
Di keluarga mereka semua orang punya trauma terhadap kekerasan yang Juwita alami. Dia pernah dipukuli bahkan ditendang, lalu kepalanya dipukul batako saat bersama Adji. Tentu saja Abimanyu juga sama.
Jantungnya serasa dicekik dari dalam memikirkan Juwita. Abimanyu takut sesuatu terjadi diluar kendali hingga ia memacu motornya sangat kencang, tak peduli pada risiko ia bisa terbalik di tengah jalan saking kencang motornya.
Untungnya, Tuhan masih memberi kesempatan. Jalanan yang harusnya ditempuh empat puluh menit Abimanyu tempuh sepuluh menit, sebelum ia berhenti di parkiran minimarket.
Di dalam, Juwita yang melihat Abimanyu seketika lega. Paling tidak dia jauh lebih bisa dipercaya daripada orang asing.
Namun Juwita terkejut saat pria yang sejak tadi melihatnya itu malah tiba-tiba beranjak pergi, keluar bersamaan dengan Abimanyu turun dari motor.
Ketika Abimanyu masuk, pria itu sudah pergi bersama mobil yang menjemputnya.
"Juwita." Abimanyu meraih kedua lengannya, menatap Juwita penuh kecemasan. "Lo enggak pa-pa? Lo enggak dipukul, kan?"
Juwita terpaku menatap ke luar alih-alih Abimanyu.
Orang itu, apa dia pergi karena tahu Abimanyu datang? Kenapa? Maksudnya dia mengenali Abimanyu?
Apa Abimanyu yang menyuruhnya?
Juwita menoleh, menatap wajah Abimanyu dan merasakan sentuhan di lengannya. Dingin. Tangan dia dingin seperti Juwita. Kalau begitu dia juga takut. Kalau dia yang menyuruh orang tadi, dia tidak perlu ketakutan dan cuma perlu pura-pura peduli.
"Yang ngikutin lo mana?"
"Pergi." Juwita menunjuk ke luar. "Yang jaket hitam tadi, lewat di deket kamu."
__ADS_1
Abimanyu tertegun.
"Dia pergi persis pas kamu sampe." Juwita berusaha mengatur napasnya. "Dia tau kamu, Bi."
Kalau dia tahu Abimanyu, berarti dia bukan cuma orang mesum biasa yang tergoda pada istri orang atau pencopet yang mengincar uang. Dia tahu keluarga Juwita dan dia mungkin tahu siapa-siapa yang harus diwaspadai saat mendekati Juwita.
"Bi."
Abimanyu buru-buru menarik Juwita dalam pelukannya.
"Ayo pulang," bisik anak itu, agar setidaknya Juwita berhenti khawatir.
Walau nyatanya Abimanyu sangat khawatir.
Siapa? Kenapa dia mengincar Juwita? Selingkuhan lain Adji, kah?
Kalau begitu saingan bisnis? Itu cukup masuk akal. Karena kerenggangan hubungan mereka, Abimanyu dan Adji tidak pernah lagi bicara soal masalah di kantor. Tapi kadang-kadang dia memang bercerita tentang musuhnya di dunia kerja.
"Mulai sekarang lo jangan keluar-keluar dulu," kata Abimanyu setiba mereka di rumah. "Buat alesan apa pun, Juwita, jangan keluar."
Juwita hanya diam, tenggelam dalam pikirannya. Wanita itu takut. Jauh lebih takut saat berpikir anak-anaknya akan kena juga.
Bagaimana kalau Lila diincar saat dia pergi ke sekolah? Bagaimana kalau Nia dibawa pergi saat dia ke PAUD? Tunggu, bagaimana dengan Mbak Icha dan Mbak Sumi? Jangan bilang mereka juga disewa oleh orang berbahaya?
"Anak-anak." Juwita berlari masuk, memanggil semua anaknya berkumpul, termasuk Cetta dan Banyu.
__ADS_1
Semuanya Juwita kumpulkan di ruang bermain, namun Juwita juga memisahkan tempat untuk ia bicara dengan anak laki-lakinya.
"Kalian semua hati-hati." Juwita mengultimatum. "Pokoknya enggak boleh sendirian. Termasuk Banyu sama Abimanyu. Enggak, atau sekalian enggak usah keluar aja? Oke, kalian sekolah di rumah aja. Home schooling. Kuliah, sekolah, apa pun di rumah aja."
"Hei, relax." Abimanyu menepuk punggung Juwita yang nampaknya tidak bisa berpikir jernih gara-gara takut. "Kita enggak bakal biarin kejadian masa lalu keulang lagi. Enggak ada yang bakal kenapa-napa."
Banyu menatap mereka bingung. Kenapa tiba-tiba Juwita dan Abimanyu rukun ketika mereka berdua bahkan sudah tak saling tatap di meja makan?
"Bang, lo ngapain—"
"Juwita diikutin." Abimanyu memotong sekaligus menjelaskan. "Juwita bilang kemungkinan orangnya tau gue, soalnya pas gue jemput, dia langsung pergi."
"What?" Banyu bergegas mendekat, mengecek kalau-kalau Juwita dipukul. "Juwi, are you okay?"
Juwita menggeleng. Ketakutan memegang tangan Banyu. "Adek-adek kamu, jangan sampe ada yang kena. Jangan sampe. Kalian jangan ke mana-mana dulu, plis. Plis. Aku enggak percaya sama ART, sama sekali enggak. Cuma kalian."
"Juwita."
"Plis, plis." Juwita menangis terisak-isak. "Plis."
Terlepas dari apa pun, tolong tetaplah ada dulu. Juwita tak sanggup jika benar kejadian dulu terulang, lalu salah satu anaknya yang akan terkena.
"Kak Juwita." Cetta berdiri, datang memeluk Juwita erat.
Anak itu tidak banyak bicara tapi dia benar-benar tak ingin Juwita mengalami hal menyebalkan lagi.
__ADS_1
*