Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
105. Mama Tiri Tidak Becus


__ADS_3

Akh, brengsekk.


Kalau dipikir ulang, Ajeng itu kan tidak tolol. Mana mungkin orang tolol bisa mengacaukan Adji sampai membuatnya harus keluar uang banyak membayar berbagai orang.


Tapi Juwita tidak menyangka Ajeng akan memakai cara ini.


Tidak, harusnya Juwita memikirkan kalau Ajeng menepikan cara ini, yang dengan kata lain bisa dia pakai kapan dia merasa harus memakainya.


"Mas."


Ekspresi Adji gelap. Gambar di handphone-nya adalah Abimanyu memegang botol minuman keras, bermuka teler yang jelas-jelas menunjukkan dia mabuk.


Tidak bisa ada alasan kalau Abimanyu cuma dipaksa memegang itu.


"Mas, gimana kalau—"


Tangan Adji terangkat, memberi isyarat Juwita diam.


"Jalan," perintah Adji pada supir, menggunakan nada rendah yang sepenuhnya telah berubah.


Kepercayaan adalah sesuatu yang Juwita lihat sangat Adji jaga. Karena Adji tidak pernah banyak bertanya ke anak-anaknya, baik Abimanyu atau Banyu meskipun mereka pulang terlambat.


Adji bilang kalau Abimanyu terlambat, itu pasti karena voli. Adji bilang kalau Banyu terlambat, itu pasti karena dia mengobrol sesuatu dengan temannya mengenai penelitian ilmiah dan teknologi terbaru.


Kepercayaan Adji pada anak-anaknya besar.


Makanya Juwita benar-benar tidak mau merusak itu. Makanya Juwita berusaha keras menjaga, kalau memang di sana Abimanyu punya penjelasan.


Kini mulut Juwita diam, melihat Adji menghubungi Siska.

__ADS_1


"Itu foto kamu dapet dari mana?" tanya Adji tenang, tapi menyimpan amarah besar.


Samar-samar Juwita dengar Siksa menjawab, "Ada yang ngirimin aku. Sebenernya dari kemarin, cuma aku liat kamu kayaknya enggak ngapa-ngapain."


"Kamu ngirim begini berarti siap tanggung jawab kalau ini palsu, kan?"


"Aku udah cek sama Riski, Mas, itu foto asli. Mama juga udah liat."


Juwita menghela napas samar. Sebenarnya Juwita bukan menganggap pengaduannya Siska itu salah, cuma kayaknya niat dia mengadu juga cuma buat mengadu domba.


Pertama, buat apa sih? Kalau memang dia mau menegur, tegurnya langsung ke Abimanyu. Jika Abimanyu membantah, baru dia menegur ke Adji, bilang kalau Abimanyu tidak mau dinasehati.


Ini langsung ke Adji, kelihatannya cuma memprovokasi.


Cuma buat menambah-nambah bahan gosip keluarga nanti, terus kayaknya nanti menyerang Juwita juga.


Hah, Juwita elus dada saja. Berharap dalam hati bahwa setidaknya Abimanyu diam, jangan membantah waktu dinasehati.


Waktu sampai rumah, Juwita turun duluan. Berharap bertemu Abimanyu dulu, memberitahunya buat jangan membantah plus juga menjelaskan kalau bukan dirinya yang mengadu ke Adji.


Tapi Adji juga cepat turun.


"Abimanyu."


Suara Adji pelan, tapi semua orang menoleh karena tekanannya.


"Papa, Cetta—"


"Pikachu." Juwita harus mengamankan yang paling bocil dulu. "Sini, Sayang. Main sama Kakak."

__ADS_1


Cetta langsung datang. Memegang tangan Juwita sambil mengintip ke arah papanya. Dia nampaknya peka kalau Adji sedang marah.


Adji tidak menampar Abimanyu atau memukulnya karena kecewa. Dia cuma memanggil, lalu mengajak Abimanyu pergi ke ruangan yang tertutup, hanya untuk mereka berdua.


"Papa kenapa?" Banyu datang, langsung minta penjelasan pada Juwita.


"Tantemu, Tante Siska ngirim foto ke Adji. Waktu abangmu lagi minum."


Banyu langsung paham. "Keluarganya Papa kenapa suka banget sih bikin masalah," gumam dia kesal. "Udah selesai malah diungkit-ungkit lagi."


"Buat bahan gosip ya begitu." Juwita juga mendengkus sebal. "Kamu jangan bilang-bilang, oke? Sama Oma juga jangan. Kecuali Papamu yang bilang."


Juwita itu paling tidak suka kalau satu kesalahan dibahas ke semua orang, terus semua orang tahu dan menghakimi satu orang.


Ibaratnya seratus orang tahu, cuma satu orang sebenarnya yang menasehati sementara sembilan puluh sembilan sisanya ya cuma mau menghujat.


Dunia ini perlu dibersihkan, serius deh.


"Kakak?"


"Hm? Apa?" Juwita menarik Cetta naik, pura-pura tidak terjadi masalah. "Sini temenin aku beresin mainan kamu. Entar aku bacain buku cerita kalo mau tidur."


"Janji yah?"


"Gak."


"Kalo bohong Cetta ambilin kodok."


*

__ADS_1


__ADS_2