."
Dia tersenyum remeh. "Gue sih emang masih sekolah, masih kehitung bocah. Situ yang udah nikah kok masih bocah? Malu-maluin."
"Heh!"
"Kakak, Cetta mau pegang gurita."
Juwita menyerahkan gurita ke tangan Cetta tapi melotot pada Abimanyu.
Sepertinya dia berani mengejek karena Adji tidak ada. Pria itu hanya mengantar Cetta dan Juwita ke depan rumah, lalu pamit untuk ke rumah Mbak Uni menyelesaikan persoalan yang tertunda.
"Ohya, Mama Papan Tripleks." Abimanyu berdiri di depannya, menatap Juwita dari atas mentang-mentang dia tinggi. "Jangan songong banget Cetta suka sama lo, yah. Soalnya dia emang orangnya moody-an."
Juwita balas tersenyum remeh. "Oya oya, anakku yang kalah ikut turnamen. Jangan nangis kalo Papamu aku rebut, yah."
Alis dia langsung menukik.
Tapi Juwita cuma menjulurkan lidah, pergi menggendong Cetta naik.
...*...
__ADS_1