
"Nikahan anakmu tiba-tiba banget sih, Dek, kenapa? Padahal kan lebih bagus kalo persiapannya mateng."
"Iya, loh. Mendadak banget. Aku aja sampe kelimpungan mikirin kado buat Abimanyu sama istrinya."
"Kok enggak nunggu selesai kuliah dulu, sih?"
Juwita benci bersosialisasi. Soalnya kalimat mereka dan isi hati mereka luar biasa berbeda.
Bilang aja langsung, please. Emang kurang ajar tapi seenggaknya ada alesan buat enggak ngobrol. Capek aku senyam-senyum sama kalian.
Juwita cuma mendumel dalam hati sambil mempertahankan senyum Pepsodent wali pengantin.
Sudah jelas kan maksud kalimat mereka?
Mereka sedang berkata : haha, pasti calon istrinya hamil makanya buru-buru. Emang kalo ibu tiri, apalagi muda kayak kamu mana mungkin becus.
Kayaknya kalung, anting dan tas yang kemarin Juwita beli masih kurang mahal untuk dijadikan topik utama. Apa lain kali ia ke New York membeli tas paling mahal di sana untuk dirinya bisa dilihat bukan sebagai ibu tiri tidak becus?
"Juwita." Beruntung, Adji datang menyelamatkannya. "Acaranya mau dimulai."
Juwita beranjak, pindah ke kursi khusus orang tua kedua mempelai, menyaksikan dari dekat pengantin duduk menghadap penghulu.
Ketika duduk di sana, Juwita cuma bisa melihat wajah Abimanyu sambil berpikir 'pantas saja semua orang bilang ini pernikahan paksa karena hamil'.
Ekspresi Abimanyu yang ogah-ogahan seperti memberitahu semua orang bahwa dia dipaksa bertanggung jawab padahal belum siap.
*
Seluruh sesi yang dianggap sakral sudah selesai dan kini hanya tersisa pesta santai, juga sesi foto. Juwita merasa wajahnya sudah kaku karena terlalu memaksakan senyum tapi ia masih harus bersabar.
Tanpa sadar, malam malah sudah tiba. Juwita berhasil kabur dari pesta karena anak-anaknya ingin tidur, juga Cetta sudah gerah memakai jas formal sampai-sampai wajahnya terlihat mengerikan seperti Abimanyu.
Juwita menidurkan mereka berempat di kamar hotel. Lalu keluar untuk mencari Banyu, karena cuma dia yang Juwita bisa percaya menjaga anak-anak.
"Permisi, ada yang liat Banyu?"
"Kayaknya tadi ke atas, Tante. Sama temennya."
__ADS_1
"Oke, makasih."
Juwita buru-buru naik ke atas, mencari kanan-kiri anak itu karena dia tak menjawab teleponnya.
Tiba-tiba, Juwita mendengar nada dering ponsel Banyu cukup dekat. Juwita buru-buru mendekatinya ... tapi dibuat terkesiap.
"GOOD GOD!"
Banyu dan Talisa terkesiap, buru-buru memisahkan diri.
Namun itu tidak membuat Juwita lupa beberapa detik sebelumnya tangan Banyu di mana.
"Juwita."
"Kamu bohong sama aku." Juwita mengangguk mengerti detik itu juga. Dia bilang tidak punya pacar ternyata punya. "Tapi yah, kalo ada penjelasan?"
Talisa menggigit bibirnya, tersenyum malu juga merasa bersalah. "Kita pacaran, Tante. Plis jangan suruh Banyu putus sama aku. Aku tau Tante enggak suka pacar-pacaran tapi plis."
Dua kebohongan ternyata. Juwita tidak pernah bilang tidak merestui anak tirinya pacaran.
"Oke, Tante. Plis jangan disuruh putus, yah."
"Uhum."
Juwita menatap punggung gadis itu pergi sebelum mendekati Banyu. "So?"
Anak itu berjongkok, memegangi punggung kaki Juwita seperti orang India tengah meminta berkat."Maaf," kata dia tanpa rasa bersalah. "Juwita, gue cuma—"
"Kamu enggak suka sama Talisa, gitu?" tebak Juwita.
Kenapa sebenarnya dengan para lanang ini? Serius, kenapa? Pertama Abimanyu lalu sekarang Banyu juga? Tentu saja, mungkin berbeda. Abimanyu menyukai ibu tirinya yang jelas dan sangat amat jelas tidak pantas, sedangkan Banyu mungkin cuma ... melecehkan sepupunya tapi ....
Demi Tuhan, apa Juwita benar-benar harus melihat mereka berdua dalam versi ini?
"Gue enggak main lebih." Banyu kembali berdiri, mengangkat tangannya seolah dia menyerah. "Serius cuma ... cuddle dikit. Dikit doang."
Memegang dada anak gadis, SMP, cuma 'sedikit' bagi dia. Apa Juwita yang terlalu tua di sini, tidak memahami perubahan zaman? Heloo?
__ADS_1
"Jadi kamu bohong sama dia kalo aku enggak ngerestuin kalian pacaran biar kamu pacaran diem-diem terus mutusin dia kapan aja? Oke, skill kalian keturunan."
Mungkin Adji cuma sudah tobat karena dia sudah tua. Tapi Juwita harap tidak melihat Cetta melakukan hal ini juga. Demi Tuhan.
"Juwita, are you mad at me?"
"Kecewa, Banyu, bukan marah." Juwita mendekati anak itu untuk menyentuh wajahnya. "Janji satu hal sama aku. Jangan rusak siapa pun. Siapa pun."
"Sumpah. Gue sumpah demi Mama, lo, Lila, Nia, Yunia."
Setidaknya dia masih anak manis. "Aku masukin kamu ke penjara sama Abimanyu kalo kamu berani ngelanggar janji kamu."
"Yes, Mam." Banyu meraih tangannya dan mengecup itu seolah berusaha merayu Juwita berhenti marah. "Jangan nyuruh gue nikah, plis."
Jadi karena itu dia menjebak Abimanyu menikah? Karena itu mimpi buruk buat anak seusia mereka?
"Sana." Juwita memukul punggung Banyu. "Jangan live por-no depan adek kamu, Banyu, awas."
"Enggak segitunya juga kali."
"Sana!"
Banyu menyambar ponselnya dan buru-buru pergi. Dia selalu ada, tapi kalau sudah salah, anak itu sering kabur.
Ketika hanya tersisa dirinya sendiri, Juwita menekan keningnya ke dinding, mendadak ingin terisak.
Bukan. Bukan karena Banyu punya pacar diam-diam dan Juwita kecewa dia tidak jujur. Tapi ... rasanya seperti ucapan mereka semua benar.
Bahwa anak-anak Melisa menjadi diluar kontrol karena ibu tirinya Juwita.
"Mbak Melisa." Juwita menggigit bibirnya agar tak sampai sungguhan menangis.
Semua baik-baik saja. Pasti baik-baik saja.
Untuk sekarang, ia harus percaya itu.
*
__ADS_1